Sabtu, 26 Februari 2011

MISTERI PERPECAHAN BAHASA

~ Sudut Pandang Heru Emka

Misteri Perpecahan Bahasa
       Semua mungkin saja berawal dari  legenda Menara Babil yang kemudian dikaitkan dengan kepunahan bahasa tunggal, yang digunakan manusia pada waktu itu?
Dalam Kitab Injil, misalnya, dikisahkan setelah air bah raksasa menenggelamkan bumi, Raja dari Kerajaan Babilonia memerintahkan untuk membuat Menara Babil, menara yang  tertinggi di dunia, dengan puncaknya yang menembus awan.
        Menara Babil memang bisa dibangun, dengan hasil yang mencengangkan : membubung tinggi tarusan meter dari permukaan  bumi, sehingga ujungnya nyaris menyentuh awan. Keberhasilan ini membuat manusia menjadi sombong. “ Lihatlah, tak lama lagi kita bisa membangun menara yang menembus langit, sehingga kita bisa mencapai sorga,’ kata Raja Babilonia.
       Tuhan, yang tak menyukai kesombongan seperti itu, segera mengacaukan bahasa manusia. Pada waktu itu, hanya ada satu bahasa yang digunakan oleh berbagai bangsa yang ada di dunia. Sejak Tuhan marah dan mengacaukan bahasa manusia, semua mendadak tidak bisa memahami bahasa yang diucapkan satu sama lain. Akibatnya manusia jadi saling tidak mengerti ucapan sesamanya. Misalnya, seorang mandor memerintahkan, “ Ambil batu bata yang banyak.” Namun tak seorang pun tukang yang memahami apa yang diucapkan. Tukang yang satu menjawab dalam bahasa yang aneh, tukang lainnya mengatakan perkataan yang tak dipahami rekannya. Akibatnya proyek pembangunan Menara Babil terhenti. Lalu sebuah angin topan besar muncul menderu-deru, merobohkan menara sumber kesombongan itu. Terlebih lagi, sejak saat itu, umat manusia berbicara dengan berbagai bahasa yang berbeda. . 
       Sebenarnya tidak mudah untuk melacak asal usul bahasa awal yang dipergunakan oleh manusia di dunia. Hingga kini, misalnya, bahkan masih juga tak diketahui bahasa apakah yang dipergunakan oleh Adam dan Hawa. Apakah ini berarti apa yang dikisahkan dalam legenda menara babil tadi benar adanya ? Entahlah. Yang jelas, penemuan huruf (tulisan) justru lebih mudah dilacak. Tulisan yang pertama (tertua di dunia) sudah digunakan oleh bangsa Sumeria di Mesopotamia, empat ribu tahun Sebelum Masehi.
Keturunan mereka, bangsa Sumero-Babylonia, kemudian mengembangkan sistem penulisan hingga seperti yang kita gunakan sekarang ini. Termasuk skala waktu yang membagi satu jam dalam 60 menit, dan satu menit terdiri dari 60 detik.
       Perpecahan bahasa yang ada di dunia, menurut para ahli bahasa, sebenarnya bukan disebabkan oleh mintos Menara Babil. Ilmu antropologi budaya, misalnya, menjelaskan bahwa bahasa yang dipergunakan oleh setiap suku di dunia, bermula dari pengucapan dan penyebutan dari apa saja yang ada dan dikenal dari kebiasaan kehidupan sehari-hari mereka. Karena itu untuk beberapa kata dan penyebutan yang agak serupa untuk sebuah makna, misalnya night (malam) dalam bahasa Inggris atau nacht (bahasa Jerman). Namun ada juga yang sama sekali jauh berbeda, misalnya bahasa Jepangnya malam, amat berbeda dengan bahasa Prancisnya malam. Ini karena budaya kedua bangsa ini memang amat berbeda.   
        Sekarang ini saja, setidaknya ada lebih dari 2 700 bahasa yang berbeda, yang diucapkan oleh semua penduduk di dunia, disertai dengan lebih dari 7 000 dialek yang melengkapinya. Di Indonesia saja, ada 365 bahasa yang berbeda. Sedangkan di Afrika, ada 1,000 bahasa suku yang juga berbeda-beda. Tehukah teman, bahwa bahasa mandarin merupakan bahasa yang paling banyak diucapkan di dunia. Ini wajar saja, karena orang China memang terdapat di seluruh dunia. Baru disusul oleh bahasa Inggris sebagai bahasa terpopuler kedua Namun bahasa yang paling sulit dipelajari adalah bahasa Basque, yang dipergunakan oleh penduduk suku Basque yang berdiam di kawasan barat Spanyol dan di bagian barat laut Prancis.
Indonesia punya 365 jenis bahasa yang berbeda.
       Indonesia tercinta kita semua, ternyata juga punya beberapa keunikan yang tercatat dalam percaturan dunia. Tak saja karena negara ini tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia, dengan jumlah lebih dari . 216 juta jiwa. Indonesia kita juga memiliki lebih dari 300 suku bangsa, yang mengucapkan 365 bahasa yang berbeda. Di samping bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional kita, cukup banyak bahasa lain yang menjadi sarana percakapan sehari-hari oleh berbagai suku bangsa kita, seperti bahasa Aceh, bahasa Ambon, bahasa Batak, Bugis, Dayak, Halmahera, Jawa, Minahasa, Sunda, Sasak, Tetum, Toraja dan sebagainya..
      Namun, seiring dengan laju perkembangan jaman, jumlah bahasa suku yang masih dipergunakan di Indonesia semakin nenurun jumlahnya. Lembaga ilmiah dunia seperti National Geographic Society dan lembaga khusus yang meneliti bahasa-bahasa di dunia seperti the Living Tongues Institute for Endangered Language,- secara resmi menyatakan bahwa dari begitu banyak bahasa setempat yang digunakan di dunia, rata-rata satu di  antaranya menghilang setiap dua pekan. Separuh dari 700 bahasa yang unik di dunia dinyatakan telah musnah.
      Data dari Pusat Bahasa menunjukkan, dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia yang ada, sekitar 14,8 persen atau sekitar 25,775 juta jiwa menggunakan bahasa ibu (bahasa setempat). Sedangkan 18,7 persen atau sebanyak 38,6 juta jiwa, menggunakan  Indonesia. Sisanya memakai daerah dan bahasa asing untuk percakapanan sehari-hari. Menurut Bapak Sukiman, Kepala Bidang Bina Bahasa Pusat Bahasa,- masuknya bahasa asing, terutama bahasa Inggris, ke dalam berbagai ranah kehidupan di Indonesia membuat bahasa daerah perlahan-lahan memudar.
        Contohnya cukup jelas. Perhatikan saja, setiap kali ada perumahan baru, pasti perumahan itu dinamakan dengan bahasa Inggris. Begitu juga saat ada mall atau pusat perbelanjaan baru, pasti dinamakan dengan memakai bahasa Inggris. Harusnya dinamakan dengan bahasa Indonesia ya ? Agar bahasa kita jadi semakin berjaya. Syukur bila dinamakan menggunakan bahasa daerah. Menurutmu, apakah ini mungkin terjadi ?

            Heru Emka, penyair dan peminat kajian budaya. Tinggal di Semarang 




Jumat, 25 Februari 2011

MENULIS DAN MENGEMBANGKAN ELEMEN DASAR FIKSI

ELEMEN FIKSI terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana cerita. Tema dalam penulisan fiksi merupakan pengejawantahan ide. Tema itu sering diformulasikan sebagai ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi penulisan fiksi. Tema dapat menyangkut persoalan moral, agama,kehidupan sosial kemasyarakatan, politik, hukum, keluarga, cinta dan masalah kehidupan lainnya. Tema ini realisasinya dapat diwujudkan melalui banyak cara, seperti dialog antartokoh cerita, melalui konflik yang dibangun, atau melalui narasi dan komentar langsung pennulis fiksi. Dapat ditandaskan bahwa tema hakikatnya gagasan dasar dalam sebuah fiksi. Fakta cerita terdiri atas tokoh, alur, dan latar; sedangkan sarana cerita meliputi hal-hal yang dimanfaatkan oleh penulis dalam menata dan memilih detail cerita sehingga tercipta pola yang bermakna, seperti unsur judul, sudut pandang, gaya dan nada cerita.

Bagaimanakah menulis dan mengembangkan tokoh cerita? Tokoh cerita adalah mereka yang melahirkan peristiwa. Tokoh cerita itu merupakan hasil rekaan pengarang. Teknik dan cara pengarang mengembangkan tokoh cerita secara kategoris dapat dipilah ke dalam dua cara, yakni secara analitik (the direct or analytical method) dan dramatik (the indirect or dramatic method). Metode analitik merupakan cara  pengarang memperkenalkan tokoh cerita melalui pemaparan atau melukiskan watak tokoh,misalnya pengarang menyebut tokoh kreasinya dengan sebutan rendah hati, jujur, pemberani, bertanggung jawab, baik budi dan sebagainya.

Teknik penokohan dramatik dipakai oleh pengarang untuk memperkenalkan tokoh kreasinya dengan penggambaran secara tidak langsung.Dalam kaitan ini ada sepuluh macam cara pengembangan tokoh secara dramatik, yakni (1) teknik naming--pemberian nama tertentu, (2) teknik cakapan, (3) teknik pikiran tokoh atau apa yang melintas dalam pikiran tokoh, (4) teknik stream of consciousness--arus kesadaran, (5) teknik penulisan perasaan tokoh, (6) teknik perbuatan tokoh, (7) teknik sikap tokoh, (8) teknik pandangan seseorang atau beberapa orang terhadap tokoh tertentu, (9) teknik lukisan fisik,dan (10) teknik penulisan latar.

Bagaiamanakah menulis dan mengembangkan alur cerita? Alur cerita menyajikan rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjalin dalam hubungan sebab akibat. Dalam bentuknya yang sederhana,alur terdiri atas tiga bagian, yakni awal, tengah, dan akhir. Tiga bagaian global ini di dalamnya terkandung teknik menyusun alur seperti (1) situasi (pengarng milai melukiskan suatu kejadian), (2) peristiwa yang dilukiskan mulai bergerak (generating circumtances), (3) meadaan mulai memuncak (rising action), (4) peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya (climax), dan (5)  pengarang memberikan gambaran penyelesaian cerita (denouement).

Berdasarkan tekniknya, pengaluran dapat diatur dengan jalan progresif (alur maju), yakni mulai dari awal, tengah, menuju akhir  atau dapat pula alur dikembangkan dengan teknik regresif, yakni bertolak dari akhir cerita menuju ke tahap tengah dan diakhiri di bagian awl. Di antara dua teknik ini, lazimnya pengarang juga memanfaatkan teknik pengaluran flashback (sorot balik), dan aspek lain seperti kemasukakalan (plausibility), adanya kejutan (surprise), pembayangan (foreshadowing), dan keutuhan (unity).

