Sabtu, 19 Februari 2011

WUJUD BAHASA “PASEMON” DALAM TEKS PUISI INDONESIA




Bab ini berisi pemaparan dan penjelasan tentang bahasa “pasemon” dalam teks puisi Indonesia karya penyair berlatar belakang budaya Jawa. Hal yang dijadikan fokus bahasan adalah bentuk struktur bahasa dan unsur-unsur bahasa “pasemon”. Bentuk struktur bahasa “pasemon” adalah perwujudan “pasemon” yang terealisasi dalam bentuk struktur bahasa tertentu dan didukung oleh sejumlah unsur yang hadir secara khas. Bentuk struktur bahasa “pasemon” dalam teks puisi merupakan wujud formal bahasa yang ditandai oleh adanya unsur-unsur yang secara kohesif memiliki makna dan fungsi tertentu. Dalam pemaparan selanjutnya, istilah bentuk struktur dan unsur bahasa “pasemon” ini disebut wujud “pasemon”. Pemaparan dan penjelasan tentang wujud “pasemon” dalam bab ini tidak terlepas dari bab-bab sebelumnya, terutama tentang hal-ikhwal “pasemon” (Bab 1 dan Bab 2), teks puisi (Bab 2), dan perkembangan estetik puisi Indonesia (Bab 3).
Wujud “pasemon” dapat dikemukakan dalam tiga kategori. Pertama, “pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias dalam kategori nominatif, predikatif, atau kalimatif. Kedua,  “pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat-kalimat metaforis, metonimis, atau ironis. Ketiga, “pasemon” berwujud wacana yang terdiri atas unsur-unsur bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, atau ironis. Ketiga wujud “pasemon” tersebut dipaparkan dan dijelaskan dalam uraian berikut ini.

1. “Pasemon” Berwujud Kalimat
“Pasemon” berwujud kalimat dapat dijelaskan berdasarkan pendapat Wahab (1991:27) ketika mengkaji metafora berdasarkan aspek sintaksis. Meskipun hakikat metafora dan “pasemon” memiliki perbedaan, namun secara umum keduanya sama-sama menggunakan ungkapan kias atau penuturan secara tidak langsung. Ketidaklangsungan ungkapan “pasemon” secara sintaksis dapat dipaparkan berdasarkan kategori nominatif, predikatif, dan kalimatif. Karakteristik “pasemon” berwujud kalimat kategori nominatif ialah terdapatnya unsur lambang atau kias pada nomina kalimat (subjek atau komplemen) dan komponen-komponen lainnya dalam kalimat tetap dinyatakan dengan kata-kata yang mempunyai makna langsung. Karakteristik “pasemon” berwujud kalimat kategori predikatif ialah terdapatnya unsur lambang atau kias pada predikat kalimat saja, sedangkan  subjek dan komplemen lain dalam kalimat itu (jika ada) dinyatakan dalam makna langsung. Karakteristik “pasemon” berwujud kalimat kategori kalimatif ialah terdapatnya penggunaan unsur lambang atau kias dalam seluruh kalimat. Artinya, tidak ada satu komponen pun dalam kalimat itu yang dipakai sebagai pengungkap makna langsung.
Dalam teks puisi “Dewa Telah Mati”, penyair Subagio Sastrowardoyo mengungkapkan “pasemon” tentang tiadanya kehidupan spiritual-religius di tengah masyarakat dengan kalimat nominatif, predikatif, dan kalimatif. Menurut penilaian Goenawan Mohamad (2001:344), “Pada Subagio Sastrowardoyo, seakan-akan semua mula dan akhir adalah diam. Gambaran-gambaran yang memberi kesan gerak terasa mempunyai arti imajinal tentang ketidakpastian dan kefanaan” seperti kita rasakan dalam wacana puisi “Dewa Telah Mati”. Penyair Subagio Sastrowardoyo menggambarkan ketidakpastian dan kefanaan, yang dalam konteks wacana puisi “Dewa Telah Mati” hadir secara menonjol dalam tema tiadanya kehidupan spiritual-religius itu dalam bentuk kalimat-kalimat pernyataan yang berupa pemakaian kias dan lambang. Penggunaan kias dan lambang itu secara referensial, ekspresif, dan estetik menyiratkan makna tentang tiadanya kehidupan spiritual-religius di tengah masyarakat. Hal itu dinyatakan dengan kalimat nominatif: Tak ada dewa di rawa-rawa ini.; bentuk kalimatif: Dewa telah mati di tepi-tepi ini.; dan bentuk predikatif Bumi ini wanita jalang/ yang menarik laki-laki jantan dan pertapa/ ke rawa-rawa mesum ini /dan membunuhnya pagi hari.
 Untuk mengkongkretkan penggambaran tentang matinya “dewa” (yang merupakan representasi dari Tuhan), penyair Subagio Sastrowardoyo menggunakan kias dan lambang berikut (1) Hanya gagak yang mengakak malam hari/Dan siangnya terbang mengitari bangkai/ pertapa yang terbunuh di dekat kuil’ dan (2) Hanya ular yang mendesir dekat sumber/Lalu minum dari mulut/pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. Pilihan lambang “gagak yang mengakak”, “bangkai pertapa”, “ular yang mendesir”, dan “perempuan jalang” secara intensif mendukung dan memperkongkret gambaran tentang kematian dewa yang secara substansial merupakan representasi dari gambaran ketiadaan kehidupan spiritual-religius di tengah masyarakat yang kotor (rawa-rawa, rawa-rawa mesum), akhlaknya buruk (mulut pelacur, perempuan jalang), tidak memiliki pemimpin spiritual (bangkai pertapa yang terbunuh), dan Tuhan tidak dijadikan tempat mengadu (Tak ada dewa). Menurut Pradopo (1995:137), “Dewa Telah Mati” mengiaskan tentang dewa atau secara luasnya Tuhan telah “mati”,  yang berarti Tuhan tidak dipercayai lagi oleh orang-orang (manusia). Intensitas gambaran tentang tiadanya kehidupan spiritual-religius itu secara lengkap dapat diamati pada kutipan (1) berikut ini.

(1)  Tak ada dewa di rawa-rawa ini
                   Hanya gagak yang mengakak malam hari
       Dan siang terbang mengitari bangkai
       Pertapa yang terbunuh dekat kuil.

       Dewa telah mati di tepi-tepi ini
       Hanya ular yang mendesir dekat sumber
 Lalu minum dari mulut
 pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri.

 Bumi ini perempuan jalang
 yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
 ke rawa-rawa mesum ini
 dan membunuhnya pagi hari.
(Subagio Sastrowardoyo,“Dewa Telah Mati”, hal. 3)

Pembacaan secara heuristik, retroaktif, dan hermeneutik terhadap wacana puisi “Dewa Telah Mati” karya Subagio Sastrowardoyo, sebagaimana dilakukan oleh Pradopo (1995:137—138) yang dikutip berikut ini, kiranya dapat dijadikan pelengkap dalam hal pemaparan dan penjelasan “pasemon” berbentuk kalimat nominatif, predikatif, dan kalimatif.

Di tempat-tempat yang penuh kemaksiatan (rawa-rawa ini) Tuhan tidak dipercayai lagi oleh orang-orang (manusia). Di tempat yang penuh kemaksiatan ini hanya orang-orang jahat (koruptor, penjilat, perampok, dan sebagainya). Orang-orang jahat (gagak) tersebut melakukan kejahatan atau bersima-harajalela (mengakak) di masa kacau, masa gelap (malam hari). Mereka (orang-orang jahat itu) beramai-ramai mengelilingi harta yang haram (bangkai) milik orang-orang suci (pertapa, para pemeluk agama) yang ingkar (pada hakikatnya sudah mati), mereka terbunuh (oleh kejahatan) di dekat tempat sucinya, tempat peribadatannya (kuil, gereja, masjid, dll.).
Tuhan telah tidak dipercayai lagi atau orang-orang telah ingkar kepada Tuhan di tempat-tempat pinggir (tempaat yang tidak benar), tempat yang penuh kemesuman, kemaksiatan, atau kejahatan. Oleh karena itu, yang ada (pada hakikatnya) hanya orang-orang jahat (ular) yang berbuat jahat, melakukan makar di tempat-tempat kekayaan, keberuntungan (mendesir dekat sumber). Para penjilat itu (ular itu) lalu memuaskan nafsunya (minum) dari mulut para pelacur atau dengan mulut pelacur (orang-orang yang melacurkan diri, menjual harga dirinya). Artinya, orang-orang tersebut mendapat kekayaan, kesenangan, kebahagiaan, pangkat, atau kekuasaan dari “melacurkan diri”; menjilat atasannya atau para penguasa atau pemilik harta, perusahaan dan sebagainya. Mereka berbuat apa saja demi keuntungan dirinya, tak perduli halal atau haram. Mereka tidak peduli kehinaan, bahkan masih dapat tersenyum (berbangga diri) melihat bayangannya di depan cermin (rupanya yang tampak “indah” di kaca). Mereka masih mengagumi kehebatannya, kekayaannya yang sebelumnya hanya palsu (hanya bayangan).
Pada hakikatnya dunia dan kehidupan ini (bumi ini) adalah perempuan jalang (pelacur yang menjual keindahan dalam kenikmatan tubuhnya) yang menawarkan kenikmatan dunia yang fana kepada orang-orang yang hanya memuaskan hawa nafsu keduniawian saja, bahkan orang suci (pertapa) pun jadi munafik. Kehidupan yang haram itu menjerumuskan mereka itu ke tempat penuh kejahatan, kemaksiatan, dan kemesuman. Oleh karena itu, membunuh mereka yang hanya terpikat kepada keduniaan yang fana yang penuh “penyakit” pada waktu mulai timbulnya harapan kehidupan yang baik (pagi hari).

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias berupa bentuk nominatif dan predikatif terdapat di dalam teks puisi berjudul “Kampung” karya Subagio Sastrowardoyo. Digambarkan oleh penyair Subagio Sastrowardoyo bahwa hidup di Indonesia seperti hidup di dalam kampung yang pengap oleh pikiran-pikiran beku; setiap orang ingin membuat peraturan sendiri; setiap orang ingin bersuara dan main hakim sendiri; tukang jamu disambut dengan hangat; omongan di jalan lebih penting daripada renungan filsafat; dan rasa curiga lebih mendalam daripada rasa cinta. Gambaran kehidupan seperti itu, bagi penyair, dirasakan sebagai kehidupan yang tidak nyaman dan itu pula yang menjadi penyebab aku lirik lebih memilih pergi ke luar negeri. 
Dalam hubungannya dengan puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo, Hutagalung (1989:52) menyampaikan penilaian sebagai berikut “Semua sajak-sajaknya berupa penampilan kontras tentang nilai-nilai materi dan nilai-nilai rohani, mengenai yang moral dengan yang tak moral.” Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam puisi “Kampung” mengekspresikan “pasemon” tentang gambaran situasi rohaniah di Indonesia yang tidak enak itu dengan kalimat yang tergolong bentuk nominatif dan predikatif. Untuk menggambarkan situasi kehidupan rohaniah yang tidak nyaman penyair Subagio Sastrowardoyo menyatakan (1) Kalau aku pergi ke luar negeri, dik/karena hawa di sini sudah pengap oleh/pikiran-pikiran beku; (2) Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung/di mana setiap orang ingin bikin peraturan/mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan/daftar diri di kemantren; (3) setiap orang ingin bersuara/dan berbincang tentang susila, politik dan agama/seperti soal-soal yang dikuasai, (4) setiap orang ingin jadi hakim/dan mengeroyok keluarga berdansa, orang asing/dan borjuis yang menyendiri; (5) tukang jamu disambut dengan hangat,/dengan perhatian dan tawanya; (6) ocehan di jalan lebih berharga/dari renungan tenang di kamar, dan (7) curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya. Berbagai fenomena yang diekspresikan oleh penyair itu merujuk pada situasi yang “kampungan”. Kutipan (2) berikut ini mendukung pernyataan itu.


 (2) Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
       karena hawa di sini sudah pengap oleh
                  pikiran-pikiran beku.

      Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
      di mana setiap orang ingin bikin peraturan
      mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
                 daftar diri di kemantren.

      Di mana setiap orang ingin bersuara
      dan berbincang tentang susila, politik dan agama
                seperti soal-soal yang dikuasai.

      Di mana setiap orang ingin jadi hakim
      dan mengeroyok keluarga berdansa, orang asing
               dan borjuis yang menyendiri.

      Di mana tukang jamu disambut dengan hangat,
               dengan perhatian dan tawanya.

      Di mana ocehan di jalan lebih berharga
              dari renungan tenang di kamar.

      Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

      Kalau aku pergi keluar negeri, dik
      karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

(Subagio Sastrowardoyo, “Kampung”, hal. 12)

Hal yang menonjol dalam puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo, sebagaimana dikemukakan oleh Hutagalung (1989:52), adalah bahwa “kalimat-kalimatnya memang sering seperti prosa dan sering mempergunakan perloncatan-perloncatan supaya sajak tetap kelihatan sebagai sajak”. Pendapat Hutagalung tersebut mendapatkan evidensi dalam sebagian besar teks puisi yang ditulis oleh Subagio Sastrowardoyo.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif terdapat di dalam teks puisi berjudul “Hotel” karya Subagio Sastrowardoyo. Diksi ‘hotel’ dalam teks puisi ini  secara metaforis merepresentasikan tentang tempat persinggahan, tempat penginapan, tempat beristirahan, dan tempat mendapatkan hiburan. Secara ironis, penyair Subagio Sastrowardoyo menyampaikan “pasemon” tentang adanya kecenderungan bahwa di dalam hotel setiap orang menjadi asing atau mengasingkan diri dengan memakai topeng-topeng. Identitas dan jati diri penghuni hotel cenderung absurd atau menurut penggambaran penyair sebagai orang yang tak bermuka sama sekali sebab masing-masing memakai topeng, sehingga semua orang jadi asing. Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam teks puisi “Hotel” menyampaikan “pasemon” dengan kias semua orang jadi asing dan atau ingin tak bermuka sama sekali dan lambang topeng yang menimbulkan ironi. Hal itu dapat disimak dari kutipan (3) berikut ini.

(3)  Di kota ini semua orang jadi asing
      Masing-masing memakai topeng
      atau ingin tak bermuka sama sekali

(Subagio Sastrowardoyo, “Hotel”, hal. 54)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif terdapat di dalam teks puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul “Dunia Kini Tak Peka”. Dalam wacana puisi ini penyair mengekspresikan kritik sosial yang ada hubungannya dengan persoalan tidak pekanya warga masyarakat terhadap norma-norma tata pergaulan hidup di tengah masyarakat. Dengan kalimat-kalimat yang mengandung “pasemon”, dinyatakan oleh penyair (1) tak ada gunanya bunuh diri,/memang, (sebab) dunia kini tak peka, (2) sehari lamanya/orang menyayangkan nasibmu/dan melempar kesalahan:/kepada binimu/yang selalu bilang kau tak becus cari duit/kepada anakmu/yang malu bapanya hanya buruh keci/ kepada majikanmu/yang tidak menaikkan upah kerja; dan (3) kuburmu di pinggir kampung/tinggal terlantar/sebab tak ada yang perduli/siapa kamu dulunya. Kalimat-kalimat itu tergolong “pasemon” yang sederhana dan halus--yang secara metaforik, metonimik, dan ironik merepresentasikan gagasan penyair tentang ketidakpekaan warga masyarakat terhadap penderitaan orang lain, sebab mereka saling melempar kesalahan dan dengan demikian juga berarti melempar tanggung jawab. Dalam konteks ini pendapat Hutagalung (1989:52) yang menyatakan bahwa penyair Subagio Sastrowardoyo banyak mengungkapan persoalan kontras nilai-nilai rohani dan nilai-nilai materi memperoleh evidensi empirisnya.
Penyair menyampaikan “pasemon” secara sederhana dan halus dengan cara menghadirkan asosiasi-asosiasi tentang tata kehidupan keluarga antara suami, istri, anak, dan dalam hubungan kerja antara buruh dengan majikan. Pilihan diksi “suami”, “istri”, “anak” dan “majikan” secara simplistis dapat dipandang sebagai bentuk metonimi yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan ironi tentang tidak harmonisnya tata kehidupan. Tidak harmonisnya tata kehidupan itu disebabkan oleh tiadanya tanggung jawab, sebab masing-masing pihak melemparkan kesalahan pada orang lain. Ketidakpekaan masing-masing pihak terhadap penderitaan yang ditanggung oleh orang lain itu disampaikan oleh penyair dalam bentuk kalimat yang didukung oleh pemakaian kias yang secara referensial merujuk pada ketidakpekaan orang-orang terhadap penderitaan orang lain. Hal itu dapat disimak dalam kutipan (4) berikut ini.

(4) tak ada gunanya bunuh diri
     memang
     dunia kini tak peka

     sehari lamanya
     orang menyayangkan nasibmu
     dan melempar kesalahan:
     kepada binimu
     yang selalu bilang kau tak becus cari duit
     kepada anakmu
     yang malu bapanya hanya buruh kecil
     kepada majikanmu
     yang tidak menaikkan upah kerja
     ....
     kuburmu di pinggir kampung
     tinggal terlantar
     sebab tak ada yang perduli
     siapa kamu dulunya

(Subagio Sastrowardoyo, “Dunia Kini Tak Peka”, hal. 100)

Menurut pengamatan Hutagalung (1989:60), penyair Subagio Sastrowardoyo kadang-kadang menggunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan biasa yang sederhana, tetapi apabila diperhatikan dengan cermat cukup rumit juga. Kata-kata, frase dan kalimat yang digunakan oleh penyair kadang-kadang melompat mengikuti kelincahan imajinasi dan fikiran yang kaya. 
Apabila puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo menggunakan kalimat-kalimat untuk melontarkan bermacam ide dan pemikiran, puisi-puisi Goenawan Mohamad menyodorkan perenungan (Hutagalung, 1989:91). Dalam hubungan dengan puisi-puisi Goenawan Mohamad, Hutagalung selanjutnya menyatakan pandangannya sebagai berikut.
“....sajaknya membangun imaji-imaji tertentu yang menyebabkan timbulnya perasaan-perasaan murung, suram berkabut.... Kita tidak dirangsang berfikir tetapi diajak merasakan suasana itu ... Kata dan kombinasi kata, larik sajak menimbulkan imaji-imaji bermacam-macam: sepi, murung, kelabu, suram diberati kabut yang membuat hati kita yang menikmatinya merasa murung tak menentu”.