Elemen latar terkait dengan tiga hal, yakni (1) latar tempat, (2) latar waktu, dan (3) latar peristiwa. Latar tempat terkait dengan latar fisik (physical setting), latar sosial, dan latar spiritual. Pengarang yang baik tidak sekadar menunjuk tempat dan waktu sebagai material ceritanya, melainkan menampilkan hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah, pemikiran warga masyarakatnya, gaya hidup masyarakat, keyakinan,kecurigaan, dan sebagainya.

Selamat menulis.
DAM

PEMBENTUKAN PRIBADI BERKARAKTER LEWAT PEMBELAJARAN SASTRA

1. Pengantar

Pembelajaran sastra Indonesia memiliki tujuan untuk mempertajam perasaan, penalaran, daya imajinasi, kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup pembelajar. Secara komprehensif pembelajaran sastra Indonesia dapat memberikan kontribusi positif dalam pendidikan moral, sikap, watak, budi pekerti, pengetahuan budaya, dan keterampilan berbahasa. Pembentukan pribadi berkarakter berpangkal tolak dari ranah moral, sikap, watak, dan budi pekerti. Dalam konteks ini dapat dinyatakan bahwa pembelajaran sastra dapat bersifat reseptif, produktif, atau sekaligus reseptif-produktif untuk menggali, mengenali berbagai macam nilai, serta mengungkapkannya secara tertulis. Pembelajar tidak cukup dibekali pengetahuan,sejarah sastra, dan kritik sastra melainkan juga pengalaman kreatif mencipta dan menghadirkan (menampilkan) karya sastra dalam setiap pembelajaran sastra.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam usaha pembangunan bangsa kita dewasa ini ialah pembentukan pribadi berkarakter. Dunia pendidikan berkepentingan melakukan usaha peningkatan pribadi berkarakter untuk mengambil posisi dan menempatkan presisi yang prestise di tengah karut-marut persoalan yang dihadapi negeri ini. Pentingnya pembentukan pribadi berkarakter di kalangan pembelajar didukung oleh pandangan Norman Podhoretz bahwa “sastra dapat memberi pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir seseorang mengenai hidup, mengenai baik buruk, mengenai benar salah, mengenai cara hidup sendiri serta bangsanya”. Pembelajaran puisi sebagai bagian dari sastra diyakini dapat membentuk dan memajukan pribadi yang fully functioning person, seorang pribadi yang paripurna sebagai individu, makhluk sosial dan sebagai makhluk Tuhan.

2. Model Pembelajaran Kreatif-Produktif

Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif (MPKP) mengindikasikan adanya empat prosedur, yakni (1) orientasi, (2) eksplorasi, (3) interpretasi, dan (4) re-kreasi.

Langkah pertama, orientasi, diawali dengan orientasi untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Pengajar mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, dan hasil akhir serta penilaian yang dilakukan. Pengajar dan pembelajar memiliki kesepakatan tentang hal-hal yang akan dilakukan dan dihasilkan selama proses pembelajaran berlangsung.

Langkah kedua, eksplorasi, pada tahap ini pembelajar melakukan eksplorasi terhadap masalah/konsep yang akan dikaji dengan berbagai cara seperti membaca dan menikmati secara langsung karya sastra, melakukan observasi, mencacat kesan, melakukan wawancara, menonton pertunjukan, melakukan percobaan, browsing internet. Kegiatan ini dapat dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok. Waktu untuk eksplorasi disesuaikan dengan luasnya bidang yang harus diesplorasi. Eksplorasi yang memerlukan waktu lama dilakukan diluar jam pelajaran, sedangkan eksplorasi yang singkat dilakukan di dalam pembelajaran.

Langkah ketiga, interpretasi. Dalam tahap interpretasi, hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, atau eksperimen. Interpretasi dilakukan pada kegiatan tatap muka. Pada akhir tahap interpretasi diharapkan semua pembelajar telah memahami konsep/topik/masalah yang dikaji.

Langkah keempat, re-kreasi. Pada tahap re-kreasi pembelajar ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Misalnya dalam apresiasi sastra, pembelajar dapat diminta menulis skenario drama dari novel yang sedang dikajinya, atau menulis kembali sudut pandang seorang pelaku, atau menulis puisi yang paling tepat mencerminkan satu situasi dalam novel. Re-kreasi dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Hasil re-kreasi merupakan produk kreatif dapat dipresentasikan, dipajang, atau ditindaklanjuti. Istilah re-kreasi dapat diartikan sebagai upaya ‘penciptaan kembali’. Dalam imple-mentasinya, pengajar memberikan cukup ruang bagi pembelajar untuk menulis puisi berdasarkan unsur-unsur yang terdapat di dalam puisi lain yang pernah dibacanya.

Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif pada prinsipnya dapat diimplementasikan untuk semua materi pembelajaran sastra. Dalam artikel ini ditampilkan implementasi MPKP untuk pembelajaran puisi. Setelah melewati tahap orientasi, eksplorasi, dan interpretasi (yang menggambarkan proses menggemari, menikmati, dan mereaksi), pengajar dapat merancang pembelajaran puisi dengan mengembangkan tahap re-kreasi, yakni tingkat memproduksi atau menghasilkan karya.

3. Pembentukan Pribadi Berkarakter

Pembentukan pribadi berkarakter menjadi tujuan utama pembelajaran puisi. Melalui pembelajaran yang bersifat reseptif, kreatif, dan produktif memungkinkan seluruh potensi pembelajar berkembang sesuai dengan harapan. Dalam kaitan pembentukan pribadi berkarakter, pembelajaran puisi seyogianya diarahkan pada kegiatan apresiasi pembelajar terhadap berbagai ragam dan manifestasi karya sastra. Kegiatan apresiasi sastra merupakan proses yang menggambarkan adanya empat tingkatan, yakni (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3) tingkat mereaksi, dan (4) tingkat menghasilkan. Empat tingkatan ini secara konseptual mewadahi kegiatan yang bersifat reseptif, kreatif, dan produktif untuk pembentukan pribadi pembelajar yang berkarakter.

Pertama, tingkat menggemari ditandai oleh adanya rasa tertarik pembelajar terhadap karya sastra serta berkeinginan membacanya. Pada saat membaca seseorang pembelajar mengalami pengalaman yang ada dalam sebuah karya. Ia terlibat secara intelektual, emosional, dan imajinatif dengan karya itu. Dalam peristiwa seperti itu pikiran, perasaan, dan imajinasi seseorang melakukan penjelajahan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengarang.

Kedua, dalam tingkat menikmati seorang pembelajar mulai dapat menikmati karya sastra karena pengertian telah tumbuh. Dengan mengenal, memahami, merasakan, dan mengambil makna pengalaman orang lain yang dicapai pada tingkat menggemari. Seorang pembelejar jadi bertambah pula pengalamannya sehingga dapat lebih baik menghadapi kehidupannya sendiri. Dengan membaca sastra seorang pembelajar dapat merasakan kepuasan. Kepuasan estetik namanya.

Ketiga, tingkat mereaksi ditandai oleh adanya keinginan pembelajar untuk menyatakan pendapatnya tentang karya yang telah dinikmatinya. Pada tingkat ini daya intelektual pembelajar mulai bekerja lebih giat. Seseorang pembelajar mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang makna pengalaman yang didapatnya dari karya sastra. Ia mulai bertanya mengapa penyair mengungkapkan hal itu, bagaimana implikasinya. Pembelajar pada tingkat mereaksi ini akan memperoleh pengalaman yang lebih dalam dan kenikmatan yang lebih tinggi berkat kemampuan intelektualnya. Pada tingkat mereaksi ini dapat diwujudkan melalui tulisan resensi atau berdebat dalam suatu diskusi sastra.

Keempat, tingkat produktif. Tingkat produktif dalam kegiatan apresiasi sastra ditandai oleh kemampuan menghasilkan karya sastra. Keempat tingkatan apresiasi sastra tersebut memiliki relevansi dengan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif (MPKP). MPKP diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah, maupun pada jenjang perguruan tinggi. Model kreatif dan produktif dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.” Pendekatan itu antara lain belajar aktif, kreatif, konstruktif, kolaboratif, dan kooperatif. Karakteristik penting setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan pembelajar mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.

Beberapa karakteristik yang merupakan prinsip dasar MPKP adalah pertama, keterlibatan pembelajar secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran. Kedua, pembelajar didorong untuk menemukan/ mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan melalui berbagai cara seperti observasi, diskusi, atau percobaan (melalui orientasi dan eksplorasi). Ketiga, pembelajar diberi kesempatan untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama (melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan “re-kreasi”). Keempat, pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri.

(Pokok-pokok pikiran Makalah untuk disajikan pada Seminar dan Rapat Tahunan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Indonesia Barat di Universitas Jambi, 14-15 Juli 2010)

DAYA PIKAT CERITA PENDEK

17 tahun yang lalu (Sriwijaya Post, Minggu 24 Januari 1993) saya mengajukan pertanyaan "Di manakah letak daya tarik sebuah cerita pendek?". Daya tarik sebuah cerita pendek, pertama-tama menyeruak melalui pembuka dan penutup cerpen. Ada kebiasaan di antara pembaca "kritis-kreatif", misalnya kritikus, selalu menumpukan pembacaan cerpen pada pembuka dan penutup cerpen. Cerpen akan dibaca tandas dan tuntas apabila dibuka secara menarik. Pembaca cerpen akan segera "mencampakkan" cerpen yang sedang dibaca bila paragraf pembuka cerpen tidak menarik perhatian. Pembaca akan merasa "tertipu" seandainya kalimat penutup cerpen membuat pembaca kecewa, misalnya yang diceritakan hanyalah ada di dunia mimpi atau sebaliknya, ditutup dengan pemaparan yang datar dan tidak memiliki daya kejut.

Selain terletak pada pembuka dan penutup cerpen, daya tarik sebuah cerpen juga terletak pada bobot persoalan dan gaya pemaparan persoalan itu. Persoalan dan gaya pemaparan menjadi daya tarik cerpen apabila persoalan itu unik dan disajikan secara unik pula. Cerpen hanya menyediakan ruang bagi pengarang untuk mengeplorasi satu sisi kehidupan manusia yang unik dan menarik. Sesuai dengan namanya, cerpen adalah cerita yang pendek. Sifat pendek ini tidak memberikan ruang keleluasaan bagi pengarang cerpen untuk mengungkapkan segala hal.

Cerita pendek yang baik dan menarik serta memiliki daya pikat bagi pembaca adalah cerita yang menyodorkan satu persoalan yang diwadahi lewwat pengaluran yang sesuai, lewat latar yang tepat, dan sudut pandang penceritaan yang mantap. Selain itu, cerpen akan memberikan daya tarik bagi pembaca apabila tokoh dan penokohannya tampil secara kuat dan memikat. Hal-hal yang unik dan eksotik cerita pendek bisa jadi terkait dengan kearifan lokal (local wisdom) seperti kumpulan cerpen "Kolecer & Hari Raya Hantu" (memuat 20 cerpen karya 11 cerpenis yang berasal dari berbagai latar belakang seperti Minang, Batak, Melayu, Makassar, Jawa, Sunda, Bali).

Cerpen-cerpen yang ada di dalam buku ini memenuhi kebutuhan pembaca, yakni (1) menyajikan pembuka dan penutup cerpen secara menarik, (2) mengungkapkan sesuatu yang khas di suatu daerah dengan kekuatan etnis dan sentuhan magis, (3) menggunakan model pemaparan yang menumbuhkan keinginan bagi pembaca untuk terus membaca sampai akhir, (4) menyajikan latar, alur, dan tokoh yang cukup kuat, dan (5) rata-rata cerpen yang termuat di dalam buku betul-betul cerpen yang pendek (cerpenpen). Cerpen di dalam buku ini, jauh berbeda jika dibandingkan dengan tradisi cerpen "dunia barat" yang biasa disebut Short Story, yang rata-rata pengungkapnannya relatif panjang. Cerpen di Indonesia, sepertinya disesuaikan dengan format cerpen di dalam media massa cetak berupa koran dan majalah yang ruang pemuatannya biasanya terbatas.


Jambi, 16 Juli 2010
Notes:
"Kolecer dan Hari Raya Hantu" (Selasar Pena Talenta, 2010) memuat karya Benny Arnas, Cessilia Ces, Gunawan Maryanto, Hanna Fransisca, Iwan Soekri, Khrisna Pabicara, Nenden Lilis A., Noena, Oka Rusmini, Sastri Bakry, dan Saut Poltak Tambunan.

Kamis, 24 Februari 2011

PENGANTAR MENULIS PROSA FIKSI

IDE, gagasan, ilham adalah percikan bunga kembang api. Melalui percikannya, pembaca dapat mencerap kilatan imajinasi penulsnya. Ide ini dapat diperoleh melalui pengalaman pembacaan karya orang lain,mengamati lingkungan sosial tempat tinggal, mengamati tingkah laku orang, mendengar cerita, membaca berita, dan tentu saja melalui kegiatan berpikir. Sebagai persiapan, untuk merawat ide dapat dilakukan (1) membuat daftar peristiwa, (2) menyusun daftar ide, dan (3) membuat daftar judul.

Pertama, peristiwa yang terdaftar perlu diupayakan memiliki karakteristik khas yang mengesankan, menyakitkan, mengejutkan, bernilai humanis tinggi, mencakupkepentingan umum, aneh,dan monumental. Satu peristiwa tertentu dapat memunculkan banyak ide. Ide perlu digodog, diolah, dan dimatangkan. Dalam hal mengolah ide perlu dipertimbangkan ketersediaan bahan pengembang ide, aktualitas, dan kemenarikannya bagi orang lan.

Kedua, sebuah ide biasanya terdapat di dalam kandungan pemikiran. Ibarat janin, ide ada dalam kandungan. Janin di dalam kandungan perlu dijaga kesehatannya. Artinya, ide harus dirawat dan dijaga. Pengasuhan ide dengan demikian juga merupakan pekerjaan yang patut diperhatikan. Penemuan ide, seleksi ide, pengandungan ide, pengasuhan ide, dan pematangan ide terus-menerus dilakukan oleh penulis. Istilah terkait dengan proses ini disebut proses penginternalan ide. Membuat daftar peristiwa, menyusun daftar ide, dan membuat daftar judul--misalnya perlu dilakukan sejak awal.

Bagaimana mengawali menulis yang memikat? Mengawali dan mengakhiri sebuah prosa fiksi sama-sama penting mendapatkan perhatian. Awal dan akhir prosa fiksi hendaklah berhasil merebut perhatian pembaca. Kesan pertama pembaca terutama terletak pada awal cerita, dan kesan itu akan semakin mendalam ketika penulis berhasil memukau pembacanya dengan ending cerita yang menarik. Mengawali sebuah cerita agar memikat, perlu dipertimbangkan dalam halmenyeleksi konflik, memilih konflik yang berpotensi menuju klimaks, dan memetakan kaitan antar tokoh cerita secara rasional, fungsional,dan optimal.

Jika kita memulai cerita dengan setting yang memikat, perlu kekuatan penulis dalam hal memotret tempat,membuat impresi, membuat bayangan peristiwa, melukis suasana, dan merangkainya ke dalam tautan yang memikat. Penulis patut mempertimbangkan seting tempat, waktu, dan suasana dengan bahasa yang memikat. Bahasa yang memikat paling kurang bergantung pada pilihan kataidiom, dan frase yang berbobot; kalimat yang luwes, pengolahan paragraf yang padu-padat, serta penggunaan gaya bahasa yang memikat.

Ide yang telah terdaftar, dapat membuahkan tema cerita yang akan ditulis. Tema yang dipilih itu lalu diproses dengan mempertimbangkan sudut pandang, mempertimbangkan setting cerita, mereka karakteristik tokoh, mempertimbangkan kemungkinan adanya suspensi, insiden, dan surprise saat menyusun alur cerita, serta mempertimbangkan kemungkinan memasukkan aspek ekstrinsik.

Bekal awal penulis selain memroses ide penulisan ialah mengenal komponen-komponen cerita seperti tema, tokoh dan penokohan, alur dan teknik pengaluran, latar dan teknik menghidupkan latar cerita, mengenal sudut pandang, dan mengenal aneka ragam gaya bahasa.

MENYELAMATKAN EKOLOGI SASTRA

Oleh: Dimas Arika Mihardja

EKOLOGI sastra adalah lingkungan (situasi dan kondisi) yang turut terlibat di panggung wacana. Di dunia kita, dunia kata (sastra) dihuni oleh sastrawan selaku kreator, pembaca selaku konsumen, dan pihak-pihak lain yang turut menentukan keberadaan sastra. Dalam gejolak ekonomi, politik, sosial dan budaya seburuk apapun tidak menghalangi pelahiran dan kelahiran sastra. Tidak ada pihak mana pun yang kuasa menghalangi pelahiran dan kelahiran sastra. Sastra bisa lahir di manapun dan dalam kondisi apapun sebab sejatinya sastrawan selalu bergumul dengan daya kreativitasnya untuk berkarya.

Sastra selalu dilahirkan oleh sastrawan. Kelahiran dan pelahiran sastra dari rahim sastrawan bersifat personal dan individual. Namun, ada kalanya kelahiran sastra perlu ditolong dan dibantu oleh bidan (baca: penerbit berwibawa) dan dirawat oleh seorang Bapak Bijak (baca: pengamat/kritisi). Masalahnya adalah kehadiran bidan yang siaga (penerbit yang siap melayani) dan Bapak Bijak (pengamat/kritisi) yang penuh perasaan cinta untuk merawat dan memelihara sastra semakin langka. Ini wacana yang telah lama mengemuka di panggung sastra kita. Sastra terkadang lahir sebagai yatim piatu, kurang gizi, dan kurang ASI.

Memang sastra dapat lahir, tumbuh, dan kemudian berkembang sesuai dengan dinamikanya sendiri. Sastrawan dapat ”berdarah-darah” dalam melahirkan karya sastra. Ia menyerahkan hidup dan matinya demi kemajuan sastra (karya sastra yang bernilai tinggi). Ia tak mengenal cuaca. Tak mengenal musim. Tak mengenal perubahan panca roba. Sastrawan ialah ibu kandung sastra yang selalu memelihara anak-anaknya dengan penuh perasaan bertanggung jawab, penuh cinta kasih, penuh pengabdian, dan selalu menjunjung kebenaran dan keadilan di atas segala-galanya.

Itulah sebabnya, dalam perspektif historis, kemudian kita bisa memiliki khasanah sastra Indonesia klasik, sastra Indonesia baru, dan sastra Indonesia mutakhir. Sastrawan yang baik selalu mengawal karya yang dilahirkannya hingga tumbuh menembus perjalanan waktu. Tugas utama sastrawan ialah bagaimana ia melahirkan karya sastra yang bernilai literer, best seller, dan menawarkan sesuatu yang bermakna bagi dirinya sendiri, karyanya, dan terutama demi kebaikan orang lain.

Perkembangan sastra akan tidak sehat (kurang gizi dan ASI) jika berbagai pihak terkait bersikap masa bodoh, menjauh dari entitas bernama sastra, dan tidak peduli. Pada titik inilah akar masalahnya: penyelamat sastra Indonesia  mulai langka! Lantas siapakah yang bertanggung jawab jika kondisi sastra memprihatinkan dan kurang sehat hingga perlu diselamatkan? Pertama dan utama pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan sastra ialah sastrawan. Sastrawan mestilah memiliki tanggung jawab ”moral” dalam berkarya. Sastrawan yang baik selalu berkehendak melahirkan karya sastra yang bernilai, baik lisan maupun tulisan. Pendeknya, sastrawan selalu berusaha melahirkan karya bernilai, baik bernilai bagi karyanya, pembacanya, maupun masa depan sastra. Tugas sastrawan ialah menemukan medium ungkap yang paling tepat bagi karya-karya yang dilahirkannya.

Pihak yang juga bertanggung jawab ialah pengamat, kritisi, akademisi, penerbit,  dokumentator, pustakawan, institusi kesenian dan kebudayaan. Jika ternyata ada pengamat atau kritisi terlebih dari kalangan akademisi (entah sadar atau tidak sadar) melarang mahasiswa untuk meneliti karya sastra yang dihasilkan oleh putra daerah tentulah merupakan musibah. Jika karya-karya terbaik putra daerah ini tidak pernah berkesempatan diterbitkan oleh penerbit besar (dan berwibawa), apakah serta serta kualitasnya bisa diremehkan? Jika karya-karya sastra hasil kreativitas putra-putri terbaik negeri ini ditelantarkan oleh dokumentator (seperti HB Jassin, misalnya), tidak tersusun dalam katalog pengarang di perpustakaan, dan tidak pernah dihargai oleh institusi kesenian dan kebudayaan, yang nota bene bertanggung jawab turut membina dan mengembangkan sastra, tentulah menggambarkan iklim yang tidak sehat bagi dunia sastra.

Pihak-pihak seperti penerbit, pengamat, kritisi, akademisi, perpustakaan, institusi kesenian dan kebudayaan semuanya turut bertanggung jawab menciptakan ekologi sastra yang sehat. Mereka terkait dan bertanggung jawab langsung atau tidak langsung terhadap nasib sastra. Partisipasi, pengertian, dan pengorbanan berbagai pihak terkait atas nasib sastra kita akan menjadi penyelamat kehidupan sastra di masa-masa yang akan datang. Tentu saja sesuai dengan bidang garapan masing-masing, sesuai dengan kemampuan, sesuai dengan perasaan ”tanggung jawab” masing-masing.