Di dalam “Esai Pengiring” untuk Sajak-sajak Lengkap 1961--2001 karya Goenawan Mohamad, Damono (2001:210) menyatakan pendapatnya sebagai berikut.

Di dalam hampir semua sajaknya, Goenawan Mohamad menggunakan segala macam muslihat untuk kita hayati. Bahkan lebih dari itu, ia menggunakan pasemon, sesuatu yang menurutnya lebih dari sekadar muslihat, seperti yang terkandung dalam konsep allusion.

Pernyataan tersebut dapat dilacak melalui pemaparan dan penjelasan berikut ini. “Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas lambang/kias kategori nominatif dan predikatif terdapat di dalam wacana puisi berjudul “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”. Wacana puisi ini memiliki kemiripan pokok persoalan dengan puisi “Dunia Kini Tak Peka” karya Subagio Sastrowardoyo. Kesamaan itu terletak pada persoalan tidak adanya kepekaan manusia kepada sesamanya--sebagai warga masyarakat yang menderita. Kedua teks puisi tersebut sama-sama menggunakan kalimat-kalimat sederhana untuk menyampaikan “pasemon” secara halus melalui ungkapan kias yang mudah dipahami. 
Dalam wacana puisi “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum” penyair Goenawan Mohamad mengekspresikan gagasan tentang ketidakpekaan warga masyarakat terhadap penderitaan orang lain yang menjadi korban pembunuhan ketika pemilihan umum berlangsung. Diungkapkan oleh penyair Goenawan Mohamad tentang adanya seorang yang mati terbunuh di sekitar hari pemilihan umum. Warga masyarakat kampung “terpaksa” bersikap tidak peduli kepada seseorang yang terbunuh di sekitar hari pemilihan umum itu sebab si korban menurut kata-kata penyair bukan orang sini, orang ini tidak berkartu, tidak bernama, tidak berpartai, tidak bertanda gambar, dan tidak ada yang menangisinya. Terhadap penderitaan orang yang menjadi “korban” politik itu, warga masyarakat “terpaksa” bungkam dan tidak ambil peduli karena rasa takut terhadap tindakan pihak penguasa. Situasi takut seperti itu juga dialami oleh aku lirik (penyair) yang kemudian mengadu kepada Tuhan: “Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”, “Berikanlah suara-Mu”, dan mempertanyakan “Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”. Melalui pertanyaan terakhir itu, aku lirik minta petunjuk kepada Tuhan agar si aku lirik dapat mengambil posisi yang tepat bagi pihak yang dijadikan korban. Dengan cara “pasemon” secara halus penyair Goenawan Mohamad menyampaikan kritik bahwa di dalam pemilihan umum, seseorang yang tidak punya identitas (tidak bernama, tidak berkartu, tidak berpartai, dan tidak bertanda gambar) dianggap tidak memiliki “suara” dan “suara yang sejati” hanya dimiliki oleh Tuhan.
Dalam hubungannya dengan puisi “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum” Damono (2001:208) menyatakan:

Dalam sajak yang padat ini Goenawan Mohamad meramu masalah sosial, kemanusiaan, dan religiusitas—semuanya dilatari alam, atau mungkin lebih tepat: bersumber dan bermuara pada alam. Sajak ini merupakan puncak kemarahannya; dalam situasi demikian biasanya penyair terlibat secara emosional dengan apa yang disampaikannya—pada gilirannya ini mempengaruhi cara pengucapan yang umumnya menyangkut penggunaan konsep-konsep, yang abstrak. Keunggulan si Malin Kundang (baca: Goenawan Mohamad, Pen.) ini terletak pada keberhasilannya mengontrol emosi, mengambil jarak aman dengan kemarahannya. Ia tidak berteriak atau menangis, tetapi ‘hanya’ mengatakan: “Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi.”

Ungkapan kias yang digunakan oleh penyair Goenawan Mohamad berupa kalimat-kalimat sederhana yang disusun dalam bentuk prosaik dalam alur yang mengalir dapat membangun kesan dramatik, lengkap dengan gambaran suasana yang mencekam. Selain suasana mencekam yang berhasil dibangun melalui kalimat-kalimat yang sederhana, penyair Goenawan Mohamad dengan halus menyampaikan “pasemon” dengan metafora dan metonimi yang  bernuansakan ironi. Secara halus penyair memberikan sinyal tentang adanya persoalan yang menimpa orang yang tidak bernama, tidak berkartu, tidak berpartai, dan tidak bertanda gambar dalam sebuah pemilihan umum. Masyarakat umum tidak dapat berbuat banyak terhadap si korban karena dilanda kecemasan dan ketakutan terhadap aparat yang sering semena-mena terhadap orang kecil, masyarakat bawah, dan orang-orang yang tidak berdaya. Kecemasan dan ketakutan itu tampil dalam tipografi puisi yang tidak teratur. Hal itu dapat disimak pada kutipan (5) berikut ini.

(5)    “Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”

         Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda
         menemukan
         mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti men-
         cari harum
         dan hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin
         pipinya jadi
         aneh, di bawah bulan. Dan kemudian mereka pun ber-
       datangan
     --senter, suluh, dan kunang-kunang—tapi tak
        seorang pun
        mengenalinya. Ia bukan orang sini, hansip itu
        berkata.

     “Berikanlah suara-Mu.”

        Di bawah petromaks kelurahan mereka
        menemukan liang
     luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk
         dan beranda
     meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak
        bernama.
     Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada
     yang
     menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa
        gerangan
      agamanya?

     “Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”

         Lusa kemudian mereka membacanya di koran
      kota, di
      halaman pertama. Ada seorang yang menangis entah
      mengapa.
      Ada seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada
      seorang anak yang letih dan membikin topi dari koran pagi
      itu,   yang
     diterbangkan angin kemudian.

(Goenawan Mohamad,“Tentang Seorang Yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”, hal. 45—46)

Kalimat di dalam puisi-puisi Goenawan Mohamad, menurut Hutagalung (1989:99) “memberi saran-saran, isyarat-isyarat yang tak begitu jelas ke arah perasaan, imaji, asosiasi atau pun pengertian-pengertian tertentu”. Ketika membaca puisi “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”, pembaca diberi saran, perasaan ngeri tentang kematian yang tidak wajar dari seseorang yang tidak bernama, yang tidak punya identitas. Sebagai penyair, Goenawan Mohamad menurut penilaian Rahardi (2000:13), “Gaya kepenyairannya yang menghadirkan suasana (imaji), serba remang dan penuh keraguan, pada kurun waktu 1970-an menjadi semacam standar wajib bagi para penyair pemula”. Pendapat Rahardi ini menunjukkan bahwa bentuk pengucapan puisi-puisi Goenawan Mohamad menduduki tempat yang istimewa dalam kepenyairan di Indonesia.
“Pasemon” berujud kalimat yang yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif terdapat di dalam teks puisi Goenawan Mohamad lainnya yang berjudul “Der Prozess”. Penyair Goenawan Mohamad dalam teks puisi ini mengungkap-kan persoalan tentang buruknya aparat kepolisian dalam menangani kasus kematian seseorang. Diungkapkan oleh penyair  dengan kalimat nominatif Dan kantor polisi itu sepi/oleh bau orang mati dan Dan kertas-kertas sibuk, meski cuma berdiri:/ “Tuliskan lagi, tuliskan lagi” yang secara metaforis, metonimis, dan ironis merupakan “pasemon” tentang buruknya aparat kepolisiaan dalam menangani kasus kematian seseorang. Dalam kasus ini seseorang yang mati itu bernama Sakerah (35 tahun) yang menurut laporan polisi Ia tidak mati disiksa. Lihat tandanya./Bahkan kami sendiri lupa/ada orang dalam sel ke-3. Di dalam pernyataan polisi Ia tidak mati disiksa justru mengisyaratkan makna sebaliknya bahwa ia telah mati karena disiksa. Di dalam kalimat Bahkan kami sendiri lupa/ada orang dalam sel ke-3 merupakan “pasemon” tentang buruknya kinerja aparat kepolisian terhadap orang-orang yang dijadikan pesakitan. “Pasemon” ini berupa paradoks, yang dalam bahasa Jawa sering disebut Nggutuk lor keno kidul. Kutipan (6) berikut ini menggambarkan hal itu.

(6) Dan kantor polisi itu sepi
     oleh bau orang mati
     Dan kertas-kertas sibuk, meski cuma berdiri:
     “Tuliskan lagi, tuliskan lagi”

     Namanya Sakerah. Umur 35.
     Ia tidak mati disiksa. Lihat tandanya.
     Bahkan kami sendiri lupa
     ada orang dalam sel ke-3.

(Goenawan Mohamad, “Der Prozess”, hal. 73)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif terdapat di dalam teks puisi berjudul “Cerita Buat Yap Thiam Hien”. Pokok persoalan yang diketengahkan oleh penyair GM, seperti ternyata dalam judul puisi, bersangkut-paut dengan masalah hak asasi manusia, yakni bahwa pembunuhan tak akan pernah diceritakan—dan seseorang yang dibunuh itu bernama Kiai Bisri.
Digambarkan oleh penyair Goenawan Mohamad ada seorang anak datang mencari Kiai Bisri ke dalam sumur mati: Ada anak mencari datang kemari/ke dalam sumur mati:/ “Kiai Bisri, di manakah kau, kiai?”. Upaya sang anak untuk melacak jejak hilangnya Kiai Bisri itu mengakibatkan  orang-orang menjadi ketakutan dan berkata: “Jangan tanya, nak, pembunuhan/tak akan pernah diceritakan;/kau mengerti, bukan?”. Pokok persoalan itu dikemukakan dengan kalimat retoris yang didukung oleh pemakaian kias yang merepresentasikan sebuah gambaran secara metaforis, metonimik, dan ironis. Metafora tampil dari ungkapan Ada anak mencari datang kemari/ ke dalam sumur mati, metonimi tampil melalui penamaan “Kiai Bisri”, dan ironi tampil melalui ungkapan “Jangan tanya, nak, pembunuhan/tak akan pernah diceritakan;/kau mengerti, bukan?”. Kalimat-kalimat itu meruapakan “pasemon” tentang pelanggaran hak asasi, yakni hak untuk mendapatkan informasi secara jelas dan tuntas, hak melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan lain-lain. Kutipan (7) berikut ini menunjukkan hal itu.

(7) Ada anak mencari datang kemari
      ke dalam sebuah sumur mati:
      “Kiai Bisri,
      di manakah kau, Kiai?”

      Orang-orang pun ketakutan:
      “Jangan tanya, nak, pembunuhan
      tak akan pernah diceritakan;
      kau mengerti, bukan?”

(Goenawan Mohamad, “Cerita Buat Yap Thiam Hien”, hal. 77)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Penangkapan Sukra”. Teks puisi ini mengungkapkan persoalan penangkapan dan penyiksaan tokoh aku lirik bernama Sukra, seorang pemuda yang tampan di daerah Kartasura (Dalam subjudul penyair menyertakan keterangan sebagai variasi atas Babad Tanah Jawi). Penangkapan dan penyiksaan Sukra yang dilakukan oleh aparat penguasa itu tidak jelas benar apa yang menjadi alasan. Yang jelas, tokoh bernama Sukra diseret dan disiksa oleh aparat penguasa hingga menemui ajalnya: Debu kembali ke tanah./ Jejak kembali ke tanah./ Sukra diseret ke sana. Melihat perlakuan aparat penguasa yang semena-mena itu, seluruh rakyat Kartasura hanya diam: Seluruh Kartasura tidak bersuara. Akibat dari perlakukan kasar dan semena-mena itu kedua orang tua Sukra hanya meratapinya: Sang bapak menangis kepada angin./Perempuan kepada cermin. Rakyat hanya bisa bertanya-tanya: Siapakah yang berkhianat,/ kelam atau kesumat?/ Kenapa nasib tujuh sembilu/ menghadang anak itu. Akibat dari semua itu adalah ketakutan dan kecemasan: Malam hanya dinding/ berbayang-bayang lembing.
Penyair Goenawan Mohamad dalam puisi “Penangkapan Sukra” menyampaikan “pasemon” tentang sosok aparat penguasa yang semena-mena kepada rakyatnya sehingga rasa ketakutan dan kecemasan selalu mewarnai kehidupan rakyat jelata. “Pasemon” tersebut oleh penyair diungkapkan melalui kalimat-kalimat yang didukung oleh pemakaian kias kategori nominatif dan predikatif. Termasuk kategori metafora nominatif adalah ungkapan Debu kembali ketanah. Termasuk kategori predikatif ialah Jejak kembali ke tanah, Seluruh Kartasura tak bersuara, Sang bapak menangis kepada angin, Perempuan kepada cermin, dan Malam hanya dinding berbayang-bayang lembing. Penyebutan “Kartasura” dan “Raden, raden yang bagus” termasuk kategori metonimi. Ironi tampil dalam pertanyaan Siapakah yang berkhianat kelam atau kesumat? dan melalui pernyataan Seluruh Kartasura tak bersuara. Kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon” itu dapat disimak dalam kutipan (8) berikut ini.

(8)   Debu kembali ke tanah
        Jejak sembunyi ke tanah
        Sukra diseret ke sana
        Seluruh Kartasura tak bersuara

        Sang bapak menangis kepada angin
        Perempuan kepada cermin
        “Raden, raden yang bagus,
        pelupukku akan hangus!”

        Siapakah yang berkhianat
        kelam atau kesumat?
        Kenapa nasib tujuh sembilu
       Menghadang anak itu

       Malam hanya dinding
       Berbayang-bayang lembing
(Goenawan Mohamad, “Penangkapan Sukra”,hal. 86)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Perempuan Yang Dirajam Menjelang Malam”. Pokok persoalan yang diangkat oleh penyair Goenawan Mohamad dalam teks puisi ini sama dengan teks puisi “Penangkapan Sukra”, “Cerita Buat Yap Thiam Hien”, “Der Prozess”, dan “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”. Semua teks puisi karya Goenawan Mohamad tersebut melalui kalimat-kalimat kategori predikatif yang terseleksi mengungkapkan “pasemon” tentang kekerasan yang mengakibatkan korban kematian.
Dalam wacana puisi “Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam”, sebagaimana tersurat dan tersirat dari judulnya, penyair Goenawan Mohamad mengungkapkan tentang kekerasan terhadap perempuan hingga menemui ajalnya. Penyair mengung-kapkan “pasemon” dengan menggunakan kalimat-kalimat terseleksi yang didukung oleh pemakaian kias berupa metafora dan ironi. Metafora tampil dalam kalimat Orang-orang dengan batu di tangan/ telah pulang, Dosa telah dilenyapkan, Senja telah dibersihkan, Dan langit telah lapang. Ironisnya, Tapi aku tidak bisa pulang. Terhadap kekejaman berupa kekerasan itu membuat aku lirik menjadi ketakutan: Yang ada hanya aku:/ tangan yang menulis/ pada sabak hitam/ketakutanku. Untuk memperkongkret hal itu berikut ini dikemukakan kutipan (9).

(9) Perempuan yang dirajam menjelang malam, adakah
      ia mencari
      seorang laki-laki yang menulis sesuatu pada pasir
      saksi terakhir
      semua ini?

      Yang ada hanya aku:
      tangan yang menulis
      pada sabak hitam
      ketakutanku

      Orang-orang dengan batu di tangan
      telah pulang
      Dosa telah dilenyapkan
      Senja telah dibersihkan
      Dan langit telah lapang
      Tapi aku tak bisa pulang

(Goenawan Mohamad, “Perempuan Yang Dirajam Menjelang Malam”, hal. 102—103)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Nota untuk Umur 49 Tahun”. Penyair Goenawan Mohamad melalui teks puisi ini mengungkapkan sebuah refleksi tentang akhir kehidupan manusia. Penyair menyampaikan “pasemon” untuk diri sendiri (bersifat introspektif)—dan mungkin berlaku juga untuk orang lain—berupa catatan pada usia 49 tahun. Dalam instrospeksinya, penyair Goenawan Mohamad merasakan bahwa berbagai peristiwa kehidupan telah merasuk ke dalam jaringan darahnya: Pasir dalam gelas waktu/ menghambur/ ke dalam plasmaku, dan setelah itu Lalu di sana tersusun gurun/ dan mungkin oase/ tempat terakhir burung-burung.
Ungkapan Pasir dalam gelas waktu/ menghambur/ ke dalam plasmaku merupakan lambang yang secara metaforis memberikan gambaran tentang telah diresapinya berbagai peristiwa kehidupan oleh aku lirik. Sedangkan ungkapan Lalu di sana tersusun gurun/ dan mungkin oase/tempat terakhir burung-burung merupakan lambang/kias yang merepresentasikan kegersangan gurun dan kedamaian oase tempat terakhir mereguk kedamaian tempat terakhir burung-burung. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hal itu berikut ini dikemukakan teks puisi secara utuh dalam kutipan (10).