Selain sastrawan, yang secara otomatis selalu memperjuangkan hasil karya-karya terbaiknya, seyogyanya pihak-pihak lain yang terkait terutama dari kalangan terdidik memiliki kesadaran dan kemaauan yang baik untuk menjaga, membina, dan mengembangkan kehidupan sastra yang dinamik, demokratis, fleksibel, dan dapat dipertanggung jawabkan menurut metode berfikir ilmiah. Wacana kita saat ini ialah persoalan menyelamatkan (dan menyehatkan) ekologi sastra. Demikian,salam budaya.

PERIHAL DIKSI DALAM MENULIS PUISI


(pengantar awal bagi pencinta puisi)

Catatan: Dimas Arika Mihardja

SEGALA pembicaraan bahasa dan unsur-unsurnya dalam penulisan puisi hakikatnya terkait dengan diksi. Diksi sebagai satu unsur yang ikut membangun keberadaan puisi berarti pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan-perasaan yang bergejolak dan menggejala dalam dirinya. Peranan diksi di dalam penulisan puisi memiliki arti penting karena kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Bahkan, untuk jenis puisi imajis seperti ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, kata-kata tidak sekadar berperan sebagai sarana yang menghubugkan pembaca dengan gagasan penyair. Dalam puisi imajis, kata-kata sekaligus sebagai pendukung dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair.

Dapat dikemukakan bahwa diksi merupakan esensi penulisan puisi. Pilihan kata yang tepat dan cermat dapat mengukuhkan pengalaman penyair di dalam puisi yang ditulisnya. Pilihan kata yang tepat dan cermat memungkinkan kata-kata tidak sekedar merekat dan menempel satu sama lain, tetapi kata-kata itu dinamis dan bergerak serta memberikan kesan yang hidup. Kata-kata seperti itu tidak sekadar menjadi penanda, tetapi sekaligus menjadi dunia puitik itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menulis puisi siapapun tidak boleh meremehkan atau mengabaikan unsur diksi ini. Penulis puisi tidak boleh menafikan kosakata, bahasa kiasan, bangunan imaji dan sarana retorika.

Meskipun diksi dalam penulisan puisi memiliki arti penting, Sanusi Pane pernah mengingatkan bahwa kata-kata yang dipilih dalam penulisan puisi tak serta merta menggunakan kata-kata yang rancak (indah semata), kata-kata yang pelik hanya mengejar estetika (kata-kata yang rumit hanya mengejar keindahan menurut versi penyair dan menjadi asing di mata pembaca), penyair disarankan untuk membuang segala kata yang ciuma mempermainkan mata, hanya dibaca sepintas lalu karena kata-kata itu tidak keluar dari sukma (jiwa, batin, pikiran dan perasaan) penyair. Kita simak sebuah puisi Sanusi Pane berjudul "Sajak" berikut ini

SAJAK

O, bukannya dalam kata yang rancak
kata yang pelik kebagusan sajak,
O, pujangga,buang segala kata,
yang 'kan cuma mempermainkan mata,
dan hanya dibaca selintas lalu,
karena tak keluar dari sukmamu.

Seperti matahari mencintai bumi,
memberi sinar selama-lamanya,
tidak meminta sesuatu kembali,
harus cintamu senantiasa

(Sanusi Pane, Tonggak 1, hlm. 41)

Di akhir puisinya yang berjudul "Sajak", Sanusi Pane menambahkan bahwa puisi yang baik, pilihan kata yang tepat dan cerpat di dalam puisi, memiliki substansi seperti matahari yang setia memberikan sinarnya. Matahari itu setia dan tidak meminta imbalan. Matahari makna itu hanya dapat dipahami, dimengerti dan dihayati oleh 'kecintaan' pembaca. Apa pun diksi yang dipakai oleh penyair haruslah fungsional, komunikatif, menarik perhatian, dan memendarkan makna secara abadi.

Demikianlah, sedikit perkenalan mengenai diksi saat menulis puisi. Harapan saya, masyarakat fesbukers yang memiliki kegemaran menulis puisi dapat memilih kata (diksi) sesuai denga  keperluan ekspresi. Tidak ada seorang pun penyair yang sukses, yang mempersetankan diksi. Diksi di dalam penulisan puisi ini realisasi dan relasinya beragam. Lain kesempatan hal-hal terkait dengan diksi dan relasinya dengan bahasa kiasan, lambang/simbol/tanda, unsur kepuitisan, imajinasi, dan sarana retorika akan saya tulis tersendiri. Semoga ada manfaatnya.

Salam Kreatif,
Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, September 2010

DIKSI DAN IMAJI DALAM PUISI

KATA  di dalam puisi selain dapat dikaji dari segi-segi yang inheren dalam bahasa itu sendiri seperti aspek fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantisnya dapat juga ditinjau dari segi bagaimana kata-kata itu menunjukkan dirinya dalam hal merujuk, menyimpangi, dan mengedepankan sesuatu. Penyair selalu asyik memilih kata (diksi) di dalam puisi-puisi yang diciptakannya. Kata-kata yang dipilih itu menghasilkan kata-kata terpilih, kata-kata terseleksi, dan kata-kata yang secara akurat dapat mengungkapkan pengalaman penyairnya. Ketika melakukan pilihan kata (diksi), sesungguhnya penyair juga berurusan dengan imaji.

Pilihan kata oleh penyair yang difungsikan untuk merujuk,menyimpangi, dan mengekspresikan sesuatu terkait dengan imaji. Dengan diksi, penyair berusaha memperkongkret imaji. Imaji ini tidak lain adalah daya bayang atau kesan mental yang dapat dicerap gambarannya di alam pikir pembaca puisi. Untuk keperluan perujukan, penyair biasanya memanfaatkan alusi, yakni pemakaian kata-kata yang berasaldan menggunakan rujukan sejarah,sastra, atau mitos tertentu baik dari segi persona maupun peristiwanya. Alusi ini merupakan bagian dari simile atau metafora. Dalam puisi "Catetan 1946",misalnya ChairilAnwar menyebut tokoh Romeo dan Juliet dan pada puisi "Lagu Siul II" Chairil Anwar merujuk Ahasveros dan Eros sebagai mitos.

Penyair Sapardi Djoko Damono sebelum antologi DukaMu Abadi, banyak menggunakan alusi, misalnya puisi "Siapakah Engkau" digunakan Adam, sedangkan pada puisi "Pada Suatu Malam" dijumpai kata Yesus. Alusi yang digunakan oleh Sapardi ternyata tidak terbatas pada sejarah atau sesuatu yang dimitoskan saja, tetapi berkembang menjadi ungkapan pribadi penyairnya.

CIRI utama bahasa puisi lainnya ialah pengedepanan (foregrounding), yakni penciptaan salah satu aspek atau beberapa aspek bahasa puisi seperti metafora, repetisi,dan persajakan. Yuk, kita cicipi puisi gurih sedap yang ditulis penyair Sapardi Djoko Damono :

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA

ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa: betapa sengit
cinta Kita
cahya bagai kabut, kabut cahya; di langit

menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi yang purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna

swara burung di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahya: betapa parah
cinta Kita
mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah

Puisi ini menggambarkan sebuah percintaan,percintaan Kita, manusia dan Tuhan, percintaan yang sengit dan parah melalui alam yang cerah: "suatu pagi/ di sayap kupu-kupu, di sayap warna". Dengan contoh sebiji puisi ini kita menjadi mengerti bahwa penyair melakukan berbagai upaya untuk membuat karyanya memiliki nilai estetika: simile, metafora, perujukan dan pengedepanan. Diksi dan imaji puisi gubahan Sapardi ini layak dijadikan referensi bagi siapapun yang mulai belajar menulis puisi.

Salam kreatif

Selasa, 22 Februari 2011

PERKEMBANGAN WAWASAN ESTETIK WACANA PUISI INDONESIA

Sejarah perpuisian mencatat, puisi Indonesia modern yang pertama ditulis adalah puisi berjudul “Tanah Air” karya Mohamad Yamin, dimuat dalam Jong Sumatera No. 4, Tahun III, April 1920. Karya Mohamad Yamin itu sesungguhnya merupakan respon terhadap karya sebelumnya (Riffaterre via Teeuw, 1983:65), baik berupa tanggapan baru maupun penyambutan yang bersifat penerusan konvensi sebelumnya, tetapi sekaligus juga sering menyimpangi konvensi yang telah ada atau pun norma puisi sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa puisi tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11). Demikian juga puisi itu merupakan tegangan antara konvensi dan inovasi (Teeuw, 1983:4, 11).

Sebelum Mohamad Yamin menulis “Tanah Air” itu, di Indonesia sudah ada sastra Melayu lama, khususnya puisi Melayu lama yang ragam utamanya berupa pantun dan syair yang merupakan puisi tradisional atau konvensional. Mohamad Yamin merespon pantun dan syair ini, menyimpangi norma-norma yang tradisional atau konvensional. Akan tetapi, ia juga meneruskan sebagian konvensi puisi lama dalam puisi-puisinya. Kemudian, jejak langkah Mohamad Yamin ini diikuti oleh penyair-penyair sezamannya. Akhirnya kelompok penyair sezaman Mohamad Yamin dengan karya-karyanya itu membentuk sebuah angkatan sastra yang dikenal dengan nama Angkatan Pujangga Baru. Nantinya puisi Pujangga Baru itu akan direspon oleh penyair-penyair periode sesudahnya dengan karya-karya puisinya.

Persambungan sejarah puisi dari periode ke periode selanjutnya menunjukkan ciri-ciri tertentu sesuai dengan periodenya. Hal ini sesuai dengan pengertian sejarah sastra sendiri, yaitu studi sastra yang membicarakan perkembangan sastra dari sejak lahirnya sampai pada perkembangannya yang mutakhir (Wellek, 1968:25; Pradopo, 1988:12).  Sejarah sastra tidak lepas dari masalah periodisasi (pembabakan waktu) untuk menunjukkan perkemmbangan sastra dari periode ke periode. Periode adalah bagian waktu yang dikuasai oleh norma-norma sastra dan konvensi-konvensi sastra, yang munculnya, meluasnya, variasi, integrasi, dan lenyapnya dapat dirunut (Wellek, 1968:265).

Periodisasi Puisi Indonesia Modern
Kapankah lahirnya puisi Indonesia modern? Pada umum-nya, sampai sekarang yang dianggap sebagai tahun lahirnya sastra Indonesia modern, termasuk puisi, adalah tahun 1920. Pada tahun itu pertama kali ditulis puisi Indonesia modern oleh Mohamad Yamin berjudul “Tanah Air” kemudian disusul oleh puisi-puisi penyair lain. Pada tahun 1920-an berkembang puisi Indonesia modern dengan penyair yang terkemuka Mohamad Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi. Pada tahun 1920-an itu telah terbit kumpulan puisi Tanah Air (1922) dan Indonesia Tanah Tumpah Darahku (1929) karya Mohamad Yamin, Percikan Permenungan (1926) karya Rustam Effendi, dan Puspa Mega (1927) karya Sanusi Pane (Jassin, 1963).