(10)  Pasir dalam gelas waktu
        menghambur
        ke dalam plasmaku

        Lalu di sana tersusun gurun

        dan mungkin oase
        tempat terakhir burung-burung

(Goenawan Mohamad, “Nota untuk Umur 49 Tahun”, hal. 105)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Zagreb”. Dalam teks puisi ini penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” tentang kehancuran peradapan Timur akibat tindak kekerasan dan kekejaman manusia. Diungkapkan oleh penyair tentang seorang ibu yang datang dari Zagreb membawa bungkusan berisi kepala anak yang dicintainya. Ibu itu tidak diizinkan masuk oleh bagian imigrasi. Pada akhirnya ibu itu membungkus kembali kepala yang dibawanya dari Zagreb dan melangkah ke jalan. Orang-orang tidak menawarkan diri untuk mengantar. Di sana, di akanan, arah raib, zuhrah raib, dan kehancuran akan melanda daerah Timur.
Kalimat-kalimat yang digunakan oleh penyair Goenawan Mohamad dalam menyampaikan “pasemon” berupa kias yang secara metaforis dan simbolis menggambarkan kehancuran dunia Timur. Kalimat yang tergolong metaforis adalah Di sana, di akanan kejauhan, arah raib, zuhrah raib dan kalimat simbolis Bintang barangkali hanya puing, dan timur, di manapun timur,/Hancur. Ungkapan metaforis dan simbolis itu digunakan oleh penyair Goenawan Mohamad untuk menyatakan pendapatnya tentang kehancuran yang akan dialami oleh dunia Timur—termasuk Indonesia tentu saja. Dalam kutipan (11) berikut ini dikemukakan kalimat yang mendukung pernyataan itu.


(11)     Apa yang akan kita lakukan setelah ini?
        Ibu itu: ia membungkus kembali kepala yang dibawanya,
        dari Zagreb, dan melangkah ke jalan.
        Orang-orang tak menawarkan diri untuk mengantarkan.
        Di sana, di akanan kejauhan, arah raib, zuhrah raib.
        Bintang barangkali hanya puing, dan timur, di manapun  timur,

        Hancur

(Goenawan Mohamad, “Zagreb”,hal. 6)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Kata-kata Seperti Dencing Gobang”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” yang berisi pemikiran filosofis tentang hakikat bahasa dalam kehidupan manusia. Penyair berpandangan bahwa kata-kata seperti dencing gobang yang jatuh/ ke dalam sumur rumah tua. Dalam situasi seperti itu harapan disembunyikan/ dan jawab, kalaupun ada, tak pernah utuh. Kedua ungkapan itu merupakan kias yang dibentuk dengan perbandingan yang secara ekspresif berisi pandangan filosofis penyair tentang hakikat bahasa dalam kehidupan manusia. “Pasemon” yang berhubungan dengan bahasa itu ditujukan bagi diri penyair sendiri sebagai introspeksi dan ditujukan kepada pihak lain yang suka memformalisasikan bahasa untuk berbagai keperluan. Kutipan (12) berikut ini menunjukkan kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon”.

(12)   Kata-kata seperti dencing gobang yang jatuh
         ke dalam sumur rumah tua
         di mana harapan disembunyikan
         dan jawab, kalaupun ada, tak pernah utuh.

(Goenawan Mohamad, “Kata-kata Seperti Dencing Gobang”, hal. 11)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “30 Tahun Kemudian”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” yang berisi pemikiran filosofis tentang hakikat pengalaman dalam kehidupan manusia. Persoalan tentang pemikiran filosofis dalam teks puisi ini memiliki kemiripan dengan teks puisi “Kata-kata Seperti Dencing Gobang”. Hal yang menjadi pembeda adalah pemakaian kias dan lambang yang berbeda referensinya. Pada teks puisi “Kata-kata Seperti Dencing Gobang” penyair berusaha memvisualisasikan pemikiran filosofis tentang hakikat bahasa sebagai bunyi (dencing gobang yang menimbulkan gema), sedangkan pada teks  puisi “30 Tahun Kemudian” penyair berusaha memvisualisasikan pengalaman masa lalu dengan (1) huruf yang ditinggalkan musim pada marmar Cina, (2) Kerakap memberinya warna, dan (3) Kematian memberinya kata.
Kalimat pertama Masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada marmar Cina merupakan kias yang secara metaforis memberikan gambaran bahwa masa lalu terekam pada pahatan huruf (bahasa) pada monumen marmar Cina. Kalimat kerakap memberinya warna dan  Kematian memberinya kata merupakan ironi yang merujuk pada aneka pengalaman pahit yang pernah dirasakan oleh manusia selama hidup. Dalam kutipan (13) bait kesembilan teks puisi berikut ini menunjukkan kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon”.

(13)  masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada
         marmar Cina.
         Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.
(Goenawan Mohamad, “30 Tahun Kemudian”, hal. 25)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Cerita untuk Margot Cohen”. Penyair melalui teks puisi ini menyampaikan “pasemon” tentang pelanggaran hak asasi manusia. Oleh penyair diungkapkan betapa aku lirik bernama Anna, warga asing, berada di Indonesia untuk melakukan tugas-tugas kemanusiaan: membina suku terasing (Badui) untuk hidup lebih layak dan berperadaban. Anna akan membangun komunitas rumah. Namun, Anna terpaksa harus berurusan dengan aparat kepolisian karena dipandang sebagai orang asing, tamu tak dikenal, perempuan yang tertidur di kedai dengan kaki tak bersandal. Pada akhirnya, Anna harus meninggalkan Indonesia dengan ungkapan ironik “Namaku Anna, namamu Ciliwung. Good bye”.
Kalimat-kalimat yang digunakan oleh penyair Goenawan Mohamad dalam menyampaikan “pasemon” berupa kalimat yang didukung oleh pemakaian unsur-unsur kias, metonimi, dan ironi.  Pengungkapan kias yang didukung oleh pemakaian metonimi dan ironi tampil melalui ungkapan (1) “Rumahku adalah sepasang kasut Badui dan sisa rantai anjing yang hilang”, (2) Hari ini ia berhenti nyanyi, dan (3) “Namaku Anna, namamu Ciliwung. Godd bye”. Penyebutan sepasang kasut Badui, sisa rantai anjing yang hilang, namaku Anna, dan namamu Ciliwung adalah merupakan metonimi. Penyejajaran metonimi dapat menggambarkan ironi, misalnya kalimat (1) dan kalimat (2). Anna terpaksa menghentikan kegiatannya Ia berhenti nyanyi, ketika ada sepucuk surat dari RT dan kata-kata polisi yang menahannya sepanjang sore. Berikut ini dikemukakan kutipan (14) yang memuat kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon”.

(14) Pada suatu hari Anna
       akan membangun sebuah rumah
       Tapi apakah rumah sebenarnya? Ia pun berkata,
       “Rumahku adalah sepasang kasut Badui
       dan sisa rantai
       anjing yang hilang”

       Hari ini ia berhenti nyanyi.
       Ada sepucuk surat dari
       Ketua RT dan kata-kata polisi
       yang menahannya sepanjang sore:
       ia orang asing, begitulah kesimpulan mereka, tamu yang
        tak dikenal, perempuan yang tertidur di kedai
       dengan kaki tak bersandal.
        ....

        “Namaku Anna,
        namamu Ciliwung. Good bye

(Goenawan Mohamad, “Cerita untuk Margot Cohen”,hal. 40—41)

Sarjono (2000:39) dalam ulasan bertajuk “Goenawan Mohamad: Mempertanyakan yang Mapan dengan Gumam” menyatakan tanggapan dan penilaiannya sebagai berikut.

Selain muram, nyaris semua sajak GM ditulis dengan nada gumam, dengan enjambemen (pemenggalan) yang terkesan terbata-bata, namun sekaligus menghasilkan ambiguitas makna. Nada guman tersebut dapat diasalkan pada kecenderungan GM untuk senantiasa ragu-ragu, dan curiga pada segala suatu yang tegas dan final....kehadiran sajak-sajak GM yang serba ambigu, ragu-ragu, dan dominan oleh gumam sangat revolusioner. Di tengah-tengah ketegasan, GM mengambil posisi sebagai orang yang serba meragukan semua hal. Di tengah ketegasan siang, dan gelap malam, GM memilih pada posisi senja, memilih jeda (interlude) pendek dalam seluruh perjalanan hari.

Penyair Sapardi Djoko Damono, menurut amatan Sarumpaet (2000:21), “ia bertutur dengan sikap yang sederhana, menggunakan bentuk yang sederhana pula. Tetapi dengan kesederhanaan serupa tidak berarti sajaknya tidak mengatakan sesuatu”. Dalam ulasannya yang berjudul “Cinta dan Duka Sapardi Djoko Damono yang Abadi” Sarjono (2000:9--11) menyatakan:

 “Sajak-sajaknya yang sederhana, mengenai tema yang sederhana, dengan bahasa yang sederhana, berpeluang membuka sebuah ruang bagi perenungan yang jauh dan dalam....Sajak-sajak Sapardi mengajak kita mengalami langsung momen-momen puitik yang tersebar di berbagai tempat....Tema-tema sajak Sapardi berkisar di antara kenangan masa kanak, renungan, dan penggambaran akan alam, cinta dan kematian. Semua tema tersebut merupakan tema-tema yang abadi dan terus-menerus digarap pleh banyak penyair dari banyak jaman di banyak negeri.”

Dengan cara yang khas, yakni dengan “pasemon”, tidak ngotot dan tidak memaksa, penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan persoalan ajal. “Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi  terdapat di dalam teks puisi berjudul “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”. Penyair Sapardi Djoko Damono melalui teks puisi ini menyampaikan “pasemon” tentang seseorang yang karena kesibukannya melalaikan bekal yang perlu dibawa ketika maut menjemput. Memang, bumi tak pernah membeda-bedakan siapa saja yang akan dikubur. Bumi seperti ibu yang baik, diterimanya kembali anak-anaknya yang terkucil dan membusuk, seperti halnya bangkai binatang; pada suatu hari yang dikuburkan mungkin seorang raja, atau jenderal, atau pedagang, atau klerk—sama saja. Suatu hari yang mati adalah seorang tua (penjaga kubur) yang rajin, tapi sayangnya orang tua yang berprofesi sebagai penjaga kubur itu tidak bisa menjaga kuburnya sendiri.
Penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon” dalam bentuk kalimat kias yang didukung dengan pemakaian ironi. Kalimat kias yang didukung oleh ironi itu dimaksudkan untuk mengintensifkan dan memaksimalkan penyampaian “pasemon” dengan cara kontras sebagaimana tampak pada kutipan (15) berikut ini.

(15)    bumi  tak pernah membeda-bedakan. seperti ibu yang baik,
                    diterimanya  kembali anak-anaknya yang terkucil dan
                    membusuk, seperti halnya bangkai binatang; pada
                    suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang,
                    atau klerk—sama saja;

          lelaki tua yang rajin itu mati hari ini; sayang bahwa ia tak
                    bisa menjaga kuburnya sendiri.

(Sapardi Djoko Damono, “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”, hal. 5)

Dalam teks puisi “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”  Sapardi Djoko Damono secara ironis mengungkapkan paradoks tentang seorang penjaga kubur yang tidak bisa menjaga kuburnya sendiri. Ia, sang penjaga kubur, dapat menjaga kuburan orang lain, tetapi sayangnya ia tidak dapat menjaga kuburnya sendiri. Diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa penjaga kubur yang rajin merawat dan membersihkan kuburan orang lain itu ternyata tidak dapat merawat kuburannya sendiri, sebab telah mati. Diksi mati tampaknya tidak semata-mata mengacu pada kematian fisik semata, melainkan lebih mengacu pada kematian batin berupa iman, kepercayaan, dan ketaqwaan kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai iman, kepercayaan, dan ketaqwaan kepada Allah dapat dipastikan tidak akan sanggup ‘menjaga kuburnya sendiri’. “Pasemon” tentang ‘orang yang tidak mampu menjaga dirinya sendiri di akhir hayatnya itu’ diungkapkan oleh penyair dengan struktur predikatif. Kata-kata kunci yang merupakan predikat dalam teks puisi tersebut adalah diksi mati dan tak bisa menjaga.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Saat Sebelum Berangkat”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” yang sama dengan teks puisi “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”, yakni tentang orang-orang yang melupakan bekal sebelum ajal datang menjemput. Diungkapkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono pada saat sebelum pemberangkatan jenazah, orang-orang yang mengiring jenazah masih juga sibuk bercakap-cakap, padahal maut sewaktu-waktu juga bisa datang mencabut nyawa mereka. Dalam konteks seperti itu penyair lantas mengajukan pertanyaan yang mengandung “pasemon” mengapa kita masih juga bercakap hari /hampir gelap. Wujud “pasemon” yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan ini secara metaforis merepresentasikan persoalan kesiapan manusia dengan bekal iman dan amal perbuatan baik sebagai bekal menghadapi kematian. Kalimat yang merupakan “pasemon” yang berwujud kias yang didukung pemakaian metafora dan ironi dapat disimak pada kutipan (16) berikut ini.

(16) mengapa kita masih juga bercakap
        hari hampir gelap
        menyekap beribu kata di antara karangan bunga
        di ruang semakin maya, dunia purnama

(Sapardi Djoko Damono, “Saat Sebelum Berangkat”, hal. 6)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori kalimatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Jarak”. Penyair  dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan kalimat-kalimat perbandingan (kias) yang didukung oleh pemakaian metafora, metonimi, dan ironi. Struktur kalimatif hadir dalam teks puisi “Jarak” karya Sapardi Djoko Damono. Dalam teks puisi yang pendek ini struktur kalimatif hadir dalam dua kelompok kata yang membentuk perbandingan tidak langsung. Hal yang diperbandingkan adalah antara Adam yang mengabur dalam dongengan dan kita yang tengadah ke langit: kosong sepi. Secara halus, penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon” tentang kesepian dan penderitaan manusia yang terdampar di dunia sebagaimana Adam yang mengabur dalam dongengan. Kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon” itu dapat disimak pada kutipan (17) berikut ini.

(17) dan Adam turun di hutan-hutan
        mengabur dalam dongengan
        dan kita tiba-tiba di sini
        tengadah ke langit: kosong-sepi....

(Sapardi Djoko Damono, “Jarak”, hal. 27)

Teks puisi yang terdiri atas empat baris ini, menurut pendapat Goenawan Mohamad (2000:311—312) menggambar-kan posisi kita dengan baiknya:

.... kita telah dipisahkan begitu jauh oleh suatu jarak dengan manusia pertama yang diusir dari sorga. Agaknya jarak tersebut bukan sekadar jarak waktu, jarak sejarah yang menenggelamkan kenang-kenangan. Jarak itu lebih berupa, katakanlah, jarak metafisik. Ketika Adam meninggalkan sorga yang hangat berselimutkan perlindungan dan kepastian itu, ia memang telah dilemparkan. Tetapi paling sedikit ia masih cukup dekat dengan Sumber Kepastian sendiri: langit tidak sekosong dan sesepi seperti dilihat anak-cucunya dalam kurun waktu kita.

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Di Kebun Binatang”. Dalam teks puisi “Di Kebun Binatang” ini, penyair Sapardi Djoko Damono secara asosiatif menggambarkan wanita muda yang tergoda oleh ular dan lelaki muda yang teringat tentang ‘suatu tempat terkutuk’ sehingga harus cepat-cepat meninggalkan ‘tempat yang mendatangkan godaan’. Secara asosiatif hal itu dapat dihubungkan dengan kisah klasik Adam dan Hawa yang tergoda oleh bujukan setan sehingga harus terusir ke dunia. Diksi kebun binatang dalam konteks teks ini merupakan kata kias tentang ‘tempat terkutuk’, ‘tempat maksiat’, ‘tempat kotor’, dan lain-lain yang secara asosiatif dapat dibuahkan dari wacana puisi secara keseluruhan.
Penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon” dalam bentuk kalimat yang didukung oleh pemakaian kias dan metonimi. Kalimat yang berisi “pasemon” terhadap wanita yang suka tentang gebyar duniawi (dunia konsumerisme) dan tentang lelaki yang tidak setuju dengan kesenangan wanita seperti itu tampil dalam bentuk kias yang didukung oleh metafora, metonimi, dan ironi. Struktur “pasemon” nominatif muncul pada subjek dan objek kalimat yang dalam hal ini adalah wanita muda, lelaki muda (pasangan suami istri) dan ular yang “alangkah indahnya untuk dibuat menjadi tas dan sepatu”. Asosiasi kisah Adam dan Hawa itu semakin kuat tergambar ketika penyair menggunakan diksi yang dapat menimbulkan imaji visual dalam puisi bergaya liris sebagaimana kutipan  (18) berikut ini.

(18)       Seorang wanita muda berdiri terpikat memandang ular
       yang melilit sebatang pohon sambil menjulur-julurkan
       lidahnya; katanya kepada suaminya, “ Alangkah indahnya
       kulit ular itu untuk tas dan sepatu!”
            Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu, cepat-cepat
       menarik lengan istrinya meninggalkan tempat terkutuk
       itu.
                            (DW 015 “Di Kebun Binatang”, SDD, HBJ:51)
Goenawan Mohamad (2000:316—317) dalam artikelnya “Nyanyi Sunyi Kedua, Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono 1967—1968” menyatakan

“Seperti Subagio Sastro Wardoyo yang juga berasal dari lingkungan sosial Jawa, Sapardi Djoko Damono tidak menampakkan suatu ikatan kuat dengan tradisi keagamaan apapun. Demikianlah puisinya: merupakan ibadat yang personal, suatu perhubungan dengan Tuhan yang kadang-kadang tampil secara tak terduga”.