Apakah yang direspon oleh Mohamad Yamin dan penyair-penyair seangkatan? Pertama, Yamin menyim-pangi konvensi penulisan puisi lama yang pada umumnya berlarik 4 pada tiap baitnya. Kedua, bahkan ini yang utama, dalam puisi karya Mohamad Yamin dipancarkan perasaan pribadi yang individual. Perasaan pribadi individual seorang penyair itu belum pernah terdapat dalam puisi lama (Teeuw, 1955:72). Dipandang dari kedua ciri itu dapat dikatakan bahwa puisi Mohamad Yamin tergolong revolusioner. Demikian juga aturan-aturan persajakan akhir puisi lama disimpangi oleh puisi Mohamad Yamin dan puisi-puisi penyair Indonesia modern seangkat-annya yang lain, seperti tampak pada puisi Rustam Effendi yang ‘revolusioner’ ini.

BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Bukan beta bijak berperi,
Pandai menggubah madahan syair,
Bukan beta budak negeri,
Mesti menurut undangan mair.

Sarat saraf saya mungkiri,
Untaian rangkaian seloka lama,
Beta buang beta singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.

Puisi ini merupakan gabungan pantun pada pula sajak akhirnya dan syair pada isinya yang meliputi keempat barisnya. Sejak itu, puisi Indonesia selalu berkembang sampai sekarang. Dalam kurun waktu 1920-an hingga kini telah berkembang ciri-ciri dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, perlulah dikemukakan periodisasi dalam sejarah puisi Indonesia modern. Berikut ini dikemukakan periodisasi sejarah puisi Indonesia dalam bentuk ikhtisar.

Periode 1920-an—1940-an (Pujangga Baru)
Pada periode 1920—1942 bermunculan penyair Indonesia modern Angkatan Pujangga Baru. Pada waktu sekarang sebagian besar puisi mereka telah diinven-tarisasikan dengan judul Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20—an hingga Tahun 40-an (Badudu, dkk., 1984:73—977). Dalam buku itu dicatat 134 penyair beserta puisi-puisi yang diciptakannya. Di antaranya yang terkenal: Amir Hamzah, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn pane, Rustam Effendi, M. Yamin, J.E. Tatengkeng, A. Hasjmy, Rivai Ali, dan Samadi. Mereka telah menerbitkan buku kumpulan puisi. Penyair lain yang terkenal ialah Asmara Hadi, M.R. Dayoh, Intojo, Or. Madank, A.M. Daeng Mijala, dan S. Yudho.

Di antara kumpulan puisi yang terkenal ialah Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu (Amir Hamzah), Madah Kelana dan Puspa Mega (Sanusi Pane), Tebaran Mega (Sutan Takdir Alisjahbana), Gamelan Jiwa (Armijn Pane), Rindu Dendam (J.E. Tatengkeng), Indonesia Tumpah Darahku (M. Yamin), Percikan Permenungan (Rustam Effendi), Senandung Hidup (Samadi), Kata Hati (Rivai Ali), dan Kisah Seorang Pengembara (A. Hasjmy).

(1)  Ciri-ciri Struktur Estetik
Tergolong puisi baru, bukan pantun dan syair lagi; ada jenis balada dan soneta, bentuknya teratur rapi;
Pilihan kata-katanya diwarnai dengan “kata-kata nan indah”, mempunyai persajakan akhir; Bahasa kiasan utama ialah perbandingan, banyak menggunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola lain;
Sebagian besar puisi empat seuntai, bentuknya simetris; Tiap-tiap barisnya terdiri atas dua periodus dan terdiri atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis); Tiap gatranya pada umumnya terdiri atas dua kata; Gaya ekspresinya beraliran romantik tampak dalam gaya pengucapan perasaan, pelukisan alam indah; Gaya puisi Pujangga Baru diafan atau polos, tidak memakai kata-kata kiasan yang bermakna ganda, kata-katanya serebral, hubungan kalimat-kalimatnya jelas.

Perlu diberi catatan bahwa ciri-ciri formal itu merupakan kelanjutan bentuk formal dan struktur puisi lama meskipun ada perubahan-perubahan sedikit, misalnya pola persajakan akhirnya yang lebih bervariasi daripada pola sajak Melayu lama yang hanya a—b—a--b dan aaaa, begitu juga dua periodus dalam tiap barisnya yang kadang juga divariasi dengan menjadikannya dua baris dari satu baris dengan masing-masing satu periodus terdiri atas dua kata. Jadi, di samping puisi Pujangga Baru menyimpangi konvensi lama seperti pantun dan syair, juga masih meneruskan sebagian konvensinya.

Pujangga Baru  mengikuti aliran romantik Gerakan 80-an dari Belanda (Jassin, 1963:29—31). Aliran romantik itu berpengaruh dalam struktur dan ragam puisi-puisinya, pemilihan objek-objek, masalah-masalah, serta muatan perasaan. Aliran romantik tampak dalam gaya pengucap-an perasaan, pelukisan alam yang indah.

(2)  Ciri Ekstrinsik/Ekstra Estetik
Masalahnya bersangkut-paut dengan kehidupan masyarakat kota, seperti masalah percintaan, masalah individu manusia, dan sebagainya; Ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mengisi puisi-puisi Pujangga Baru; Ide keagamaan menonjol; Curahan perasaan atau curahan jiwa tampak kuat: kegem-biraan, kesedihan, kekecewaan, dan sebagainya; Sifat didaktis masih tampak kuat.

2. Periode 1940-an—1950-an (Angkatan 45)
Puisi Angkatan 45 merupakan respon kepada puisi Pujangga Baru. Bila puisi Pujangga Baru beraliran romantik yang pada umumnya mengutamakan curahan perasaan, idealisme, cita-cita yang idealistis, maka puisi Angkatan 45 beraliran realisme yang mengutamakan penggambaran kehidupan secara nyata. Di dalamnya tergambar kehidupan sehari-hari yang dapat dialami secara nyata. Di samping itu, Angkatan 45 mengikuti aliran ekspresionisme dalam gaya pengucapannya (Jassin, 1985:5--30). Semua itu berpengeruh dalam gaya ekspresi struktur estetik dan pemilihan masalahnya.

Puisi-puisi Angkatan 45 dapat dipandang sebagai reaksi atau respon terhadap puisi-puisi Pujangga Baru. Puisi-puisi Angkatan 45 sering disebut puisi bebas, tidak terikat pada jumlah baris, persajakan, dan periodisasi. Di samping itu, juga tidak dipergunakan diksi kata-kata nan indah, tidak mengutamakan gaya curahan perasaan. Gayanya lebih bersifat pernyataan pikiran.

Puisi-puisi karya penyair Angkatan 45 diantologi-kan oleh H.B. Jassin dalam Gema Tanah Air (1948), Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948). Dalam Gema Tanah Air puisi-puisi penyair Angkatan 45 dibuat peringkat berdasarkan kedekatan dan penyimpangannya dari puisi-puisi Pujangga Baru. Dalam Kesu-sastraan Indonesia di Masa Jepang ada 9 penyair: Rosihan Anwar, Usmar Ismail, B.H. Lubis, Amal hamzah, Chairil Anwar, Nursjamsu, Anas Ma’ruf, Maria Amin, dan Bung Usman. Di antara mereka puisi-puisinya dimuat dalam Gema Tanah Air, kecuali B.H. Lubis, Rosihan Anwar, Maria Amin, Nursjamsu, dan Bung Usman. Pada tahun 1968, Gema Tanah Air dijadikan dua jilid dengan tambahan penyair diantaranya Siti Nuraini, Harijadi S.Hartowardojo, Toto Sudarto Bachtiar (kumpulan puisinya Etsa dan Suara), Mohamad Ali, dan P. Sengojo.

Penyair yang dianggap sebagai pelopor Angkatan 45 adalah Chairil Anwar dengan kumpulan puisinya Deru campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1951), kumpulannya bersama Asrul Sani dan Rivai Apin adalah Tiga Menguak Takdir (1950). Selain ketiga penyair itu, yang produktif di antaranya adalah Mahatmanto, Toto Sudarto bachtiar, Harijadi S. Hartowardojo, Siti Nuraini, dan Mohamad Ali. Selain itu ada Sitor Situmorang dengan kumpulan puisinya Peta Perjalanan, Dinding Waktu, dan Angin Danau.

Puisi Angkatan 45 pada umumnya mencari bahan-bahan sekitar masalah perang, masalah kemanusiaan menjadi menonjol dalam arti, orang ingin merdeka terbebas dari penjajahan, bebas dari kekejaman perang yang membuat penderitaan manusia. Sesudah selesai perang kemerdekaan, situasi menjadi berubah, orang-orang mulai memikirkan masyarakat dan keberadaan kebudayaan bangsaa. Dengan demikian, para sastrawaan pun sebagai anggota masyarakat dan bangsaa tidak terlepas dari masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Semuanya itu dituangkan ke dalam puisi-puisinya.

(1) Ciri-ciri Struktur Estetik
Puisinya puisi bebas, tidak terikat bait, jumlah baris, dan persajakan; Gaya ekspresionisme; Aliran dan gaya realisme; Pilihan kata sarana penting untuk mencerminkan pengalaman batin yang dalam dan untuk intensitas arti, mempergunakan kosa kata bahasa sehari-hari sesuai dengan aliran realisme; Bahasa kiasan yang dominan metafora dan simbolik; kata-kata, frase, kalimat-kalimat ambigu menyebabkan arti ganda; Sesuai dengan ciri (5) gaya puisinya prismatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik, hubungan baris-baris puisi dan kalimat-kalimat-nya implisit; Gaya pernyataan pikiran berkembang; dan Gaya ironi dan sinisme menonjol (Pradopo, 1984:26).
 
(2) Ciri-ciri Ekstra Estetik
Individualisme menonjol, dalam arti, kesadaran kepada keberadaan diri pribadi terpancar dengan kuat; Puisi mengekspresikan kehidupan batin/kejiwaan manusia lewat peneropongan batin sendiri; Puisi mengemukakan masalah kemanusiaan umum (humanisme universal) dengan jelas, seperti tentang kesengsaraan hidup, hak-hak asasi manusia; Masalah kemasyarakatan menonjol: dikemukakan kepincangan dalam masyarakat, seperti gambaran perbedaan yang mencolok antara golongan kaya dan miskin; Filsafat eksistensialisme mulai dikenal, lebih-lebih tampak dalam puisi-puisi sesudah tahun 1950-an (Pradopo, 1984:27); aspek-aspeknya tampak seperti paham hedonisme, absurditas kehidupan, nihilisme, dan kefanaan hidup yang membuat hidup jadi sia-sia.

3. Periode 50-an—60-an (Angkatan 66)
Periode 50-an—60-an pada dasarnya masih meneruskan konvensi Angkatan 45. Para penyair yang menulis sesudah tahun 1950 dan pertengahan 1950-an di antaranya adalah Kirdjomuljo, Subagio Sastrowardojo, W.S. Rendra, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Hartojo Andangdjaja. Para penyair yang mulai muncul dan terkenal sesudah tahun 1960 di antaranya Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Piek Ardijanto Soeprijadi, Darmanto Jatman, M. Poppy Hutagalung, Saini KM, Isma Sawitri.

Kumpulan puisi yang penting pada periode ini ialah Etsa dan Suara karya Toto Sudarto bachtiar. Toto oleh Jassin digolongkan penyair, tetapi menilik ciri-cirinya lebih dekat pada periode 1955—1960. Kumpulan puisi Ajip Rosidi: Pesta (1957), Cari Muatan (1959), dan Surat Cinta Enday Rasidin (1960). Kumpulan puisi W.S. Rendra: Balada orang-orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1964), Sajak-sajak Sepatu Tua (1970), Blues untuk Bonie (1971). Kumpulan puisi Subagio Sastrowardojo: Simponi (1957) Daerah Perbatasan (1970). Kumpulan puisi Kirdjomuljo: Romansa Perjalanan I (1951). Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono Dukamu Abadi (1968).

(1)  Ciri Struktur Estetik
Gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembang-nya puisi cerita dan balada, dengan gaya yang lebih ‘sederhana’ dibandingkan dengan puisi lirik. Gaya mantra mulai tampak; Gaya ulangan (paralelisme) mulai berkembang; Gaya puisi liris pada umumnya masih menerus-kan gaya Angkatan 45; dan Gaya slogan dan retorik makin berkembang (Pradopo, 1984:29).

(2) Ciri-ciri Ekstra Estetik
Ada gambaran suasana muram karena puisi-puisi melukiskan hidup yang penuh penderitaan; Puisi-puisi mengungkapkan masalah-masalah sosial seperti: kemiskinan, pengangguran, perbe-daan kaya dan miskin, belum adanya pemerataan kenikmatan hidup; Banyak dikemukakan cerita dan kepercayaan rakyat sebagai pokok-pokok sajak balada.

4. Periode 1970-an—1990-an
Dengan munculnya penyair-penyair baru yang berbakat pada akhir 1960-an dan wal tahun 1970-an, timbullah periode sastra, khususnya puisi, yang mempunyai corak dan ciri tersebdiri. Para penyair muda menamakan dirinya Angkatan 70 atau juga Angkatan 80 (Rampan, 1987:18—22). Pada periode 1970-an –1990-an ini terbit kumpulan-kumpulan puisi, baik karya penyair yang muncul sebelum tahun 1970 maupun sesudahnya. Penyair-penyair periode 1955—1970 masih terus menulis juga dan menerbitkan kumpulannya pada periode 1970—1990 ini. Para penyair yang tergolong periode 1955—1970 yang masih aktif dan produktif menulis puisi adalah Subagio Sastrowardojo, Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Slamet Sukirnanto, dan Darmanto Jatman.

Dengan terbitnya puisi-puisi karya penyair angkatan lama dan penyair baru yang memperkenalkan gaya baru, maka dalam periode 1970—1990 ini ada bermacam-macam ragam puisi. Para penyair baru yang muncul pada akhir tahun 1960 dan sesudah tahun 1970 adalah Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Tuti Herati, Kuntowijoyo, Sides Sudyarto DS, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Yudhistira Ardi Nugroho, F. Rahardi, Adri Darmadji Woko, Korrie Layun Rampan, Dami N. Toda, Mira Sato (Seno Gumira Adjidarma), BY Tand, Hamid Jabbar, D. Zawawi Imron, Eka Budianta, Diah hadaning, Afrizal malna, Soni farid maulana, dan Acep Zam zam Noer, serta Beni Setia. Di samping mereka masih ada puluhan, bahkan ratusan penyair mutakhir.

Ciri-ciri Struktur Estetik
Puisi bergaya mantra. Puisi ini mempergunakan sarana kepuitisan berupa ulangan kata, ulangan frase, atau ulangan baris-baris berupa paralelisme dikombinasikan dengan hiper-bola dan enumerasi untuk mendapatkan efek sebanyak-banyaknya. Di samping itu, dieksploitasi tipografi yang sugestif. Juga dipergunakan kata-kata nonsense yang secara linguistik tidak berarti, seperti satuan bunyi tak berarti, kata-kata yang diputus-putus, dibalik suku katanya secara metatesis, diulang berkali-kali salah satu suku katanya. Semuanya itu untuk mendapatkan makna baru (creating of meaning); ciri-ciri seperti itu mengingatkan pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri.

Dipergunakan kata-kata daerah secara mencolok untuk memberi warna lokal dan ekspresivitas; ciri-ciri seperti ini tampak pada puisi-puisi Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG; Mempergunakan asosiasi-asosiasi bunyi untuk mendapatkan makna baru; Puisi-puisi imajisme menggunakan teknik peng-ucapan tak langsung berupa kiasan-kiasan, gambaran angan, atau juga dipergunakan cerita kiasan (alegori dan parabel); ciri-ciri ini tampak pada puisi-puisi Geonawan Mohamad, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan lain-lain; Gaya penulisan yang prosais, ini berhubungan dengan gaya imajisme; contoh untuk ciri ini dapat dilihat pada puisi Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardojo, Rendra, dan Linus Suryadi AG; Puisi lugu mempergunakan teknik pengungkapan ide secara polos, dengan kata-kata serebral, kalimat-kalimat biasa atau polos. Pada 1970-an muncul puisi mbeling yang dipelopori oleh Remy Silado dan dalam perkembangan selanjutnya menjadi puisi lugu (Pradopo, 1984:31).

Ciri-ciri Ekstra Estetik
Puisi menggunakan kehidupan batin religius yang cenderung kepada mistik atau sufistik; Cerita, lukisan yang bersifat alegoris atau parabel sangat banyak; Puisi-puisi menuntut hak asasi manusia: kebebasan bicara, hidup merdeka, bebas dari penindasan, menuntut kehidupan yang layak, bebas dari pencemaran teknologi modern; dan Mengemukakan kritik sosial atas kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah, dan kritik atas penyelewengan-penyelewengan (Pradopo, 1984: 32).


5. Wawasan Estetik Angkatan 2000
Pergeseran wawasan estetik periode ini ditandai oleh berubahnya struktur larik dan bait. Larik dan bait dalam puisi Chairil Anwar terikat dalam kesatuan sintaksis yang memolakan suatu bait. Meskipun baitnya hanya berisi satu larik, setiap baitnya merupakan satu kesatuan korespondensi yang selesai. Larik pada puisi-puisi Sutardji calzoum Bachri merupakan kumpulan enjambemen yang menghubungkan antarsintaksis—bahkan kadang antarkata—yang kemudian terhimpun di dalam bait yang—hampir selalu—tidak selesai. Selesaian bait biasanya diakhiri oleh suatu kejutan yang memberi sugesti tertentu, baik sugesti magis maupun sugesti psikologis yang berujung pada pertanyaan, berita, harapan, atau kenngerian. Larik pada Afrizal Malna bersifat netral, karena puisi Afrizal sebenarnya tersusun dalam bait yang sesungguhnya nirbait. Puisi tidak pernah punya selesaian karena sajak dapat dibalik secara sungsang dan baitnya dibalik ke atas atau ke bawah, maknanya tidak akan berubah. Larik sama fungsinya dan kedudukannya dengan bait, karena larik itu sendiri merupakan bait. Dengan revolusi tipografi semacam ini, Afrizal mengubah arus dasar plot pikiran dan tema yang mengalir dari awal larik hingga akhir bait ke arah komunikasi kata per kata di dalam sajak.

Revolusi tipografi ini membawa pembaruan pada kedudukan kata di dalam sajak. Chairil Anwar menempatkan kata yang komunikatif dari perasan sinar wahyu, sebagaimana yang dimaksudkan William Blkake (17757—1827) tentang logos. Kata jadi terang bercahaya dan mumpuni dalam kedudukannya yang ningratis dan tanpa substitusi. Pribadi kata begitu kuat dan angker, bagaikan kharisma pahlawan. Sutardji menempatkan kata dalam alegori puitik, di mana kata difungsikan dalam wujudnya yang asli tanpa beban pemaknaan simbolik atau metaforis. Kata tidak dinobatkan menjadi agung, tetapi muncul dalam suasana dan situasi purba. Kata pada Afrizal Malna dipilih dari lingkungan sehari-hari sehingga tercipta habitat keseharian yang memun-culkan sifat kerakyatjelataan dari kataa itu sendiri. Kata-kata itu tampil dengan cerdas dan berwibawa, mencerminkan kecanggih-an sebuah dunia yang benar-benar modern. Modernisasi datang bukan dari pose luar dengan aksesori vocabuler dan hiperbolis, tetapi justru karena kesahajaannya mengangkat dirinya sendiri ke dalam kelas kualitas yang prima, tanpa dipercanggih, tetapi menjadi canggih secara alami.
Pembaruan terhadap pilihan dan kedudukan kata membawa pergeseran pada penempatan lirikus dari “aku lirik” kepada “benda-benda”. Afrizal Malna menggeser peran aku lirik kepada benda-benda yang menunjukkan bahwa muncul makna penting dari estetik aku lirik ke estetik benda-benda yang dipertaruhkan sederajat dengan kedudukan manusia. Pergeseran itu terasa membawa maknawi utuh seperti tampak dari beberapa baris yang mencerminkan kedudukan benda-benda, “lalu bapak menyusun dirinya kembali, dari body lotion, styling foam, dan pil strong of night: Indonesia raya! Sumpah Pemuda! Pembangunan! Kenapa aku membangun kamar mandi seperti itu juga, siih....” (“Kisah Cinta Tak Bersalah”). “Ada anak-anak menari, menyanyi, dalam novel yang lain. Mereka memakai tubuh ibunya sendiri. Dan menemukan Sitti dalam tradisi yang lain, antara masa lalu yang melepaskan sepatunya dalam sekolah:// Sitti, ilmu pengetahuan itu, seperti novel penuh batu, dia yang tak ada, dan semangka” (“Sitti Nurbaya Berlari-lari”).

Pemilihan Afrizal Malna kepada materi benda memper-lihatkan perbedaan yang mencolok dengan individualisme Chairil Anwar dan sifat esoterik Sutardji calzoum bachri. Biografi aku lirik pada Chairil mencerminkan pilihannya pada pemilahan terhadap habitat penyair yang menolak kehadiran habitat lainnya. Sutardji memang memasukkan benda-benda dan memfungsikan benda dalam katalogus puisi, tetapi karena sifat katanya yang bertujuan mendukung misteri atau mensugesti sifat-sifat arkhair, kata-kata itu berbeda fungsinya dalam estetik massal. Afrizal Malna dan manusia yang dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa tertentu dari interaksi massal, seperti diucapkan-nya sebagai kredo dalam Arsitektur Hujan, “Hiduplah orang-orang Lain Bersama Kita”. Dari kisan analogis “Pengantar Bersama Seorang dan Massa,” di buku itu Afrizal menunjukkan hubungan timbal balik antara “seseorang” dan “massa” dalam hubungan cerita sebuah kalung, “Saat mengenakan kalung itu, saya seperti mengenakan diri orang-orang lain pada leher saya. Saya bayangkan: Apakah melakukan sikat gigi setiap pagi dan sore, juga telah mengubah banyak hal pada tingkah laku saya. Ada identitas lain yang melapisi benda-benda di sekitar saya; seperti puisi lahir memperlihatkan adanya ikatan dan oposisi lain kemudian menyusun hubungan-hubungannya sendiri dalam ikatan ini. Walau masih sempat saya dengar di radio, berita kematian orang yang tidak saya kenal. Saya tahu kemudian saya telah berpikir bersama berbagai kejadian yang berlangsung di sekitar saya.... Dalam hubungan komunikasi seperti itu, ketika ada yang percaya bahwa dia adalah seseorang, saya segera melarikan diri ke tengah massa. Karena pada massa, saya bisa memenuhi identitas untuk tidak percaya saya hanya sebagai seseorang.”