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Muara”. Penyair dalam teks puisi ini mengungkapkan “pasemon” tentang sifat yang tidak pasti, selalu berubah, dan tidak bertanggung jawab (munafik). Secara literal, penyair Sapardi Djoko Damono memang mengungkapkan tentang muara yang tidak pasti sifatnya. Namun, berdasarkan konteks puisi, sifat yang tidak pasti, selalu berubah, dan tidak bertanggung jawab (munafik) itu ditujukan kepada sifat manusia.
Diungkapkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono tentang Muara yang tidak pernah pasti sifatnya selalu mengajak laut/ bercakap.. Secara “pasemon” dalam kalimat itu penyair antara lain ingin mengatakan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan memang memiliki sifat-sifat seperti itu. Suatu ketika manusia dengan mudah mengatakan “Inilah lambang cinta sejati, sumber denyut kehidupan.”. Akan tetapi sebaliknya, pada ketika lain ia pun dengan mudah mengatakan “Tentu saja bukan/ maksudku mengotori hubungan kita yang suci, tentu/ saja aku tak menghendaki sisa-sisa ini untukmu.”. Kedua ungkapan itu merujuk pada sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia, yakni mudah berubah pendapat, tidak punya pendirian tetap, tidak bertanggung jawab, dan munafik. Sifat-sifat demikian itu oleh penyair kembali dinyatakan dalam pernyataan berikut: Ketika pada suatu hari ada bangkai manusia terapung di muara itu, di sana-sini timbul pusaran air, dan tepi-tepi muara itu tiba-tiba ribut (mengatakan) “Tidak!/ Bukan aku yang memberinya isyarat ketika ia tiba-tiba/ berhenti di jembatan itu dan, tanpa memejamkan/ mata, membiarkan dirinya terlempar ke bawah dan,/ sungguh, aku tak berhak mengusutnya sebab bahkan/ lubuk-lubukku, dan juga lubuk-lubukmu, tidak sedalam....”. Pernyataan terakhir aku tidak berhak mengusutnya sebab bahkan/lubuk-lubukku, dan juga lubuk-lubukmu, tidaklah/sedalam.... merupakan “pasemon” tentang kekerdilan manusia ketika harus berhadapan dengan persoalan hidup dan kehidupan. Persona “aku”, “-ku” dan “-mu” (dicetak dalam huruf kecil) merujuk pada manusia yang memiliki keterbatasan dalam mehami hakikat hidup dan kehidupan, termasuk misteri Tuhan. Hal itu dilatarbelakangi oleh keterbatasan pengetahuan manusia (lubukku, lubukmu) tidak sedalam (pengetahuan yang dimiliki oleh Tuhan). Kutipan (19) berikut ini mendukung hal itu.

(19)  Muara yang tak pernah pasti sifatnya selalu mengajak laut
                 bercakap. Kalau kebetulan dibawanya air dari gunung,
                  katanya, “Inilah lambang cinta sejati, sumber denyut
                  kehidupan.” Kalau hanya sampah dan kotoran yang
                  dimuntahkannya ia berkata, “Tentu saja bukan
                  maksudku mengotori hubungan kita yang suci, tentu
                  saja aku tak menghendaki sisa-sisa ini untukmu.”
         Dan ketika pada suatu hari ada bangkai manusia terapung
                  di muara itu, di sana-sini timbul pusaran air, dan
                  tepi-tepi muara itu tiba-tiba bersuara ribut, “Tidak!
                  Bukan aku yang memberinya isyarat ketika ia tiba-tiba
                  berhenti di jembatan itu dan, tanpa memejamkan
                  mata, membiarkan dirinya terlempar ke bawah dan,
                  sungguh, aku tak berhak mengusutnya sebab bahkan
                  lubuk-lubukku, dan juga lubuk-lubukmu, tidaklah
                  sedalam....”
(Sapardi Djoko Damono, “Muara”,hal. 56)

Dalam hubungannya dengan kepenyairan Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad (2000:307—331) menyatakan hal-hal sebagai berikut.

Sapardi Djoko Damono masih tetap pada disiplin dan kerapihan ekspresi, yang agaknya memang sudah merupakan cirinya sejak mula. Ia nampaknya sebisa mungkin menahan diri dari kekenesan mencari-cari cara persajakan lain: ia nampaknya masih bisa hidup lancar dengan soneta dan kwatrin...Dengan lirik, dengan pengucapan subjektif, yang ringkas karena mempertahankan keutuhan emosi, dan yang lebih banyak menggunakan imaji-imaji sugestif daripada mengutarakan pernyataan-pernyataan konklusif, seorang penyair sebenarnya telah menampilkan diri secara tertentu: ia telah memilih untuk tidak berbicara lagi tentang semboyan dan prinsip-prinsip besar....Sapardi Djoko Damono telah menyusupkan diri dalam masalah-masalah yang lebih otentik: teka-teki hidup dan teka-teki kematian, satu pokok soal yang oleh puisi realisme-sosialis dan sebangsanya justru disensor dari kesadaran kita.

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Dongeng Marsinah”. Penyair Sapardi Djoko Damono dalam teks puisi ini menggunakan kalimat yang didukung pemakaian kias/lambang, metonimi, dan ironi. Kalimat-kalimat yang merupakan “pasemon” itu antara lain (1) “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa, “dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”, (2) Marsinah dijemput di rumah tumpangan untuk suatu perhelatan, (3) Ia diantar ke rumah Siapa, ia disekap di ruang pengap, ia diikat ke kursi; mereka kira waktu bisa disumpal agar lengkingan detiknya tidak kedengaran lagi, (4) Detik pun tergeletak, Marsinah pun abadi, (5) Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, meregang waktu bersaksi: marsinah diseret dan dicampakkan sendiri, (6) “Ini sorga bukan? Jangan saya diusir kedunia lagi; jangan saya dikirim ke neraka itu lagi”, dan (7) “saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.
Kalimat-kalimat itu merupakan “pasemon” yang didukung oleh pemakaian kias, metafora, metonimi, dan ironi. Kalimat (1) “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa, “dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”, secara referensial merupakan pandangan filosofis yang merepresentasikan metafora tentang pihak penguasa yang suka memaksakan kehendak. Kata “Siapa” (S kapital) merupakan metonimia dari pihak yang suka memaksakan kehendak—termasuk dalam hal menginter-pretasikan dan menarik kesimpulan terhadap sesuatu (dalam hal ini Marsinah yang dipandang berbahaya). Di era pemerintahan Orde Baru, sikap-sikap pemaksaan kehendak seperti itu lazim terjadi. Di era reformasi dewasa ini, pemaksaan kehendak seperti itu dipandang sebagai ironi.
Kalimat (2) Marsinah dijemput di rumah tumpangan untuk suatu perhelatan, merupakan “pasemon” yang dikemas secara halus dalam bentuk eufemisme. Di dalam kalimat ini terselip sebuah ironi, sebab fakta yang terjadi tidak seperti bentuk formal kalimat pernyataan itu. Hal itu diperkuat oleh kalimat (3) Ia diantar ke rumah Siapa, ia disekap di ruang pengap, ia diikat ke kursi; mereka kira waktu bisa disumpal agar lengkingan detiknya tidak kedengaran lagi. Kalimat (3) ini lebih mempertegas kalimat (2) tentang maksud kata “dijemput” untuk “suatu perhelatan”. Ternyata Marsinah disekap di ruang pengap dan diikat di kursi. Dalam kaitan itu secara ironis penyair lalu menyatakan “mereka kira waktu bisa disumpal agar lengkingan detiknya tidak kedengaran lagi”.
Kalimat (4) Detik pun tergeletak, Marsinah pun abadi, merupakan kias yang didukung pemakaian metafora. Kalimat ini berisi penekanan bahwa Marsinah dalam konteks puisi ini dinunuh oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kalimat (5) Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, meregang waktu bersaksi: Marsinah diseret dan dicampakkan sendiri merupakan kias/lambang yang dikemas dengan metafora dan metonimi yang secara ironis menggambarkan betapa tidak berdayanya rakyat kecil dalam memberikan saksi [semak-semak meregang waktu bersaksi]. Rakyat kecil tidak dapat berbuat apa-apa ketika mayat Marsinah dicampakkan sendiri.
Kalimat (6) “Ini sorga bukan? Jangan saya diusir kedunia lagi; jangan saya dikirim ke neraka itu lagi”, merupakan “pasemon” yang dikemas dengan kias berupa metafora, metonimi, dan secara ironis menyampaikan sindiran halus tentang tidak enaknya tinggal di dunia yang digambarkan seperti neraka. Kalimat (7) “saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana merupakan pengakuan Marsinah sebagai wanita biasa yang tidak pernah menginginkan sebuah penghargaan (upacara dan lencana).
Kalimat-kalimat seperti: “Marsinah itu [arloji sejati”; “Ia diantar ke rumah Siapa”; “Ini sorga bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi, jangan saya dikirim ke neraka itu lagi” merupakan bentuk struktur “pasemon” nominatif, sebab pilihan diksi arloji sejati, Ia, Siapa, sorga, dan neraka semuanya merupakan nomina yang bermakna tidak langsung. Ketidaklangsungan makna itu disebabkan karena diksi arloji sejati, Ia, Siapa, dan neraka tergolong kata-kata kias. Meskipun diksi Marsinah memiliki acuan yang jelas, yakni seorang buruh yang mati terbunuh, tetapi ketika oleh penyair dirangkaikan dengan kata dongeng, sehingga menjadi dongeng Marsinah, keduanya merupakan kata bentukan baru yang acuan maknanya meluas. Hal serupa berlaku untuk diksi Ia, Siapa, sorga, dan neraka dalam konteks teks puisi itu termasuk nomina yang memiliki makna tidak langsung dan merupakan “pasemon” yang berisi kritik sosial tentang berbagai hal dalam kehidupan manusia.
Dalam wacana puisi “Dongeng Marsinah” penyair Sapardi Djoko Damono secara tragis dan fantastis menggambarkan berbagai persoalan kehidupan hingga kematian. Persoalan-persoalan kehidupan oleh penyair dilambagkan dengan arloji yang berdetak. Tokoh Marsinah oleh penyair digambarkan sebagai (1) “arloji sejati yang [tak lelah berdetak memintal kefanaan yang abadi]”; (2) figur yang “tidak banyak kehendak, melainkan sekadar ingin hidup layak”; (3) “ia hanya suka merebus kata sampai mendidih”; dan (4) tokoh yang tidak suka menyulut api, “ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan matahari”. Dalam wacana puisi “Dongeng Marsinah” penyair melalui tokoh Marsinah secara tegas mempertanyakan inti kekejaman, azas kekuasaan, dan hakikat kemanusiaan. Inti kekejaman, azaz kekuasaan, dan hakikat kemanusiaan itu oleh penyair diungkapkan dengan struktur predikatif. Pada teks puisi “Dongeng Marsinah” penyair  menggunakan struktur kalimatif: (1) “Ia suka berpikir,” kata Siapa, /“itu sangat berbahaya”; (2) detik pun gerah/ berloncatan kian ke mari, dan (3) Detik pun tergeletak,/ Marsinah pun abadi. Ketiga kalimat itu disebut berstruktur kalimatif karena setiap kalimat terbentuk oleh susunan kata-kata yang mengandung bahasa kias.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Iklan”. Dalam wacana  puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dalam kalimat yang secara ironis berisi kritik sosial tentang seseorang yang lebih mencintai kesenangan duniawi ketimbang memikirkan kehidupan akhirat.
Dalam wacana puisi “Iklan”, penyair Sapardi Djoko Damono mengangkat diksi iklan sebagai nominatif yang tergolong kias yang mengandung ironi. Penyair secara ironis mengungkapkan tentang seseorang yang kecanduan menyaksikan ‘iklan’, padahal ‘iklan’ dalam tayangan televisi, misalnya, hanya sekadar selingan. Namun, secara tragis-ironis penyair  menempatkan ‘iklan’ itu sebagai hal yang utama dibanding ‘berita’ dan ‘cerita’. Dalam kehidupan manusia ada seseorang yang secara proporsional tidak bisa menempatkan hal yang utama dan hal lain yang sekadar selingan. Hal ini merupakan kiasan tentang ‘salah pilihnya’ manusia dalam menyikapi berbagai fenomena kehidupan. Bagaimana penyair mengemas gagasannya itu dapat dicermati dalam kutipan (20) berikut.

(20)       Ia penggemar berat iklan. “Iklan itu sebenar-benar
      hiburan,” kata lelaki itu. “Siaran berita dan cerita itu
      sekedar selingan.” Ia tahan seharian di depan televisi.
     ....
     Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang
     diucapkannya sebelum “Allahuakbar”
     adalah “Hidup Iklan”....

                                      (Sapardi Djoko Damono, “Iklan”, hal. 39)


Dalam kutipan itu dapat dicermati bahwa kehadiran diksi [iklan] berfungsi sebagai objek kalimat yang merupakan kias. Menurut pandangan penyair Sapardi Djoko Damono, secara ironis ‘iklan’ dipandang lebih penting daripada ‘berita’ dan ‘cerita’. Diksi [iklan] dalam wacana puisi tersebut tentu saja tidak semata-mata mengacu pada kata iklan secara denotatif, melainkan penyair  memiliki maksud lain, yakni ‘sesuatu yang membuat manusia terpikat, terlena, terhibur, dan bahkan dapat menyebabkan ajal’. Referensi yang tragis-ironis hadir dalam wacana puisi sebagai “pasemon” tentang manusia yang tidak dapat memilih dan membedakan antara yang utama dan yang sekadar pelengkap. Tragis dan ironisnya, manusia seperti itu oleh penyair  digambarkan menemui ajalnya di jalan yang sesat, sebab aku lirik ketika menghadapi ajal kematiannya mengucapkan “Hidup Iklan” sebelum mengucapkan “Allahu-akbar”.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur  lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Kelereng”. Dalam teks puisi ini penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon” dalam bentuk kalimat yang didukung kias yang merepresentasikan metafora tentang kritik sosial dalam hubungannya dengan pemikiran filosofis.
“Kelereng” dalam dunia anak-anak biasanya dijadikan alat permainan. Dalam permainan itu, oleh penyair , aku lirik ternyata kalah dan kelerengnya tinggal lima butir. Di jalan pulang, aku lirik memasukkan kelereng di dalam saku dan selalu meraba-rabanya karena kawatir kalau terjatuh dari lubang kantung celananya. Ketika hendak belajar, setelah makan malam, didapatinya kelerengnya berkurang satu. Oleh aku lirik, kelereng yang sisa itu ditaruh di atas meja dan ternyata tidak ada satu pun yang bulat sempurna sebab seharian telah berbenturan dengan sesamanya. Aku lirik boleh saja tidak peduli, tetapi kelerengnya yang lain (yang bintik-bintik, yang belimbing coklat, yang susu, yang loreng merah hijau) akan selalu bertanya di mana gerangan temannya yang satu itu.
Hal penting yang perlu ditandai dalam wacana puisi “Kelereng” ialah (1) aku kalah dalam bermain kelereng, (2) kelerengnya tinggal lima butir dan tidak ada lagi yang bulat sempurna karena seharian berbenturan dengan sesamanya, (3) aku harus mencari kelereng yang hilang. Ketiga hal ini secara tidak langsung, dengan pemakaian kias “kelereng” yang bentuknya tidak lagi bulat sempurna dan sebagian hilang, merepre-sentasikan pemikiran filosofis tentang “Hidup itu ibarat permainan di meja judi”, nasib baik atau buruk manusia semuanya bergantung pada Yang Maha Kuasa, dan manusia wajib berusaha mencari sesuatu yang kurang dalam dirinya. Pemikiran filosofis seperti itu disampaikan oleh penyair sebagai kritik sosial terhadap masyarakat yang menjunjung filosofi “Hidup itu ibarat permainan di meja judi” atau hanya mengandalkan untung-untungan. Untuk mendukung hal itu berikut ini dikemukakan kutipan (21).

(21)             Kalah main kelerengku tinggal lima butir. Aku anak
          laki-laki, tidak boleh menangis, kata Ibu. Kupungut
          kelereng itu satu demi satu, kumasukkan ke saku. Di
          jalan pulang, selalu kuraba-raba sebab kawatir kalau-kalau
          ada yang terjatuh dari lubang kantung celanaku.
              Ketika mau belajar, selesai makan malam, kudapati
          kelerengku berkurang satu. Kutaruh semua yang sisa di
          atas meja, tak ada lagi yang bulat sempurna sebab
          seharian berbenturan dengan sesamanya,  tetapi di mana
          gerangan kelerengku yang belimbing, yang warnanya
          biru? Aku anak laki-laki, tidak boleh menangis, kata
          Ibu.
              Aku boleh saja tak peduli, tetapi kelerengku yang lain
           —yang bintik-bintik, yang belimbing coklat, yang susu,
          dan yang loreng merah hijau—akan selalu bertanya
          padaku di mana gerangan temannya yang satu itu. Itu
          sebabnya aku harus mencarinya, tetapi ke mana aku tak
          tahu.
                         (Sapardi Djoko Damono, “Kelereng”, hal. 41)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Dojo Damono berjudul “Pada Suatu Magrib”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik sosial tentang sulitnya hidup di hari tua dalam setting kota besar Jakarta. “Pasemon” yang berisi kritik sosial itu juga merefleksikan pemikiran filosofis tentang gambaran masa tua yang meresahkan. “Pasemon” yang dikemukakan oleh penyair berupa kalimat kias yang didikung metafora, metonimi, dan ironi. Dalam kutipan (22) berikut ini dikemukakan “pasemon” yang berwujud kalimat itu.

(22)   Susah benar menyeberang di Jakarta ini;
        hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib.
        Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,
        Astagfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip
(Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Magrib”,hal. 79)

Dalam wacana puisi pendek, yang terdiri atas satu bait  dan terdiri atas empat larik itu dapat ditandai tiga kalimat yang penting. Ketiga kalimat itu adalah (1) Susah benar menyeberang di Jakarta ini, (2) Hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib, dan (3) Dalam usia yang hampir enampuluh ini, Astagfirulah! Rasanya di mana-mana ajal mengintip. Kalimat (1) ambigu, karena dapat mengacu makna denotatif dan sekaligus bermakna kias. Secara denotatif, kalimat itu mengandung makna sebagaimana terdapat dalam struktur kalimat itu, yakni “memang susah menyeberang di (jalan raya) di Jakarta ini”. Kalimat (1) itu juga merupakan kias, yakni berupa metafora tentang betapa susahnya melangsungkan hidup di kota besar seperti Jakarta; betapa susahnya hidup di hari tua dalam kota sebesar dan sesibuk Jakarta. Diksi “menyeberang” itu sendiri merupakan metafora yang mengiaskan sebuah perjalanan dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Jadi, kalimat (1) bersifat ambigu.
Kalimat (2) hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib merupakan “pasemon” yang berisi kritik sosial tentang pranata sosial yang tidak tertib. Kalimat (2) berupa kias yang didukung metafora dan ironi. Metafora dan ironi terdapat di dalam ungkapan hari hampir magrib yang merujuk pada pengertian ‘hari senja, tua, menjelang pergantian masa dari siang ke malam, masa rawan’ dan hujan membuat segalanya tak tertib yang merujuk pengertian ‘musibah (akibat hujan) membuat segalanya tidak menentu, tidak teratur, tidak tertib’. Kalimat (2) ini secara halus merupakan “pasemon” yang berisi kritik sosial tentang centang perenangnya Jakarta. Kalimat (3) Dalam usia yang hampir enampuluh ini, Astagfirulah! Rasanya di mana-mana ajal mengintip merupakan “pasemon” yang secara reflektif-filosofis berisi perenungan filosofis tentang kegelisahan manusia di masa tua. Di masa tua, menurut pemikiran SDD sebagaimana direfleksikan dalam kalimat (3), seseorang merasakan adanya ajal di mana-mana di mana-mana ajal mengintip.
  “Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Jakarta Juli 1996”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dalam bentuk kalimat yang didukung pemakaian metafora, metonimi, dan ironi untuk menyampaikan kritik sosial. Wacana puisi “Jakarta Juli 1996” secara langsung atau tidak langsung merupakan “rekaman” peristiwa gegap-gempitanya awal reformasi yang dilakukan oleh mahasiswa yang didukung oleh berbagai komponen masyarakat. Penyair merekam peristiwa itu dengan menggunakan aku lirik orang ketiga seperti ini: Katamu kemarin telah terjadi ribut-ribut di sini. Sisa-sisa pidato, yel, teriakan, umpatan, rintihan, derum truk, semprotan air, dan tembakan masih terekam lirih sekali di got dan selokan yang mampet. Ungkapan masih terekam lirih sekali di got dan selokan yang mampet merupakan “pasemon” yang berisi kritik sosial yang ditujukan kepada pihak yang tidak mau tahu, tidak mau mendengar, tidak mau perduli terhadap berbagai aktivitas yang terjadi. Pilihan diksi “got” dan “selokan yang mampet” secara metaforis memberikan gambaran bahwa berbagai peristiwa dan aktivitas yang telah dilakukan itu pada akhirnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berharga (terekam di got) dan tidak ada jalan keluarnya (selokan yang mampet).
Dalam wacana puisi “Jakarta Juli 1996” penyair Sapardi Djoko Damono mengung-kapkan “pasemon” tentang berbagai peristiwa ‘keributan’ yang terjadi di Jakarta pada Juli 1996 dengan struktur predikatif. Struktur predikatif itu tampil dalam struktur berikut: “Sisa-sisa pidato, yel, teriakan, umpatan, rintihan, derum truk, semprotan air, dan tembakan masih terekam lirih sekali di got dan selokan yang mampet”. Berbagai peristiwa yang terjadi di bulan Juli 1996 itu oleh penyair dinyatakan sebagai peristiwa yang ‘berbau busuk’ di got dan ‘tidak ada jalan keluar atau pemecahannya’ selokan yang mampet. Dengan cara “pasemon” penyair  mengungkapkan fenomena aktual yang terjadi. Bertolak dari berbagai fenomena aktual yang terjadi itu penyair pada akhirnya sampai pada renungan filsafati.
Penyair Sapardi Djoko Damono selanjutnya dengan “pasemon” yang berupa kalimat yang didukung kias, metafora, metonimi, dan ironi mempertanyakan: kau ini sebenarnya sang pemburu atau hewan yang luka itu. Di dalam kalimat ini penyair secara filosofis memper-tanyakan apakah aktivis yang “menjerit” ketika melakukan aksi unjuk rasa dan mendapat tekanan represif aparat keamanan itu merupakan “sang pemburu” atau “hewan yang luka itu”. Pemikiran filosofis yang diungkapkan dengan “pasemon” itu ditujukan kepada pembaca agar menentukan sendiri jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh penyair. Kutipan (23) berikut ini dapat memperjelas hal itu.

(23) Katamu kemarin telah terjadi
        ribut-ribut di sini.
       Sisa-sisa pidato, yel, teriakan,
       umpatan, rintihan, derum truk,
       semprotan air, dan tembakan
       masih terekam lirih sekali di got
       dan selokan yang mampet.
       Aku seperti mengenali suaramu
       di sela-sela ribut-ribut yang lirih itu,
       tapi sungguh mati aku tak tahu
       kau ini sebenarnya sang pemburu
       atau hewan yang luka itu.
(Sapardi Djoko Damono, “Jakarta Juli 1996”, hal. 81)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Dalam Setiap Diri Kita”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” yang menyatakan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat nafsu yang dalam ungkapan penyair: Dalam diri kita berjaga-jaga segerombolan serigala. Untuk memperkongkret penyampaian “pasemon”-nya, penyair  memakai kalimat-kalimat predikatif yang berisi kias, metonimi, dan ironi. Kalimat-kalimat yang didukung oleh pemakaian kias, metonimi, dan ironi itu secara keseluruhan untuk menyampaikan kritik sosial yang berkaitan dengan masalah pranata sosial (etika)—dalam hubungan antara manusia dengan manusia.
Secara ekspresif penyair Sapardi Djoko Damono menyatakan, di ujung kampung, lewat pengeras suara, para kyai penuh nafsu berkepentingan mengurusi saluran (birokrasi) yang busuk (para kyai menanyai setiap selokan,), keburukan dan kerusakan (setiap lubang di tengah jalan), dan segala bentuk penyelewengan (setiap tikungan); para pendeta dengan nafsu mengingatkan setiap aturan pembatas (pagar), setiap tempat keluar dan masuknya dogma (setiap pintu), dan setiap lahan yang ada di lingkungannya (setiap pekarangan). Semua itu membuat harmoni kehidupan dan keindahan tidak dapat tercipta (gamelan jadi langka); pada sisi lain, di keramaian kota, manusia mencari kebebasan dan kedamaian yang hilang (kita mencari burung-burung yang diusir) akibat budaya kekerasan yang dilakukan oleh aparat (sejak sering terdengar suara senapan angin orang-orang berseragam itu); semua itu, menurut penyair, yang melatarbelakangi huru-hara di kota (membakar kota sebagai permainannya). Agar lebih jelas, bagaimana penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon”, berikut ini dikemukakan kutipan (24).

(24)  Dalam setiap diri kita, berjaga-jaga
         segerombolan serigala.
         Di ujung kampung, lewat pengeras suara,
         para kyai menanyai setiap selokan,
         setiap lubang di tengah jalan,
         dan setiap tikungan;
         para pendeta menghardik setiap pagar,
         setiap pintu yang terbuka,
         dan setiap pekarangan.
         Gamelan jadi langka. Di keramaian kota
         kita mencari burung-burung
         yang diusir dari perbukitan
         dan suka bertengger sepanjang kabel listrik,
         yang mendadak lenyap begitu saja
         sejak sering terdengar
         suara senapan angin orang-orang berseragam itu.
         Entah kena sawan apa, rombongan sulap itu
         membakar kota sebagai permainannya.
(Sapardi Djoko Damono, “Dalam Setiap Diri Kita”, hal. 89)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Sonet: Kau Bertanya Apa”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dalam bentuk kalimat yang didukung oleh kias, metonimi, dan ironi. Kalimat “pasemon” yang didukung kias, metafora, metonimi, dan ironi itu digunakan oleh penyair untuk menyam-paikan kritik sosial yang berhubungan dengan masalah manusia dan harapan.
Oleh penyair dinyatakan bahwa harapan mungkin masih ada di dalam aktivitas hidup keseharian, bukan di dalam filsafat atau karya sastra seperti puisi Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih, di luar kata. Menurut penyair Sapardi Djoko Damono di dalam filsafat dan karya sastra terdapat berbagai pemikiran yang disampaikan dengan khotbah, ceramah, dan perdebatan tentang berbagai hal seperti kemiskinan, pencurian, penjarahan, dan lain-lain: Di dalam kata terdengar tak putus-putusnya suara orang berkhotbah, berceramah, dan berselisih. sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah, menjarah, atau menjadi gila; di dalam filsafat dan karya sastra, setiap pemikiran selalu diusut dan dipertanyakan asal muasalnya: di dalam kata setiap aksara dipertanyakan asal-muasalnya, setiap desis diusut keterlibatan maknanya; menurut penyair Sapardi Djoko Damono, mudah-mudahan masih ada harapan dalam bentuk perbuatan nyata: Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.  Kalimat-kalimat yang dicetak italic tersebut merupakan “pasemon” yang berwujud kalimat yang didukung oleh kias berupa metafora, metonimi, dan ironi.
Di dalam wacana puisi “Sonet: Kau Bertanya Apa” penyair Sapardi Djoko Damono secara dominan mengungkapkan gagasannya dalam struktur predikatif pada hampir setiap larik puisinya. Hal itu berarti bahwa penyair dalam menyampaikan “pasemon” cenderung menggunakan struktur predikatif ketimbang struktur nominatif. Penyair mempertanyakan, “apakah masih ada harapan?” dan dijawab “masih di luar kata”, sebab menurut penyair, “di dalam kata terdengar tak putus-putusnya suara orang berkotbah, berceramah, berselisih; mengemis, mencuri, berebut jatah, menjarah, menjadi gila; menyaksikan rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus, pohon-pohon tumbang; bahkan “di dalam kata masih saja setiap aksara dipertanyakan asal-usulnya, diusut keterlibatan maknanya”. Dalam situasi seperti itu, satu-satunya harapan yang tersisa adalah “di luar kata”.
Kalimat-kalimat tersebut dapat dicermati dalam kutipan (25) berikut ini.

(25) Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih,
        di luar kata. Di dalam kata terdengar tak putus-putusnya
        suara orang berkhotbah, berceramah, dan berselisih.
        Sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah,

        Menjarah, atau menjadi gila; sementara kita menyaksikan
        rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus,
        pohon-pohon tumbang—di dalam kata masih saja
        setiap aksara dipertanyakan asal-usulnya, setiap desis

        diusut keterlibatan maknanya. Konon, dulu,
        di dalam kata pernah terdengar desau gerimis kecil,
        cericit anak-anak burung, siut daun jatuh,
        dan langkah kabut pagi. Konon, dulu, pernah terdengar kita

        saling berbisik. Kau bertanya apa masih ada harapan
        Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.
    (Sapardi Djoko Damono, “Sonet: Kau Bertanya Apa”, hal. 105.

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Ayat-ayat Api”. Dalam teks puisi ini penyair  menyampaikan “pasemon” berwujud kalimat yang yang didukung oleh kias berupa metafora. Kalimat yang merupakan “pasemon” itu berhubungan dengan pemikiran filosofis tentang saat-saat kritis manusia menghadapi kematian. Diungkapkan oleh penyair bahwa setiap manusia  akan mengalami kematian. Di dalam menghadapi kematian itu, menurut pemikiran Sapardi Djoko Damono, manusia tidak memerlukan kecantikan, kehormatan, jabatan, dan bahkan pemikiran tentang “maut” itu sendiri: kau tidak lagi memerlukan apa pun: sisir, sepatu, pakaian seragam, bahkan ingatan akan penyeberangan ini; oleh karena itu, menurut pemikiran penyair, manusia disarankan agar  tenang menunggu kematian itu tanpa pamrih apa pun duduklah baik-baik, kau tak berhak mondar-mandir lagi tak berhak punya maksud apa pun; penyair pada akhirnya menyampaikan situasi krisis ketika manusia menghadapi kematian kami memang banyak astagafirullah, menumpuk di dekat sampah tak sempat diangkut, tergoda minyak habis terbakar. Pemikiran filosofis tentang kematian itu oleh penyair SDD diekspresikan dalam ayat /13/ dan /14/ sebagaimana kutipan (26) berikut ini.

(26) /13/
        kau akan menyeberangi kenyataan terakhir
        sesudah bentukmu diubah sama sekali

        kau tak lagi memerlukan apa pun: sisir, sepatu,
        pakaian seragam, bahkan ingatan akan penyeberangan ini

        duduklah baik-baik, kau tak berhak mondar-mandir lagi
        tak berhak punya maksud apa pun

        /14/
        kami memang sangat banyak
        astagfirulah

        menumpuk di dekat sampah
        tak sempat diangkut

                     tergoda minyak
                     habis terbakar
(Sapardi Djoko Damono, “Ayat-ayat Api”, hal. 143)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Aku Tulis Pamplet Ini”. Penyair Rendra dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan kalimat yang didukung oleh metafora dan ironi. Kalimat-kalimat yang didukung oleh metafora dan ironi itu oleh penyair Rendra digunakan untuk menyampaikan kritik sosial yang berhubungan dengan dunia birokrasi pemerintahan yang menyebabkan ketidakpastian bagi rakyat.
Penyair Rendra terdorong untuk menulis puisi karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah, akibatnya orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an. Penyair melihat adanya ketidakpastian hukum, aturan, dan perundangan sehingga kehidupan di luar kekuasaan menjadi tidak menentu, menjadi penyakit, dan menimbulkan kejahatan Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki, menjadi marabahaya, menjadi isi kebon binatang. Penyair juga menyatakan, apabila kritik hanya boleh lewat salurana resmi maka hidup akan terasa hambar Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Kalimat-kalimat yang digunakan oleh penyair dalam menyampaikan kritik sosial itu tergolong sebagai “pasemon” dengan metafora yang sederhana. Kesederhanaan kalimat-kalimat yang digunakan oleh penyair tentu saja tidak mengurangi bobot ide yang ingin disampaikan. Kesederhanaan kalimat penyair  tampak dalam kutipan (27) berikut ini.

(27) Aku tulis pamplet ini
        karena lembaga pendapat umum
        ditutupi jaring labah-labah.
        Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
        dan ungkapan diri ditekan
        menjadi peng-iya-an

        Apa yang terpegang hari ini
        bisa luput besok pagi.
        Ketidakpastian merajalela.
        Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
         menjadi marabahaya,
        menjadi isi kebon binatang

        Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
         maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
         Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan
         Tidak mengandung perdebatan
         Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
(Rendra, “Aku Tulis Pamplet Ini”, hal. 31)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdirik atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Sebatang Lisong”. Dalam teks puisi ini penyair Rendra menyampaikan “pasemon” dengan kalimat-kalimat yang didukung oleh metafora dan ironi. Kalimat-kalimat tersebut digunakan oleh penyair untuk menyampaikan kritik sosial yang berhubungan dengan masalah pendidikan. Metafora yang dipilih oleh Rendra tergolong sebagai metafora yang sederhana, namun meskipun begitu dapat menyampaikan ironi-ironi yang secara kritis dapat menyoroti sisi buruk dunia pendidikan.
Diungkapkan oleh penyair Rendra dengan kalimat-kalimat sederhana tentang sarjana-sarjana yang menganggur aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya. Penyair juga melihat protes-protes yang tidak berani diungkapkan aku melihat protes-protes yang terpendam terhimpit di bawah tilam. Penyair juga berpendapat bahwa kesenian tidak ada artinya apabila terpisah dari derita lingkungan Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Penyair juga berpendapat bahwa berpikir tidak ada gunanya apabila terpisah dari masalah kehidupan Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kutipan (28) berikut ini menunjukkan betapa sederhananya kalimat-kalimat yang digunakan oleh penyair Rendra dalam menyampaikan kritik sosial.