Estetik massal ini merupakan penemuan Afrizal yang unik dalam sejarah sastra Indonesia, menunjukkan bahwa sumber keindahan itu memang berada di tengah massa. Karena itu, penyair ini menyatakan bahwa hal penting dari penciptaannya adalah menelusuri biografi teks, bukan biografi “aku lirik”. Biografi teks itu memperlihatkan perlainan dalam komunikasi verbal seperti yang dilakukan Chairil maupun Sutardji, karena Chairil dan Sutardji memilih menggunakan medium tradisional dalam sapaan wicara antarsubjek, meskipun terlepas dari imbangan manusiawi, yaitu menghidupkan benda-benda sebagai persona yang melahirkan sifat antropomorfisme.

Perubahan struktur tipografis membawa pembaru-an pada komposisi yang dibangun dalam tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi yang dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan, aku lirik, dan pikiran diaransemen didalam perfeksi yang sejajar dan objektif. Afrizal menyajikan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika Angkatan 2000 pada penciptaan aransemental, setelah ia berjuang melewati “Penyair Anwar” dan “Matahari Bachri” dalam Abad yang Berlari (1984) untuk sampai pada puisi-puisi instalatif yang kompositoris sebagaimana ditunjukkan oleh indeks dan sebagian puisi dalam Arsitektur Hujan (1995) seperti dua fragmen puisi berikut ini. “Harga cabe naik lagi, 1000 rupiah yang lalu. Berita-berita dari pemerintah jadi seragam penuh ancaman, bersama inflasi, dan tumpukan kredit bank. Siapa bermain di situ, dingin dan basah, penuh nyonya-nyonya mencukur kakinya di salon. Bicaranya seperti jam-jam tidurku yang berbusa.... (“Kesibukan Membakar Sampah”), “Jam 7 pagi aku antar tubuhku dalam kristal-kristal vitamin C, lembar-lembar fotocopy: Tolong cumi kering setengah kilo; Minyak goreng satu botol; bawang putih ....Dan tidur yang tersisa pada rambut seorang ibu, tiba-tiba melempar selimut: siapa yang telah menyusun pagi jadi seperti ini? Suaranya, seperti siaran berita yang menggebrak meja” (“Orang-orang Jam 7 Pagi”).
Perkayaan angkatan ini ditandai oleh meluas dan mendalamnya materi yang digarap para penyair, sehinga melahirkan wawasan estetik baru atau memperluas wawasan estetik yang telah ada, sehingga memperlihatkan pendalaman. Perkembangan yang menarik dari angkatan ini tampak dari perluasan dan pelebatan wawasan estetik Afrizalian. Pada puisi-puisi nirbait, pelebaran itu mencapai esensinyaa sebagai buah estetik baru pada Dorothea Rosa Herliany. Dengan pola terusan atau sungsang, puisi-puisi penyair ini mencapai kematangan dan klasisitas lewat bentukan nirbait yang konsisten, bahkan kadang tanpa enjambemen, sehingga mencirikan sebuah penemuan yang mempribadi. Dengan model kaleidoskop yang gerai puisi-puisi nirbait penyair ini meninggalkan benda-benda untuk memasuki peristiwa-peristiwa yang rawan, “kota pun terbakar gairah pertempuran, hutan-hitan/yang kabur, dan tari-tarian purba/cinta masih bersarang dalam jiwa yang meronta/dalam pintu luka yang menganga. Perihnya terangkum/dalam vas bunga, di atas meja taman/lalu cemas apa lagi yang akan datang....” (“Konser Matahari”).

Pergeseran estetik aku lirik kepada benda-benda diperluas oleh Agus R. Sarjono dengan menempatkan benda sebagai persona yang mandiri di dalam pemanusiaannya sebagai pribadi yang memiliki eksistensi sebagai manusia. Jika pada Afrizal Malna benda-benda berada pada posisi komunikan yang disuruh oleh komunikator untuk berbicara, maka pada puisi-puisi Agus benda-benda aitu menduduki posisi merdeka dan menyandang sifat antropomorfisme, sehingga masing-masing benda mampu hidup dan berkpmunikasi seperti layaknya manusia. Dalam sejumlah puisinya, misalnya dalam “Rendezvous” (bagian dari Kenduri Air Mata) memperlihatkan pengembangan estetik pemanusiaan benda-benda. “Kamu cantik, ucap padang golf pada bunga/rumput yang berayun diasuh angin. Bunga rumput/itu pun tertunduk. Dikenangkannya padian/sayur-mayur dan lenguh kerbau yang bergegas/pergi sebelum tiba pagi....” (“Rendezvous”), “Maukah kaudengar kisahku, rengek Boldozer/sambil mencekal jalur-jalur pematang dan jemari sungai. Tidak/meskipun kami ingin. Kami sibuk. Lihatlah/ traktor-traktor dan surat keputusan dan pidato pengarahan/ telah tiba. Kami mesti berangkat sebelum terlambat/dan air mata menjadi jerat....” (“Pada Suatu Hari”).

Perkuatan dari pengucapan-pengucapan yang cerdas dan cerkas menunjukkan persambungan estetik referensial yang mempertaruhkan pengungkapan budaya lokal dan mancanegara untuk mencapai kepribadian keakuan puisi-puisi yang mandiri. Konvensi Chairil Anwar yang diperluas Goenawan Mohamad dan kemudian berkembang dari proses pembelajaran restoratif yang dinamik menghasilkan wacana-wacana kesemestaan yang membe-baskan Barat dan Timur dari batas-batas geografis dan dunia pemikiran. Para penyair angkatan ini tanpa canggung mempertemukan berbagai unsur vital dari berbagai realitas yang menjadi trend pemikiran abad manusia zaman kita dan menyatakannya sambil dengan pengucapan estetik yang mencirikan penemuan zaman-nya. Dalam puisi-puisi itu, aku lirik bergeser menjadi aku massal yang mencerminkan peniadaan keakuan, sehingga puisi menjadi netral dalam pemberian tanda dan menyikapi penandaan dari lirik. Sementara keakuan yang masih dipertahankan mencerminkan peleburan dari elan vital individu kepada elan vital massa, benda, atau suatu idea. Puisi-puisi Arif B. Prasetyo, Cecep Syamsul Hari, Remmy Novaris D.M., Beni R. Budiman, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Dimas Arika Mihardja, Nenden Lilis A., Omi Intan naomi, Medy Lukito, Wowok Hesti Prabowo, Sitok Srengenge, Kusprihyanto Namma, Aslan A. Abidin, dan lain-lain menunjukkan sifat-sifat untuk pengucapan estetik yang demikian. Pergeseran dari aku lirik ke pengucapan epika memperlihatkan kuatnya arus kisah dari sifat lirik murni. Sajak-sajak Joko Pinurbo dan H.U. Mardiluhung menunjukkan penemuan estetika yang demikian, di mana tokoh dan peristiwa saling memperkuat dan memperebut-kan posisi di dalam dramatisasi tragedi.

Pergeseran atavisme kepada pengucapan esoterik yang mencirikan warna lokal dieksploitasi secara menarik dengan inovasi baru sehingga mampu meniadakan sifat keasingan. Dengan membangun imaji-imaji tempat dan imaji-imaji budaya, serta berbagai peristiwa sakral, puisi-puisi warna lokal ini ke luar sebagai bagian estetik angkatan ini yang diucapkan dengan segar oleh Pieters Sombowadile, Iverdison Tinungki, Nurdin Supi, Putu Fajar Arcana, Tomy Tamara, I Wayan Arthawa, Tan Lioe Ie, dan lain-lain. Dalam puisi-puisi Oka Rusmini, warna lokal mencapai perluasan karena dibangun dari akar-akar tradisi yang mencerminkan kedudukan manusia di tengah alam dan budaya tempatan. Dunia esoterik tidak hadir dalam keterasingan, tetapi hadir secara meriah dan tajam karena ia tidak hanya menyajikan segi-segi eksotisme, tetapi justru menngasah kritik sosial yang mencerminkan kepedulian terhadap dunia nyata. Ia memper-lihatkan perkembalian estetika Chairil Anwar yang mem-bangun subjek atavisme di dalam rangkaian warna aku lirik, dengan memberi tambahan pada penting dan dilematis-nya kedudukan wanita berkasta tinggi di tengah masyarakat yang sepenuhnya modern.

Hubungan yang menarik dibangun oleh Gus tf dalam tataran aku lirik dalaman yang menggeser aku lirik luaran Chairil Anwar. Dalam puisi-puisi penyair ini yang muncul adalah kehidupan dalam manusia dengan menampilkan paradoks-paradoks yang tajam lewat metafora yang menguatkan kebebasan imajinasi. Jika aku lirik pada Chairil Anwar merupakan wirawan kehidupan, aku lirik dalaman puisi-puisi Gus tf merupakan pelecut, bahkan tiran yang mencermin-kan ironi bagi kehidupan dan penguasa. Dalam puisi “Mantel” ia amat jelas menunjukkan wawasan estetik aku lirik dalaman yang menunjukkan segi-segi pembaruan dari angkatan sebelumnya untuk terbentuknya angkatan sastra baru, bahwa “kutahu, kini, aku tak merantau lagi. Kata orang, rantauku/ada dalam diri. Tapi diriku, karena mantel itu, telah terkurung/seperti siput. Ingatkah kau dongeng si baju besi? Begitulah aku,/kata orang, pelan-pelan jadi tirani; walau untuk diri sendiri...”.
  