(28)  Menghisap udara
        yang disemprot deodorant,
        aku melihat sarjana-sarjana menganggur
        berpeluh di jalan raya;
        aku melihat wanita bunting
        antri uang pensiunan
        .....
        Gunung-gunung menjulang.
        Langit pesta warna di dalam senjakala.
        Dan aku melihat
        protes-protes yang terpendam,
        terhimpit di bawah tilam
        ....
        Apakah artinya kesenian,
        bila terpisah dari derita lingkungan.
        Apakah artinya berpikir,
        bila terpisah dari masalah kehidupan.
(Rendra, “Sajak Sebatang Lisong”,hal. 33—35)

“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Berlayar”. Penyair Linus Suryadi dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan kalimat yang didukung metafora. Kalimat yang didukung metafora itu oleh penyair Linus Suryadi digunakan untuk menyampaikan pemikiran filosofis tentang tujuan hidup dan kehidupan. Berkaitan dengan masalah hidup dan kehidupan manusia, penyair secara metaforis memberikan ilustrasi tentang kesetiaan pada hidup dan hiudup kepada kesetiaan laksana jaring-jaring ikan dijalin dan dikembangkan. Pencarian itu ibarat perjudian yang mempertaruhkan hidup atau mati dan Ke sanalah kita berlayar. Setiap manusia dalam hidup dan kehidupannya bergulat dan berusaha memahami tujuan hidupnya.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Lagu Tentang Seorang Penggesek Rebab”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan kalimat yang didukung oleh metafora dan ironi. Kalimat yang didukung oleh penggunaan metafora dan ironi itu digunakan untuk menyampaikan kritik sosial yang berhubungan dengan kekerasan. Penyair dalam wacana puisi ini menyampaikan pemikiran filosofis sebagai berikut kenapa mencapai kelembutan harus lewat kekerasan?. Pemikiran filosofis yang mengandung kritik sosial itu secara tidak langsung ditujukan kepada fenomena yang lazim terjadi di masyarakat, bahwa untuk menciptakan kedamaian (kelembutan) biasanya dilakukan kekerasan—seperti biasa dilakukan oleh rezin Orde baru dengan Daerah Operasi Militernya. Hal itu jelas merupakan ironi.
Dalam wacana puisi “Lagu Tentang Seorang Penggesek Rebab” penyair menghadirkan perbandingan dalam struktur predikatif: “3000 gesekan lebih perih dari 3000 rajaman/ 3000 sayatan lebih pedih dari 3000 tikaman”. Perbandingan ini untuk memberi aksentuasi gagasan yang disampaikan kemudian: “kenapa mencapai kelembutan harus lewat kekerasan?”. Struktur predikatif yang hadir dalam bentuk perbandingan itu digunakan oleh penyair untuk melukiskan pertanyaan filosofis “kenapa mencapai kelembutan harus lewat kekerasan?”. Pertanyaan filosofis ini memang tidak dijawab oleh penyair, melainkan dibiarkannya terbuka sebagaimana adanya. Hal itu berarti para pembacalah yang harus merenungkan “jawabannya”.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur lambang/kias kategori nominatif dan predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Downtown”. Di dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan kalimat-kalimat yang didukung pemakaian metafora untuk menyampaikan kritik sosial dalam hubungannya dengan kejahatan. Dinyatakan oleh penyair bahwa di Indonesia terdapat fenomena yang disebut “bajing” dan “bajingan”. Di dalam puisi “Downtown”, penyair menyusun gagasannya dalam bentuk struktur nominatif. Nomina yang terdapat di dalam puisi ini ialah bajing dan bajingan. Diksi bajing dan bajingan ini selain berupa nomina juga berupa lambang yang secara imajinatif merupakan imaji visual. Dalam konteks wacana puisi, memang diksi bajing dan bajingan hadir sebagaimana adanya. Namun, oleh karena kedua diksi tersebut merupakan lambang, maka kedua pilihan kata itu merepresentasikan makna lain. Hal itu dapat disimak dalam kutipan (29) berikut.

(29)“Kenji Nakagumi, bajing
       di negeriku banyak, apalagi bajingan!”

                      (Linus Suryadi AG, “Downtown”, hal. 34)

Diksi bajing dan bajingan diambil dari khazanah budaya Jawa oleh penyair Linus Suryadi AG. Kata-kata itu, dalam khazanah budaya Jawa, dapat mengemban makna konotatif tentang kelakuan jahat. Bajing merupakan binatang pengerat yang suka melobangi buah kelapa, sedangkan bajingan adalah sifat dan sikap kurang ajar bagi seseorang yang tidak mengenal aturan, atau suka melanggar aturan dan norma-norma yang berlaku. Kedua kata itu secara ironis digunakan oleh penyair untuk memotret fenomena yang ada di tengah masyarakat Indonesia. Baik bajing maupun bajingan keduanya suka diburu orang dan kadang-kadang memburu orang.
“Pasemon” berwujud kalimat yang terdiri atas unsur-unsur  lambang/kias kategori predikatif berupa metafora, metonimi, atau ironi juga terdapat di dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Bintang Jatuh”. Dalam teks puisi ini penyair  menyampaikan “pasemon” dengan kalimat yang didukung oleh kias berupa metafora. Sebelum menyampaikan “pasemon” yang berisi pemikiran filosofis tentang hakikat hidup dan kehidupan, penyair memberi ilustrasi berupa fenomena alam, yaitu bintang jatuh (Lintang Kemukus, Jawa, SDY) dan kemudian menyampaikan pertanyaan yang mengarah pada pemikiran filosofis: Dinda, begitukah hidup kita?. Pertanyaan itu dalam konteks wacana puisi disusun seperti kutipan (30) berikut ini.

(30) Celorot cahaya pijar menggores kelam
        sekejap lenyap
        balik ke dalam kegelapan jagat malam.

        Dinda, begitukah hidup kita?
 (Linus Suryadi AG, “Bintang Jatuh”, hal. 111)

Dalam wacana puisi “Golf untuk Rakyat”, penyair Darmanto Jatman menyampaikan “pasemon” melalui baris kalimat dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa. Ketiga bahasa ini oleh penyair dimanfaatkan untuk menyampaikan kritik terhadap para pejabat yang dengan seenaknya membuat kebijakan untuk rakyat. Rakyat diposisikan sebagai pihak yang hanya bisa menunggu “sabda” dari para penguasa. Akan tetapi, suara rakyat yang murni sesungguhnya hanya percaya pada “sabda” Gusti Allah: Gusti, kami tunggu sabda paduka!. Sikap rakyat seperti itu dalam perspektif budaya Jawa dipandang bener (benar) dan pener (tepat), sebab menurut kalimat dalam puisi “Golf untuk Rakyat” karya Darmanto Jatman: Yes. You are right! Tak gampang jadi orang “kajen keringan”/ Serba “ewuh aya ing pambudi”. Menurut penyair Darmanto Jatman sikap rakyat yang menunggu “dawuh” atau perintah penguasa itu benar dan tepat. Penyair juga menyatakan bahwa menjadi orang terhormat itu tidak mudah (Tak gampang jadi orang “kajen keringen”), sebab serba “Ewuh aya ing pambudi”.

2. “Pasemon” Berwujud Bait
“Pasemon” berwujud bait terdiri atas unsur-unsur kalimat-kalimat kias/lambang yang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, atau ironis. “Pasemon” berwujud  bait terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat yang bersifat metaforis, metonimis, atau ironis terdapat di dalam teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Sodom dan Gomora”. Dalam teks puisi “Sodom dan Gomora” penyair  menyampaikan “pasemon” yang berhubungan dengan masalah sosial-religius dalam bentuk bait yang terdiri atas kalimat kias berupa metafora, metonimi, dan ironi. Kutipan (31) berikut ini menunjukkan bagaimana penyair mengemas “pasemon” dalam bentuk bait.

(31Tuhan
        tertimbun
        di balik surat pajak
        berita politik
        pembagian untung
        dan keluh tangga kurang air.
(Subagio Sastrowardoyo, “Sodom dan Gomora”, hal. 11)

Penyair Subagio Sastrowardoyo, sebagaimana tampak pada kutipan (31), menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik sosial-religius dengan bait yang didukung kalimat kias berupa metafora, metonimi, dan sekaligus ironi. Kalimat metaforis dalam bait ini dalam bait ini sekaligus merupakan kalimat metonimis, dan ironis. Kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu terbentuk dari diksi Tuhan dan frasa-frasa surat pajak, berita politik, pembagian untung, dan keluh tangga kurang air.
“Pasemon” berwujud bait terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Kubu”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat kias yang berupa metafora, metonimi, dan ironi. Penyair  mengungkapkan bagaimana kita dapat bergembira kalau pada detik ini ada bayi yang mati kelaparan,  seorang istri bunuh diri karena sepi, setengah rakyat terserang wabah penyakit. Menurut penyair, tidak ada alasan untuk bergembira selama masih ada orang menangis di hati atau berteriak serak minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi. Penyair lalu menandaskan bahwa inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata dekat dinding kubu dan menanti. Judul puisi “Kubu” dalam konteks ini mengacu pada pengertian ‘berjaga-jaga’, ‘menyiapkan diri’, dan ‘waspada’ terhadap penderitaan yang terjadi ‘di dekat sini’ atau ‘jauh di kampung orang’. Kutipan (32) berikut ini menunjukkan hal itu.

(32)  Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
         ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
         bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang wabah
         penyakit—barangkali di dekat sini
         atau jauh di kampung orang,
         Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
         ada orang menangis di hati atau berteriak serak
         minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan
                  berpribadi—
         barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
         Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
         untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
         dekat dinding kubu dan menanti.
(Subagio Sastrowardoyo, “Kubu”, hal.  22)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi “Kayon” karya penyair Subagio Sastrowardoyo. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” tentang pemikiran filosofis dengan bait yang terdiri atas kalimat metaforis. Diungkapkan oleh penyair ketika manusia telah memiliki banyak pengalaman dan memiliki pemahaman tentang hidup dan kehidupan, maka ia akan diam tak berbicara. Gagasan seperti itu diekspresikan oleh penyair dengan satu bait dan satu kalimat kias yang berupa metafora sebagaimana kutipan (33) berikut ini.

(33)   pohon purba
        -- di tengah hutan merah tua—
        tahu akan makna dunia
        maka diam
        tak bicara
(Subagio Sastrowardoyo, “Kayon”, hal. 62)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan dalam wacana puisi “Kenikmatan-kenikmatan” karya penyair Subagio Sastrowardoyo. Dalam wacana puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas pemakaian kalimat kias yang secara metaforis, metonimis, dan ironis mengemukakan makna di balik pernyataan-pernyataan. Penyair berharap agar tidak ada pelarangan untuk merasakan derita yang dialami oleh umat manusia. Hal itu dapat ditemukan dalam kutipan (34) berikut ini.


(34)  Jangan dilarang saya merasakan
         kenikmatan-kenikmatan:
         --lezat, kulit pisang yang saya pungut
           di pinggir jalan saya mamah pelan-pelan
         --geli, susu ibu yang kering menggantung
           saya isap habis air teteknya
         --lucu, perut saya buncit seperti bukit
           karena terserang busung lapar
         Jangan dilarang saya merasakan
         kenikmatan-kenikmatan, sebab
         kenikmatan-kenikmatan ada
         di mana-mana:
         di kolong jembatan, di muka pintu
         toko-toko, di comberan kota-kota
         di kakilima Kalkuta
         di gubug-gubug rakyat Haiti
         di gurun pasir Sudan
         di lorong mesum New York
         --mengasyikkan, puluhan lalat hijau
           merubung koreng di muka bayi
         --menggairahkan, perempuan muda terbaring
           telanjang kehabisan pakaian
         --mempesonakan, badan kurus tiba-tiba
           roboh menggeliat sekarat
         Aduh, jangan dilarang saya merasakan
         kenikmatan-kenikmatan
(Subagio Sastrowardoyo, “Kenikmatan-kenikmatan”, hal. 96)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan dalam teks puisi “Der Prozess” karya Goenawan Mohamad. Penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat kias yang secara metaforis mengungkapkan tentang buruknya kinerja aparat kepolisian. Digambarkan oleh situasi di kantor polisi yang sepi karena ada kematian. Dalam situasi seperti itu, hati nurani polisi ingin berkata jujur dalam membuat laporan kematian itu. Namun, ternyata dalam laporan berita acara kematian itu ‘kebenaran’ tidak hadir lantaran berbagai sebab. Di dalam laporan berita acara kematian itu ada kepalsuan dan kebohongan. Persoalan kebohongan inilah yang menjadi sorotan penyair dalam teks puisi “Der Prozess”. Hal itu dapat diketahui dari kutipan (35) berikut ini.

(35) ....
       Dan kantor polisi itu sepi
       oleh bau orang mati
       Dan kertas-kertas sibuk, meski cuma berdiri:
       “Tuliskan lagi, tuliskan lagi”

       Namanya Sakerah. Umur 35.
       Ia tidak mati disiksa. Lihat tandanya.
       Bahkan kami sendiri lupa
       ada orang dalam sel ke-3.

(Goenawan Mohamad, “Der Prozess”, hal. 50)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Misalkan Kita di Sarajevo”. Penyair Goenawan Mohamad dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” yang berisi pengandaian tentang gambaran kota yang berantakan akibat perang berkepanjangan. Pengandaian-pengandaian itu dituangkan dalam bentuk bait yang terdiri atas penggunaan kalimat-kalimat kias yang secara metaforis, metonimis, dan ironis mereflek-sikan sebuah lanskap keadaan kota yang berantakan akibat perang berkepanjangan. Pengandaian itu dihadirkan oleh penyair dengan diksi “misalkan”: Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk dengan kanon sepucuk dan bertanya benarkah ke Sarajevo ada secelah pintu masuk; Misalkan kita di Sarajevo; tembok itu, dengan luka-luka peluru, akan bilang “tidak”, selepas galau. Setelah mengungkapkan suatu gambaran lanskap kota yang porak-poranda, penyair kemudian sampai pada pengungkapan pertanyaan: Apakah yang mereka saksikan sebenarnya di Sarajevo: sebentang samun, tanah yang redam? Apakah yang mereka saksikan sebenarnya? dan pernyataan: Keyakinan dipasak di atas mihrab dan lumbung gandum dan tak ada lagi orang membaca. Gambaran lanskap itu menurut penyair Goenawan Mohamad merupakan gambaran kata hati: Hanya mungkin pada kita masih ada seutas tilas, yang tak terseka. Atau barangkali sebentuk katahati?. Dalam bentuk bait, penyair menyampaikan “pasemon” sebagaimana kutipan (36) berikut ini.

(36) Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk
        dengan kanon sepucuk,
        dan bertanya benarkah ke Sarajevo
        ada secelah pintu masuk.

        Misalkan kita di Sarajevo; tembok itu,
        dengan luka-luka peluru,
        akan bilang “tidak”,
        selepas galau.

        Apakah yang mereka saksikan sebenarnya
        di Sarajevo: sebentang samun,
        tanah yang redam?
        Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?

        Keyakinan dipasak
        di atas mihrab dan lumbung gandum
        dan tak ada lagi
        orang membaca.

        Hanya mungkin pada kita
        masih  ada seutas tilas,
        yang tak terseka. Atau barangkali
        sebentuk asli katahati?
(Goenawan Mohamad, “Misalkan Kita di Sarajevo”, hal. 13)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat-kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Tuan”. Dalam teks puisi ini penyair dengan bait yang terdiri atas kalimat metaforis menyampaikan “pasemon” tentang manusia yang belum siap menghadapi ajal. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (37) berikut ini.

(37) Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
        saya sedang keluar.
(Sapardi Djoko Damono, “Tuan”, hal. 73)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Dongeng Marsinah”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik sosial dengan bait yang didukung kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Bait ini berwujud penuturan langsung aku lirik bernama Marsinah yang berisi penyangkalan terhadap persepsi orang banyak tentang sosok dirinya yang sering digambarkan secara salah. “Pasemon” yang berwujud bait yang didukung oleh kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati dalam kutipan (38) berikut ini.

(38)  “Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
        wanita berotot,
        yang mengepalkan tangan, yang tampangnya garang
        di poster-poster itu;
        saya tidak pernah jadi perhatian
        dalam upacara, dan tidak tahu
        harga sebuah lencana.”

       (Sapardi Djoko Damono, “Dongeng Marsinah”, hal. 27—32)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kalimat kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Sonet: Entah Sejak Kapan”. Dalam teks puisi ini penyair Sapardi Djoko Damono menyampaikan “pasemon” yang berhubungan dengan pemikiran filosofis dan etis tentang kegelisahan manusia. “Pasemon” yang disampaikan oleh penyair itu berwujud bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Oleh penyair  secara metaforis, metonimis, dan ironis dinyatakan, (1) entah sejak kapan manusia menjadi resah dan gelisah di antara kesombongan manusia di dunia (kita suka gugup frasa-frasa pongah di kain rentang yang berlubang-lubang sepanjang jalan raya itu); (2) entah sejak kapan manusia saling menghardik dan saling mengancam di antara sesamanya (kita berhimpitan di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak); (3) entah sejak kapan manusia “tergencet” di dalam arus suara yang tidak beraturan (kita tergencet di sela-sela huruf-huruf kaku yang tindih-menindih yang berjuntai di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas itu); kemudian secara filosofis penyair  menyampaikan pemikiran bahwa (4) rupanya manusia telah lama suka mengimajinasikan dan mengasosiasikan dirinya sebagai kain rentang koyak-moyak dan berusaha bertahan hidup (telah sejak lama rupanya kita suka membayangkan diri kita menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin). Agar lebih jelas bagaimana penyair menyampaikan “pasemon” berikut ini dikemukakan kutipan (39).

(39)  Entah sejak kapan kita suka gugup
        di antara frasa-frasa pongah
        di kain rentang yang berlubang-lubang
        sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan

        di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak
        di kain rentang yang ditiup angin,
        yang diikat di antara batang pohon
        dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela

        huruf-huruf kaku yang tindih-menindih
        di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan
        yang tanpa lampu lalu-lintas itu. Telah sejak lama
        rupanya kita suka membayangkan diri kita

        menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya
        bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin.

      (Sapardi Djoko Damono, “Sonet: Entah Sejak Kapan”, hal. 95)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dan ironis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Sebatang Lisong”. Penyair Rendra dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dalam bentuk bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis dan ironis. Bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis dan ironis itu digunakan untuk menyampaikan kritik sosial terhadap dunia pendidikan. Kutipan (40) berikut ini menunjukkan hal itu.

(40)  Menghisap sebatang lisong,
        melihat Indonesia Raya,
        mendengar 130 juta rakyat,
        dan di langit
        dua tiga cukong mengangkang,
        berak di atas kepala mereka

        Matahari terbit.
        Fajar tiba.
        Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
        tanpa pendidikan

        Aku bertanya,
        tapi pertanyaan-pertanyaanku
        membentur meja kekuasaan yang macet,
        dan papantulis-papantulis para pendidik
        yang terlepas dari persoalan kehidupan.

        Delapan juta kanak-kanak
        menghadapi satu jalan panjang,
        tanpa pilihan,
        tanpa pepohonan,
        tanpa dangau persinggahan
        tanpa ada bayangan ujungnya.