Penutup
Ikhtisar sejarah puisi Indonesia modern yang telah dikemukakan, setidak-tidaknya menunjukkan hal penting. Pertama, estetika puisi Indonesia modern selalu mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Kedua, dalam dinamika perkembangan estetika puisi Indonesia modern dari periode awal hingga perkembangan yang mutakhir tercatat tiga tonggak prestasi yang pernah digapai oleh penyair, yakni estetika Chairil Anwar, Sutardji calzoum Bachri, dan Afrizal malna beserta rombongan penyair lain yang secara umum dapat dikelompokkan ke dalam estetika mereka bertiga—tentu dengan keunikan, perge-seran, dan perkembangannya sendiri. Ketiga, sebagai sebuah ikhtisar, sejarah puisi Indonesia modern masih perlu terus digali oleh para mahasiswa sebagai bahan studi yang tidak pernah habis-habisnya. Keempat, dari ikhtisar ini mahasiswa dapat tergugah untuk lebih jauh menjelajah dengan cara mencari antologi puisi dari periode ke periode berikutnya, membaca dengan intensif, dan menemukan kebenaran sejarah dengan kerja keras dan keringat sendiri.


Rujukan
Badudu, JS. Dkk.1984. Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Jassin, H.B. 1959. Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi. Jakarta: Balai Pustaka.
Jassin, H.B. 1963. Pujangga Baru: Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Mulia.
Jassin, H.B. 1969. Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi  II. Jakarta: Balai Pustaka.
Jassin, H.B. 1969. Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang. Jakarta: Balai Pustaka.
Jassin, H.B. 1976. Beberapa Penyair di Depan Forum. Dalam Penyair Muda di Depan Forum. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Jassin, H.B. 1985. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai II. Jakarta: Gramedia.
Nugroho Notosusanto. 1953. Soal Periodisasi dalam Sastra Indonesia. Dalam Basis XII (7): 199—210.
Pradopo, R.D. 1984. Masalah Angkatan dan Penulisan Sejarah Sastra Indonesia. Makalah Seminar Temu Kritikus dan Sastrawan 1984. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Pradopo, R.D. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Penerbit Lukman.
Pradopo, R.D. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rampan, K.L. 1986. Jejak Langkah Sastra Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Rampan, K.L. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Riffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington and London: Indiana University Press.
Rosidi, A. 1969. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek, R. & Warren, A. 1868. Theory of Literature.

BAHASA KIAS DALAM PUISI

1. Pengertian Bahasa Kias
Secara tradisional, misalnya dalam wawasan Aristoteles, bahasa kias diartikan sebagai penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perban-dingan ataupun analogi semantis yang umum dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus. Perbandingan atau analogi tersebut berlaku secara proporsional, dalam arti perbandingan itu memperhatikan potensialitas kata-kata yang dipindahkan dalam meng-gambarkan citraan maupun gagasan baru. 

Pada bentuk bahasa kias Aku ini binatang jalang, misalnya, terdapat dua hal yang diperbandingkan, yakni “aku” dan “binatang jalang”. Pada perbandingan tersebut dapat ditemukan persamaan ciri semantis antara “aku” dan “binatang jalang”. Pada perbandingan ciri semantis yang umum, “aku” memiliki ciri semantis sebagai ‘makhluk’, demikian juga “binatang”. “Aku” mempunyai ciri semantis bernyawa, begitu juga “binatang”. Pada sisi lain, perbandingan itu juga merujuk pada ciri semantis yang khusus dengan yang khusus. “Aku” sebagai makhluk ‘berkesadaran’ sebagai ciri khusus manusia diperbandingkan dengan “binatang” yang secara khusus diberi ciri ‘jalang’. Perbandingan sebagai salah satu ciri umum dari bahasa kias antara lain dapat berbentuk metonimi, sinekdok, simile, ironis, dan metafora.

Bahasa kias, menurut Aminuddin (1995:234), umumnya terkait dengan (1) perbandingan atau penghu-bungan ciri dunia acuan berdasarkan tanggapan terhadap pengamatan realitas secara natural; (2) kesejajaran, hubungan secara tetap, maupun percampuran ciri dunia acuan secara tetap; (3) penggarapan medan ciri semantis kata-kata yang pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari persepsi terhadap objek yang diacu kata-kata tersebut; dan (4) dunia pengalaman maupun konteks sosial budaya pembentuknya. Sebagai fakta penggunaan bahasa, bahasa kias tidak terwujud dalam bentuk siap pakai melainkan terbentuk melalui proses kreatif pemakainya. Proses kreatif tersebut secara esensial terkait dengan kreasi dalam membentuk gagasan, menghubungkan gagasan dengan kata-kata dan kongkretum yang dicitrakannya maupun potensi citraan itu dalam menuansakan pengertian-pengertian tertentu.

Berbeda dengan penggunaan bahasa kias dalam komunikasi sehari-hari yang sudah menjadi milik umum, bahasa kias dalam wacana puisi merupakan bahasa kias yang bersifat personal. Meskipun bersifat personal, penelusuran pemahaman bahasa kias dalam wacana puisi pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan penelusuran pema-haman bahasa kias yang umum. Hal itu disebabkan oleh karena bahasa kias dalam wacana puisi tentu merupakan kreasi batiniah penyair yang berhubungan dengan penuansaan gagasan, pencitraan, pengalaman kultural, dan konteks kewacanaannya.

2. Pemilahan Bahasa Kias
Bahasa kias dapat dibedakan menjadi tiga, yakni (1) metaforik, (2) metonimik, dan (3) ironik. Pertama, kiasan metaforik, yakni kiasan yang bertumpu pada adanya kesejajaran ciri citraan antara analogon dengan sesuatu yang dianalogikan. Kedua kiasan yang metonimik, yakni kiasan yang didasarkan pada hubungan eksternal antara kata yang digantikan dengan yang menggantikan secara tetap. Kesejajaran pada perbandingan yang metaforik merujuk pada kesejajaran persepsi suatu realitas. Sedangkan hubungan eksternal yang bersifat tetap merujuk pada hubungan antara dua kata yang ditinjau dari ciri semantisnya secara asosiatif memiliki hubungan semantis secara tetap.

Dalam metafora, dua objek atau pengertian diperbandingkan secara implisit. Dalam ucapan rumahku melindungi aku bagaikan sebuah benteng, rumah dibandingkan dengan sebuah benteng. Benteng disebut pembanding sedangkan rumah unsur yang dibandingkan. Kata penghubung “bagaikan” berfungsi sebagai mata rantai antara pembanding dan apa yang dibandingkan. Dalam ucapan tersebut motif tidak disebut secara eksplisit. Kita sendiri harus mencari aspek kemiripan antara rumah dan benteng, misalnya, ‘di samping aspek perlindungan dapat juga dibayangkan aspek kokoh-kuat’. Dalam bentuk metaforis, ungkapan tersebut dapat dinyatakan dalam ungkapan “rumahku bentengku” atau cukup “bentengku” saja.

Di dalam wacana puisi, metafora-metafora sering berbelit-belit. Ini antara lain disebabkan karena apa yang dibandingkan harus disimpulkan dari konteks. Misalnya ungkapan Lorong-lorong tidur yang tuli mengandung metafora ganda. Metafora ganda ini diuraikan dulu menjadi dua, yaitu ‘lorong tidur’ dan ‘lorong tuli’. Kemudian kita meneliti kata-kata itu menurut arti harfiah dan kiasan. Mengingat konteksnya, maka ‘lorong tuli’ rupanya dipakai menurut arti kiasan, sedangkan ‘tidur’ menurut arti harfiah. Kalau kita tinjau ‘lorong tuli’ tersendiri, maka ‘lorong’ dapat dianggap sebagai unsur harfiah, sedangkan ‘tuli’ sebagai sebuah metafora. Kemudian kita berusaha menetapkan apa yang diperbandingkan, artinya mencari kata-kata lain sebagai pengganti ‘tuli’ dan ‘lorong’ sehingga terjadi suatu ungkapan yang menurut arti harfiah mempunyai arti. ‘Lorong tuli’ mungkin bisa ditafsirkan sebagai lorong-lorong yang tertutup bagi kenyataan, seperti orang-orang tuli juga terpisah dari lingkungannya. ‘Lorong tidur’ dapat diartikan sebagai kawasan yang kita lintasi waktu tidur (bermimpi). Jadi apa yang dibandingkan ialah ‘bagian mimpi yang terpisah dari kenyataan’.
Pembedaan metafora dengan metonimi dalam beberapa kasus dapat ditentukan berdasarkan ciri hubungannya dengan kata yang diperbandingkan atau digantikan. Pada hubungan yang metaforis penentuannya dapat dilakukan dengan melihat karakteristik hubungan kemungkinan kata yang diperbandingkan secara paradig-matis. Pernyataan Berkakuan kapal di pelabuhan, misalnya, mengandaikan “kapal” secara paradigmatis dapat digantikan dengan kata “tubuh”, pernyataan itu dapat dikomposisikan menjadi “Berkakuan tubuh di pelabuhan”. Pernyataan yang metonimik hanya merujuk pada hubungan secara sintagmatis, dalam arti antara kata yang menggantikan itu tidak dapat membentuk hubungan secara paradigmatis.

Bentuk pernyataan yang juga digolongkan sebagai bahasa kias ialah ironi. Kata ironi berasal dari eiron yang berarti ‘penyembunyian’, ‘penipuan’, ‘pura-pura’. Dengan demikian pernyataan yang secara tersembunyi mengan-dung pengertian lain selain yang secara eksplisit dinyatakan merupakan ironi. Dalam ironi penyampaian pengertian secara tidak langsung itu dinyatakan melalui penggunaan kata/kata-kata yang ditinjau dari ciri semantisnya bertentangan atau mungkin memiliki acuan lain yang memiliki hubungan asosiatif. Bahasa kias yang ironik ini merupakan wujud pasemon dalam wacana puisi.

Pemahaman bahasa kias dalam wacana puisi merupakan kegiatan ‘pemberian makna’ pada bentuk, citraan yang ditampilkan, gagasan yang dinuansakan, karakteristik hubungannya dengan unsur lain dalam satuan teksnya, dan kemungkinan efeknya bagi pembaca. Guna memperoleh gambaran mengenai bentuk bahasa kias, pembaca perlu membaca puisi secara keseluruhan. Melalui kegiatan membaca, pembaca selain memperoleh gambaran untaian isi puisi diharapkan juga dapat memperoleh gambaran kemungkinan segmentasi bahasa kias sesuai dengan satuan konstruksinya, hubungan antara satuan bahasa kias itu dengan unsur lain dalam satuan teksnya, hubungan makna kata-kata yang satu dengan yang lain secara asosiatif, sebaran penggunaan bahasa kias dalam wacana puisi, dan karakteristik penggunaan bahasa kias dalam wacana puisi.

Bahasa kias secara esensial berhubungan dengan (1) perbandingan maupun penghubungan ciri dunia acuan berdasarkan tanggapan terhadap hasil maupun peng-hubungan ciri realitas natural; (2) kesejajaran, hubungan secara tetap maupun percampuran ciri dunia acuan secara tetap; (3) penggarapan medan ciri semantis kata-kata yang pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari persepsi terhadap objek yang diacu oleh kata-kata; (4) dunia pengalaman maupun konteks sosial budaya pembentuk-nya. Sebagai fakta penggunaan bahasa, bahasa kias tidak terwujud dalam bentuk siap pakai melainkan secara esensial terkait dengan kreasi pembentuknya.