        Aku bertanya,
        tapi pertanyaan-pertanyaanku
        membentur jidat penyair-penyair salon
        yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
        sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
        dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
        termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

        Bunga-bunga bangsa tahun depan
        berkunang-kunang pandang matanya,
        di bawah iklan berlampu neon.
        Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
        menjadi gebalau suara yang kacau,
        menjadi karang di bawah muka samodera.

       (Rendra, “Sajak Sebatang Lisong”, hal. 33—35)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dan ironis dapat ditemukan juga dalam wacana puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Anak Muda”. Dalam teks puisi ini penyair Rendra menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik yang berhubungan dengan masalah pendidikan (edukatif) dalam bentuk bait yang terdiri atas kalimat yang bersifat metaforis dan ironis. Dikemukakan oleh penyair dalam “Sajak Anak Muda” bahwa anak-anak muda merupakan generasi gagap yang disebabkan oleh orang tua yang takabur, tidak diajar dalam hal keadilan, berpolitik, dasar ilmu hukum, ilmu jiwa, dan logika. Bentuk “pasemon” berupa bait yang terdiri atas kalimat metaforis dan ironis itu dapat dicermati dalam kutipan (41) berikut ini.

(41)  Kita adalah angkatan gagap
        yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
        Kita kurang pendidikan resmi
        di dalam hal keadilan,
        karena tidak diajarkan berpolitik,
        dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

        Kita melihat kabur pribadi orang,
        karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

        Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
        karena tidak diajar filsafat atau logika.
(Rendra, “Sajak Anak Muda”, hal. 36—39)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi “Sajak SLA” gubahan Rendra. Dalam teks puisi ini penyair Rendra menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik sosial di bidang pendidikan dan moral. “Pasemon” yang dikemukakan oleh penyair berbentuk bait yang didukung oleh kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Kalimat-kalimat yang mendukung keutuhan dan kesatuan bait secara metaforis, metonimis, dan ironis mengungkapkan tentang buruknya dunia pendidikan yang menimbulkan dampak buruknya moral masyarakat. Kutipan (42) berikut ini menunjukkan hal itu.

(42)   Murid-murid mengobel kelentit ibu gurunya.
         Bagaimana itu mungkin?
         Itu mungkin,
         Karena tidak ada patokan untuk apa saja.
         Semua boleh. Semua tidak boleh.
         Tergantung pada cuaca.
         Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.
         Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata- kata.

         Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang.
         Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.
         Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.
         Dan juga tonikum-tonikum dan obat perangsang yang  dianjurkan
         oleh dokter.
         Maka berkatalah ia
         Kepada para orang tua murid-muridnya:
         “Kita bisa mengubah keadaan.
         Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,
         terpandang di antara tetangga,
         boleh dibanggakan pada kakak mereka.
         Soalnya adalah kerjasama antara kita.
         Jangan sampai kerjaku terganggu,
         karna atap yang bocor.”

         Dan papa-papa semua senang.
         Dipegang-pegang tangan ibu guru,
         dimasukkannya uang ke dalam genggaman,
          serta sambil lalu,
         di dalam suasana persahabatan,
         teteknya disinggung dengan siku.
 (DW 049 “Sajak SLA”, WR, PP: 40)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Seonggok Jagung di Kamar”. Teks puisi ini, sebagaimana wacana puisi “Sajak Sebatang Lisong”, “Sajak Anak Muda”, dan “Sajak SLA”, memiliki persamaan persoalan, yakni berisi kritik terhadap buruknya dunia pendidikan. Hal yang menonjol dalam wacana puisi “Sajak Seonggok Jagung di Kamar” ialah digunakannya bentuk-bentuk pertanyaan dalam menyampaikan “pasemon”. Bentuk-bentuk pertanyaan itu oleh penyair dikemas dalam bentuk bait yang didukung oleh kalimat-kalimat metaforis dan ironis. Hal itu dapat dicermati dalam kutipan (43) berikut ini.

(43)  Aku bertanya:
        Apakah gunanya pendidikan
        bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
        di tengah kenyataan persoalannya?
        Apakah gunanya pendidikan
        bila hanya mendorong seseorang
        menjadi layang-layang di ibukota
        kikuk pulang ke daerahnya?
        Apakah gunanya seseorang
        belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
        atau apa saja,
        bila akhirnya,
        ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
        “Di sini aku merasa asing dan sepi!”
(Rendra, “Sajak Seonggok Jagung”, hal. 44—46)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Gadis dan Majikan”. Dalam teks puisi ini  penyair Rendra, sebagaimana wacana puisi “Sajak Sebatang Lisong”, “Sajak Anak Muda”, dan “Sajak SLA”, dan “Sajak Seonggok Jagung” menyampaikan “pasemon” yang berisi kritik terhadap buruknya dunia pendidikan. Dalam wacana “Gadis dan Majikan” sebagaimana tersurat pada judulnya diperankan oleh aku lirik gadis yang berprofesi sebagai pelayan dan majikannya. Penyair dalam puisi ini menyampaikan “pasemon” dalam bentuk bait yang didukung oleh kalimat-kalimat ironis, sebagaimana dapat dicermati pada kutipan (44) berikut ini.

(44)   Janganlah tuan seenaknya memelukku.
         Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.
         Aku bukan ahli ilmu menduga,
         Tetapi jelas sudah kutahu
         Pelukan ini apa artinya...

         Siallah pendidikan yang aku terima.
         Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
         Kerapian, dan tatacara.
         Tetapi lupa diajarkan:
         Bila dipeluk majikan dari belakang,
         Lalu sikapku bagaimana!

(Rendra, “Sajak Gadis dan Majikan”, hal. 47—49)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Rendra berjudul “Sajak Burung-burung Kondor”. Penyair Rendra dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan bait yang didukung oleh kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Persoalan yang diungkapkan oleh penyair dengan cara “pasemon” berhubungan dengan kritik sosial di bidang ketidakadilan yang menimbulkan penderitaan di kalangan rakyat. Kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis yang digunakan oleh penyair membentuk bait yang padu dan keheren. Bait yang padu dan koheren itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara “pasemon”. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (45) berikut ini.

(45)  Penderitaan mengalir
        dari parit-parit wajah rakyatku.
        Dari pagi sampai sore,
        rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
        menggapai-gapai,
        menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
        di dalam usaha tak menentu.
        Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
        dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
        dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

(Rendra, “Sajak Burung-burung Kondor”, hal. 66—67)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Berdiri di Pinggir Kali Begitu Dekat Hati Kita”. Penyair Linus Suryadi AG dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Persoalan yang dikemukakan oleh penyair dengan cara “pasemon” berhubungan dengan masalah etis dan filosofis. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (46) berikut ini.

(46)  Sepertinya geriap pasir pada masanya, sepertinya penyap
        air di jurang sana, seakan gelagat engkau dan aku akan
        terusir karena cuaca

        Berdiri di pinggir sungai, demikian dekat hati kita
        engkau dan aku diam, engkau dan aku menancapkan
             salam
        Jangan juga menerkanya, o, Kekasih
        muara yang tenggelam

(Linus Suryadi AG, “Berdiri di Pinggir Sungai, Demikian Dekat Hati Kita”, hal. 3)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dapat ditemukan juga dalam wacana puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Berlayar”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis. Bait yang didukung oleh pemakaian kalimat-kalimat metaforis itu dipergunakan oleh penyair untuk menyampaikan “pasemon” yang berhubungan dengan pemikiran filosofis tentang hidup, kehidupan, dan kesetiaan.
Dalam wacana puisi “Berlayar” penyair menggunakan “pasemon” dengan struktur predikatif, baik dalam bentuk pertanyaan maupun dalam bentuk pernyataan tentang ‘pencarian identitas diri dan kesempurnaan hidup’. Bagi penyair kehidupan dilambangkan dengan “lautan” yang begitu jembarnya ‘luas’ dan sarana untuk mengarungi hidup dan kehidupan dilambangkan dengan “perahu”. Tantangan hidup dan kehidupan dilambangkan dengan kata “ombak” yang begitu dahsyatnya ‘begitu besar dan keras’. Kesetiaan kepada hidup dan hidup kepada kesetiaan dilambangkan dengan “jaring-jaring ikan” yang dijalin lalu dikembangkan. Penyair Linus Suryadi AG memvisualisasikan “pencarian” jati diri ibarat perjudian yang mempertaruhkan “hidup atau mati”.
Hal itu dapat dicermati pada kutipan (47) berikut ini.

(47)  Lautan begitu jembarnya
        perahu begitu besarnya?
        Ombak begitu dahsyatnya
        dirimu berapa besarnya?

        Jaring-jaring ikan ditebar
        jaring-jaring hidup digelar
        Dalamnya, arus tak terduga
        kadang maut tersangkut jua

        Kesetiaan pada hidup
        hidup kepada kesetiaan
        Laksana jaring-jaring ikan
        dijalin lalu dikembangkan

        Pencarian ibarat perjudian
        hidup atau mati, jadi taruhan
        Tapi kita betah, kita krasan
        lahir sebagai anak kepulauan

(Linus Suryadi AG, “Berlayar”, hal. 19—20)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Lanskap Pagi Suatu Hari, Iowa”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis dan ironis. “Pasemon” yang disampaikan oleh penyair berhubungan dengan masalah filosofis tentang kesepian dan kesendirian manusia. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (48) berikut ini.

(48)  Jerit pahit burung
        di puncak gedung
        Mengibaskan dingin
        ke langit suwung!
        ...
        Wajah pucat
        di kaca bisu
        Hasrat tersekat
        di beku salju
     (Linus Suryadi AG, “Lanskap Pagi Suatu Hari, Iowa”, hal. 38)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dan ironis dapat ditemukan juga dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Sajak”. Dalam teks puisi ini penyair Linus Suryadi AG menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat metaforis dan ironis. “Pasemon” yang disampaikan oleh penyair  berhubungan dengan masalah pemikiran filosofis tentang hakikat “sajak”. Bait yang mengungkapkan “pasemon” itu tersusun sebagaimana pantun tradisional Jawa berupa parikan, sebagaimana kutipan (49) berikut ini.

(49)  Wajah bodoh
        manggu-manggu
        ada seloroh
        sunyi dan bisu

(Linus Suryadi AG, “Sajak”, hal. 73)

“Pasemon” yang berwujud bait yang didukung oleh unsur kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat di dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Borobudur”. Bait yang oleh penyair Linus Suryadi AG digunakan untuk menyampaikan “pasemon” itu tersusun sebagaimana pantun tradisional Jawa, yakni parikan. Dalam teks puisi “Borobudur” dapat ditemukan struktur predikatif yang hadir dalam bentuk pertanyaan berikut: “Kau menebak/penuh murka// Ini seloka atau realita?”. Oleh penyair Linus Suryadi AG digambarkan bahwa di Borobudur hanya dijumpai “arca Budha tanpa kepala, tinggal gembung ditempatnya diam terkungkung jagat yang tua”. Menghadapi fenomena Borobudur seperti itu lalu penyair mengajukan pertanyaan retoris Ini seloka atau realita?. Kutipan (50) berikut ini menunjukkan hal itu.

(50)  Di Borobudur
        Hampir tak percaya
        Arca-arca Budha
        tanpa kepala

        Tinggal gembung
        di tempatnya
        diam terkungkung
        jagat yang tua

        Kau menebak
        penuh murka:
        Ini seloka
        atau realita?
(Linus Suryadi AG, “Borobudur”, hal. 74)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat metaforis dan ironis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Ananda”. Penyair dalam teks puisi ini menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis dan ironis. Bait yang terdiri atas kalimat-kalimat metaforis dan ironis itu dipergunakan oleh penyair untuk menyampaikan kritik sosial yang berhubungan dengan masalah etis dan filosofis. “Pasemon” yang berisi kritik tentang ‘perbuatan tak bertanggung jawab’ dikemukakan dengan struktur kalimatif pada teks puisi “Ananda”. Penyair mengangkat persoalan ‘tanggung jawab’ ini dalam dua bait puisi. Pada bait pertama penyair menyatakan pernyataan dalam struktur kalimatif dan pada bait kedua penyair menyampaikan harapan juga dalam struktur kalimatif. Dalam kutipan (51) berikut ini dikemukakan wujud “pasemon” berwujudI berupa bait yang didukung oleh kalimat-kalimat metaforis dan ironis.

(51)  Tak ada anak
        haram jadah
        kecuali bapak
        yang ingkar pengakuan
        ....
        O, anak gothang
        anak-anak Alam
        kenapa mungkret
        kalian pun buah Kehidupan
(Linus Suryadi AG, “Ananda”, hal. 87)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas unsur-unsur kias/lambang berupa kalimat-kalimat ironis dan metonimis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Bilung Grundelan” dan “Kadisobo”. Dalam teks puisi ini penyair menyampaikan “pasemon” dengan bait yang terdiri atas kalimat-kalimat ironis dan metonimis. “Pasemon” yang dikemukakan oleh penyair berisi kritik sosial tentang ketimpangan yang ada di tengah masyarakat. Penyair dalam teks puisi yang berjudul “Kadisobo” mempertanyakan kedamaian bagi kaum petani di dusun Kadisobo, sebuah dusun di daerah Sleman, Jogjakarta: “Kapan kaum tani santai di dusun/tanpa pestisida dan tanpa racun”. Pertanyaan penyair itu hadir dalam bentuk perbandingan-kontras. Pada larik akhir puisinya, penyair menyediakan penjelasan bahwa ‘ketidakdamaian’ petani itu telah terjadi sudah 30 tahun. Bait yang digunakan oleh penyair dalam menyampaikan “pasemon” hanya didukung oleh kalimat-kalimat ironis dan metonimis sebagaimana dapat dicermati dalam kutipan (52) dan (53) berikut ini.

(52) Waduh, nasib awak jadi wong cilik
        Dapat dapukan apa pun tetap kojur
        Ke sini digencet. Ke sana dipepet
        Tak ada yang enak kecuali tidur
        Dasar sial, nyengklak sepeda kejeglong
        Beras kupon 6 bulan di gudang tumpah
        Lha bagaimana, ayam saja ogah nothol
        Ini karyawan dapat bagian. Wah susah!
(Linus Suryadi AG, “Bilung Grundelan”, hal. 104)

(53)  Kapan kaum tani santai di dusun
        tanpa pestisida dan tanpa racun
        tapi itu terjadi sudah 30 tahun
(Linus Suryadi AG, “Kadisobo”, hal. 129)

“Pasemon” berwujud bait yang terdiri atas kias/lambang berupa kalimat-kalimat ironis dan metonimis dapat ditemukan dalam teks puisi gubahan Linus Suryadi AG berjudul “Syair Kali Progo”, “Gandrung Banyuwangi”, “Petruk Kumat”, dan “Himbauan Cangik”. Dalam empat teks puisi tersebut penyair Linus Suryadi AG menyampaikan “pasemon” dengan bait yang didukung oleh kalimat-kalimat metonimis dan ironis. “Pasemon” yang dikemukakan oleh penyair berisi tentang masalah ketimpangan kehidupan yang ada di tengah masyarakat, antara lain bahwa hidup itu kotor (“Syair Kali Progo”), penyelewengan dan perselingkungan (“Gandrung Banyuwangi” dan “Banowati dan Limbuk”), penderitaan (“Petruk Kumat” dan “Himbauan Cangik”). Hal itu dapat dicermati pada kutipan (54), (55), (56), (57), dan (58) berikut ini.

(54)  Hidup seperti kali Progo
         banjir atau tidak banjir
         tak berbeda
         butek dan kotor
         gelap dan tohor
         ....

(Linus Suryadi AG, “Syair Kali Progo”, hal. 29)

(55)  Nanggung duka
        Duda Kasmaran
        Ditingkah nada
        lain senggakan

        “Bisa nyuling
        tak bisa nDemung
        bisa nyanding
        tak bisa ngambung”

(Linus Suryadi AG, “Gandrung Banyuwangi”, hal. 88—89)


(56)  “Kusenang Duryudono. Kucinta Permadi”
        Dendang Banowati di kolam Tamansari:
        “Harta di kanan. Pria jantan di kiri
        Kuingin keduanya pun tampak serasi”
        ....

(Linus Suryadi AG, “Banowati dan Limbuk”, hal. 127)

(57)  “Padi PB, padi IR, padi PB, mbahmu
        Hama wereng saja tidak doyan
        Lha kok orang, disuruh makan”
        Gerutu Kantong Bolong sambil ngeloyor
        ....
        Den mas Petruk jelalatan: “Kamu paham,
        Tanah pun hancur makan obat tanpa aturan”
        Matanya merah, tampaknya kurang tidur
        “Masih grundelan? Babat kontolmu sisan”

(Linus Suryadi AG, “Petruk Kumat”, hal. 132)

(58) ....
        Jadi lonte digaruk. Jadi istri dimadu
        O, hukum dan agama: siapa juru ciptanya?
        Tak ada yang laras dengan akal sehatku
        Disuruh ini disuruh itu, apa aku babu?
(Linus Suryadi AG, “Himbauan Cangik”, hal.: 134)

3. “Pasemon” Berwujud Wacana
“Pasemon” berwujud wacana realisasinya berupa unsur-unsur bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, atau ironis.  “Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya berupa unsur-unsur bait dan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Sajak”. Penyair Subagio Sastrowardoyo menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya berupa sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung oleh sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah posisi (dan fungsi) sajak sebagai buah keindahan di dalam masyarakat. Menurut pemikiran penyair sebuah sajak harus memberikan nilai guna bagi kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini penyair menganut ungkapan dulce et utile—sebuah karya sastra selain indah harus memberikan manfaat bagi anggota masyarakat. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (59) berikut ini.

(59)  Apakah arti sajak ini
        Kalau anak semalam batuk-batuk,
        bau vicks dan kayu putih
        melekat di kelambu.
        Kalau istri terus mengeluh
        tentang kurang tidur, tentang
        gajiku yang tekor buat
        bayar dokter, bujang dan makan sehari.
        Kalau terbayang pantalon
        sudah sebulan sobek tak berjahit.
        Apakah arti sajak ini
        Kalau saban malam aku lama terbangun:
        hidup ini makin mengikat dan mengurung.
        Apakah arti sajak ini:
        Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
        pelarian kecut ke hari akhir?
(Subagio Sastrowardoyo, “Sajak”, hal. 6)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Doa Seorang WTS”. Penyair menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang realisasinya berupa sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah etis dan religius. Menurut penyair, seorang WTS yang merasa dirinya kotor dan penuh dengan dosa, secara ironis, berharap tetap kotor dan berdosa. Harapan itu disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengampun terhadap berbagai hal yang dilakukan oleh aku lirik yang berprofesi sebagai WTS itu. Semua itu dikemukakan oleh penyair dengan wacana yang didukung bait dengan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Akibatnya, kesan tragis-ironis mendominasi seluruh wacana puisi ini. Hal itu dapat dicermati pada kutipan (60) berikut ini.

(60)  Tuhan, jangan harapkan saya sempurna.
        Kesucian saya tak mungkin bisa pulih.
        Laki saya kerja di pabrik rokok. Yang
        dibawa pulang saban bulan cuma
        10.000. Selebihnya dihabiskan di mainan
        judi buntut. Sedang anak-anak masih
        kecil, tiga. Yang sulung baru kelas dua
        SD. Mereka perlu makan, perlu obat
        kalau sakit. Belum lagi pakaian
        untuk lebaran, hiburan ke kebun binatang.
        Mana bisa cukup uang segitu.
        Pernah saya coba jualan kain di pasar
        dan menjaga toko juragan beras. Tapi hasilnya
        cuma pas-pasan. Badan saya jadi kurus
        tidak terpelihara. Lalu saya beginilah jadinya.
        Sekali-kali saya diajak hidung belang
        ke Jakarta bermalam di hotel mewah.
        Lumayan pendapatannya. Berapa sudah
        lelaki yang sempat tidur sama saya.
        Bisa saya renteng sepanjang jalan dari
        Solo ke Yogya. Saya tidak sedih,
        tidak berkeluh kesah. Justru ini
        nasib yang saya pilih. Saya tidak perduli
        pada neraka. Yang saya cari cuma sorga.
        Bilanglah mana yang disebut dosa
        kalau memang butuh menyambung nyawa.
        Ah, Tuhan, jangan harapkan saya sempurna.
(Subagio Sastrowardoyo, “Doa Seorang WTS”, hal. 97)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atasnsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi”. Penyair menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah hilangnya keharmonisan (keindahan) akibat ketidakadilan, kekerasan, pemaksaan kehendak, perbuatan korup, dan kesedihan. Dalam konteks seperti itu penyair dengan cara “pasemon” menyampaikan kritik sebagaimana kutipan (61) berikut ini.

(61)  Keindahan punah dari bumi
        ketika becak-becak dicemplungkan
        ke laut karena bang becak melanggar
        peraturan DKI
        ketika rakyat berbondong-bondong
        digusur dari kampung halamannya
        yang akan dusulap jadi real estate
        dan pusat rekreasi
        ketika petani dipaksa tanam tebu
        buat pabrik-pabrik, sedang hasil
        padi dan kedelai lebih mendatangkan
        untung dari rugi
        ketika truk-truk di jalan raya dicegat
        penegak hukum yang langsung meminta pungli
        ketika keluarga tetangga menangisi kematian
        anaknya korban tabrak lari.
        Aku tidak bisa menulis puisi lagi
        sejak keindahan punah dari bumi.

(Subagio Sastowardoyo, “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi”, hal.  98)
“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Kisah-kasih”. Penyair menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah sumber ilham bagi penciptaan puisi. Menurut pemikiran penyair, sumber ilham yang tidak ada habisnya dalam penciptaan puisi adalah masalah penderitaan manusia. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati pada kutipan (62) berikut ini.

(62)     Sehabis bersayangan kasihku
           kembali turun ke pinggir kali.
               Gubug reyot bertiang bambu
           harus dibagi dengan abangnya
           si tukang becak dan adiknya masih
           bayi.
               Maknya jarang nampak, sepanjang
           jalan mungut puntung rokok sedari
           pagi.
               Kasihku lekas dewasa.Dia baru
           enam belas tapi sudah berkali-kali
           lihat maknya membawa lelaki pulang
           dan tidur di bilik tanpa pintu. Apa
           peduli, sejak itu dia sendiri suka
           ngerjakan begitu.

               Sebulan ini dia kena dingin angin malam

           dan batuk-batuk seperti tak bakal bisa
           sembuh. Bau masam dari mulutnya nyengat
           hidung lelaki yang didekatinya.
               Kalau kasihku mati aku akan kehi-
           langan sumber ilham buat bikin puisi,
           dan penyair tak punya arti. Lantas aku
           boleh minum baygon dan tersuruk di
           kubangan penuh tai.
(Subagio Sastrowardoyo, “Kisah-kasih”, hal. 99)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Paskah di Kentucky Fried Chiken”. Penyair menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyam-paikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah penderitaan dan pengorbanan manusia. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati pada kutipan (63) berikut ini.

(63)  Bagaimana akan makan ayam goreng ini
        kalau tiba-tiba aku melihat bayi
        menangis di gendongan—karena lapar
        dan perempuan kurus mengorek sisa roti
        di tong sampah di muka restoran?
        Coca cola terasa kesat di tenggorokan
        ketika teringat kepada muka-muka ceking
        dirubung lalat hijau di gurun pasir.
        Kapan akan berakhir musim kemarau
        di sebelah selatan?—Makhluk terkapar!
        Mari, potong-potonglah tubuhku
        dan nikmati dagingku—roti yang paling putih
        dan darahku—anggur yang paling murni
        sampai tinggal hanya tulang-belulangku lunglai
        terkulai di dahan.
        Eli, Eli, lama sabakhtani—Tuhan, Tuhanku,
        mengapa kami kau terlantarkan?

(Subagio Sastrowardoyo, “Paskah di Kentucky Fried Chiken”, hal. 102)

“Pasemon” berwujud berupa wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Salam Kepada Heidegger”. Penyair menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran filosofis yang berhubungan dengan masalah arti kehidupan. Pemikiran filosofis tentang arti kehidupan itu dikemukakan oleh penyair dengan perumpamaan sebuah sajak, seperti kutipan (64) berikut ini.

(64)  Sajak tetap rahasia
        bagi dia yang tak pernah
        mendengar suara nyawa.
        Kata-kata tersembul dari alam lain
        di mana berkuasa sakit, mati
        dan cinta. Kekosongan harap
        justru melahirkan ilham
        yang timbul-tenggelam dalam arus
        mimpi. Biarlah terungkap sendiri
        makna dari ketelanjangan bumi.
        Masih adakah tersisa pengalaman
        yang harus terdengar dalam bunyi?
        Sajak sempurna sebaiknya bisu
        Seperti pohon, mega dan gunung
        yang hadir utuh tanpa bicara.

(Subagio Sastrowardoyo, “Salam Kepada Heidegger”, hal. 103)
“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo berjudul “Di Seberang Mimpi”. Penyair  menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran filosofis yang berhubungan dengan masalah keterbatasan manusia dalam memahami kehendak Sang Maha Pencipta. Wacana yang didukung sebuah bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati pada kutipan (65) berikut ini.

(65)       Di seberang mimpi dari gerak-gerikmu
        aku tahu kau ingin mengajak berhubungan
        dan bicara. Tetapi kau seperti gagu.
        Bahasamu tak kutangkap sepatah kata. Nampak
        berlinang air mata.
              Sosok asing! tanda-tanda isyarat
        hanya dikenal orang yang satu dunia.] Dari
        sini getaran suara tidak mengalamatkan
        makna yang sama.
             Aku dilahirkan dari lumpur. Aku harus
        diciptakan dari sinar cahaya supaya
        aku bisa menembus kabut mimpi dan mengerti
        apa yang hendak kau katakan kepadaku.
(Subagio Sastrowardoyo, “Di Seberang Mimpi”, hal. 119)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Rekes”. Penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang didukung bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang didukung bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran filosofis yang berhubungan dengan masalah harapan manusia. Penyair Goenawan Mohamad dalam wacana puisi “Rekes” menggunakan struktur kalimatif yang berasal dari idiom doa dalam agama Nasrani. Idiom doa dari agama Nasrani itu oleh penyair Goenawan Mohamad “dibelokkan” untuk mewadahi gagasan yang ingin disampaikan. Perlu pula dikemukakan bahwa penggunaan idiom doa dari agama Nasrani itu difungsikan sebagai pengantar atau titik tolak penyampaian gagasan berikutnya. Penyair Goenawan Mohamad mengungkapkan harapan aku lirik dalam bentuk doa kepada Tuhan dengan  kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis seperti dalam kutipan (66) berikut ini.

(66) Perkenankanlah tangan-Mu
        kucium
        pada piring ransum

        Kehendak-Mu
        memang jadi: hari ini
        hanya ada nasi basi
        tak ada amnesti

        Tak ada senyum untuk umum pagi hari
        Tak ada apel
        Tak ada burung
        (di luar sel)
        Tak ada kopi
        Tak ada siul
        Tak ada izin
        untuk tak menanti
        (Tak ada juga eksekusi)
        ....
        Amin.
(Goenawan Mohamad, “Rekes”, hal. 50)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Buat HJ”. Penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah keterbatasan ilmu untuk memahami kesenian. Wacana yang terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati pada kutipan (67) berikut ini.

(67)  Dengan teropong Galilei
        kulihat  bintang mati
        kulihat planet-planet putih
        menyisihkan diri

        Kulihat juga cakrawala hitam
        bergerak seperti malam
        dan burung ketinggalan
        dalam hujan menggeram

        “Anakku.”
        “Bapak.”
        “Mungkin aku melihatmu.”
        “Tidak, Bapak.”
(Goenawan Mohamad, “Buat HJ”, hal. 79)
“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur berupa bait dan kalimat-kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks gubahan Goenawan Mohamad puisi berjudul “Dongeng”. Penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhu-bungan dengan masalah pendidikan budaya. Wacana yang realisasinya berupa bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis tersebut dapat dicermati pada kutipan (68) berikut ini.

(68)  Seekor kuda sembrani hilang
        ke  dalam pelepah-pelepah pisang.
        Para peri kemudian mencucinya
        dengan hujan hampir malam

        Tapi darah itu masih membekas
        dari  kelangkang si penunggang (yang tewas).
        Ibu, telah kau kalahkan aku.
        Kulihat gerimis itu, dan mimpiku membeku.
(Goenawan Mohamad, “Dongeng”, hal. 83)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsur-unsur bait dan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks puisi gubahan Goenawan Mohamad berjudul “Sirkus”. Penyair Goenawan Mohamad menyampaikan “pasemon” dengan wacana yang terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis. Wacana yang terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan masalah fenomena tingkah laku manusia dalam kehidupan. Wacana yang realisasinya terdiri atas bait dengan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis itu dapat dicermati pada kutipan (69).

(69)  Kudengar seseorang bersenandung
        di belakang panggung,
        seseorang menghilang
        ke dalam ruang rias,
        menghapus pupur pada paras.
        Seperti menghapus jejak.
        Seperti menguliti ingatan.
        Menguliti hati.
        “Ini,” katanya, “akan mengubah kita
        jadi kenyataan. Sirkus adalah sebuah mimpi”.

        Sirkus: sebuah mimpi.

        Tapi di luar, kenyataan merayau batas. Seperti kejaran
        desir hujan
        pada permukaan kolam:
        rutin air yang seakan membentuk bekas,
        beribu lingkaran.
        Riak, kilau, biru.
        Mungkin juga bunyi. Janji.
(Goenawan Mohamad, “Sirkus”, hal. 20—22)

“Pasemon” berwujud wacana yang realisasinya terdiri atas unsure-unsur berupa bait dan kalimat metaforis, metonimis, dan ironis terdapat pada teks-teks puisi karya Darmanto Jatman berjudul “Tak Ada Lagi yang Mengurus Puisi Sekarang”, “Nasihat Seorang Politikus kepada Sahabatnya Penyair”, “Pada Waktu Politik Mempersetankan Kemanusiaan”, “Tentang Benteng-benteng Kota Kita, Sungguhkah Ada Perlunya?”, “Pidato Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa KKN di Desanya”, dan “Golf untuk Rakyat”.
Hal menarik yang perlu dicatat dari puisi-puisi DJ tersebut adalah “pasemon” yang dikemukakan dapat mulai dikenali dari judul puisi. Pada wacana puisi “Nasihat Seorang Politikus kepada Sahabatnya Penyair” berisi “pasemon” yang ditujukan kepada kalangan penyair yang biasanya bersikap skeptis, apatis, dan mudah putus asa. Wacana puisi ini terdiri atas satu bait yang di dalamnya terdapat kalimat-kalimat metaforis untuk mengungkap-kan “pasemon”. Dari mulut politikus, muncul nasihat agar penyair dapat bersikap optimis dalam menghadapi realitas hidup dan kehidupan seperti kutipan (70) berikut ini.

(70) tentang kenyataan dunia ini saudara optimislah
       karena seorang kanak-kanak
       telah menjajakan es lilinnya
       sementara mulutnya yang mungil
       tiada berhenti juga
       menyanyi
       menuruti langkah kakinya

                     (Darmanto Jatman, “Nasihat Seorang Politikus kepada Sahabatnya  Penyair,hal. 37)

Dalam teks puisi karya Darmanto Jatman lainnya, yakni “Tak Ada Lagi yang Mengurus Puisi Sekarang” berisi “pasemon” tentang hidup yang sepi sebagai akibat tiadanya perhatian pada puisi dan perhatian hanya ditujukan pada kepentingan politik. Dalam teks-teks puisi “Pada Waktu Politik Mempersetankan Kemanusiaan”, “Tentang Benteng-benteng Kota Kita, Sungguhkah Ada Perlunya?”, “Pidato Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa KKN di Desanya”, dan “Golf untuk Rakyat” penyair Darmanto Jatman menyampaikan “pasemon” dalam bentuk wacana puisi yang di dalamnya terdapat kalimat dan bait metaforis, ironis, dan metonimis tentang kesepian, kehampaan, kegetiran akibat ulah politik (baca: penguasa) yang tidak memperhatikan kemanusiaan; dan kritik tentang kebijakan penguasa yang salah arah.
Penyair Indonesia beserta dengan karya puisinya, ternyata telah menunjukkan kemampuannya yang istimewa dalam menggunakan “pasemon”, baik dalam bentuk kalimat, bait, maupun dalam bentuk wacana. “Pasemon” itu dapat hadir dalam berbagai manifestasinya, yang menurut Sapardi Djoko Damono (1999:152), “dengan menggunakan ironi, paradoks, kontras, dan acuan di samping memanfaatkan aspek bunyi seperti kesejajaran dan pengulangan untuk memadatkan cara penyampaian”.
Wujud bahasa “pasemon” merupakan perwujudan “pasemon” yang terealisasi dalam bentuk struktur bahasa dan didukung unsur-unsur kias dan lambang yang bersifat metaforik, metonimik, dan ironik. Bentuk struktur bahasa “pasemon” dalam teks puisi merupakan wujud formal bahasa yang ditandai oleh adanya karakteristik penuturan tidak langsung yang berisi sindiran, kritikan, ejekan, ironi, dan lain-lain. Salah satu karakteristik struktur bahasa “pasemon” ialah berupa penuturan tidak langsung karena menggunakan bahasa kias dan simbol dalam penyampaiannya. Penuturan tidak langsung itu diwujudkan dalam wujud kalimat (sintaksis), bait, atau wacana. 

Hal yang menarik digarisbawahi dalam hubungannya dengan penggunaan bahasa Indonesia adalah penyair Indonesia dalam mengemas “pasemon” menggunakan kalimat, bait, dan wacana puisi. Pertama, “pasemon” yang disajikan dalam wujud  kalimat terdapat pada 35 teks puisi, dengan rincian 13 puisi karya Sapardi Djoko Damono, 10 puisi karya Subagio Sastrowardoyo, 10 puisi karya Goenawan Mohamad, 4 puisi karya Linus Suryadi AG, 2 puisi karya Rendra, dan 1 puisi karya Darmanto Jatman. Kedua, “pasemon” yang disajikan dalam wujud bait terdapat pada 28 buah teks puisi, dengan rincian 13 karya Linus Suryadi AG, 6 puisi karya Rendra, 4 puisi karya Subagio Sastrowardoyo, 3 puisi karya Sapardi Djoko Damono, dan 2 puisi karya Goenawan Mohamad. Ketiga, “pasemon” yang disajikan dalam keseluruhan teks puisi atau wacana terdapat pada 16 buah wacana puisi, dengan rincian 7 puisi karya Subagio Sastrowardoyo, 5 puisi karya Darmanto Jatman dan 4 puisi karya Goenawan Mohamad. Ketiga hal itu mengandung arti bahwa dominasi penggunaan “pasemon” berwujud kalimat berupa metafora, metonimi, atau ironi pada teks puisi Indonesia dapat dimaknai bahwa para penyair Indonesia menggunakan bentuk struktur dan unsur kalimat untuk mendukung pengungkapan gagasan secara tidak langsung, yakni menggunakan kias/simbol dan gaya bahasa lainnya. Penggunaan bait untuk mewadahi “pasemon” frekuensinya lebih sedikit dibanding penggunaan kalimat. Penggunaan wacana untuk menyampaikan “pasemon” hanya dilakukan oleh tiga penyair, yakni Subagio Sastrowardoyo, Darmanto Jatman, dan Goenawan Mohamad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar